44. Antara Tugas dan Sial

3.5K 112 26
                                        


-Happy Reading-



"Ra!"

Sebuah sikutan pelan mendarat di lengannya, disusul bisikan panik yang memaksa kesadaran Akira kembali ke lapangan upacara. Matanya mengerjap linglung.

"Kenapa sih, Bul? Ngagetin aja," bisik gadis itu sembari mengusap lengannya.

Bulan berdecak gemas. "Harusnya gue yang nanya gitu! Dari tadi lo aneh banget, bengong mulu!" Suaranya tertahan di tenggorokan, sementara matanya melirik waswas ke arah guru piket yang berjaga di dekat barisan.

Tepat di sebelah kanan, Cia mencondongkan tubuh dengan tatapan penuh selidik. "Dari awal upacara kamu cuma nunduk, Ra. Dipanggil nggak respons. Kamu... kayak nggak di sini."

Akira terdiam. Tarikan napasnya mendadak terasa berat. Ia mencoba meredam kebisingan aneh di kepalanya, suara-suara dari masa lalu yang datang lagi tanpa izin.

"Lo nggak enak badan?" Mila yang berdiri di belakang Akira berbisik lembut. Tangannya terulur singkat, menyentuh tengkuk sahabatnya

"Cuma pusing biasa. Gue... belum sarapan," Jawaban klasik. Murahan. Biasanya cukup untuk membungkam orang lain, kecuali Mila. Gadis itu terlalu paham kapan Akira jujur dan kapan ia bersembunyi di balik kalimat sederhana.

"Kalau ada apa-apa, bilang. Jangan ditahan sendiri," bisik Mila penuh penekanan.

Akira hanya mampu mengangguk kecil dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Gue aman, Mil..."

"Kalian ini apa tidak bosan dihukum terus?!"

Bentakan lantang Pak Anang dari arah podium seketika membelah suasana. Keheningan upacara pecah, berganti riuh bisik-bisik yang merambat cepat ke area 'Jalur Tobat' di sisi lapangan. 

Di sana, anggota inti King Cobra berdiri dengan gestur yang jauh dari kata sopan. Terlihat santai, nyaris menantang, seolah amukan barusan hanyalah musik latar yang lewat begitu saja. Belum sempat gosip meluas, suara berat Pak Anang kembali menggema melalui pelantang suara.

"Akira Putri Qhanaya! Wakil Ketua PMR angkatan 22, maju ke depan sekarang!"

Akira membeku. Otaknya butuh beberapa detik untuk mencerna namanya baru saja dipanggil di depan ribuan siswa. 

"Beneran gue?!" tanya Akira, suaranya agak bergetar beralih pada Mila.

"Udah, buruan maju sana, Ra. Nanti Pak Anang makin ngamuk," Mila mendorong punggungnya pelan.

Dengan langkah berat, Akira keluar dari barisan. Pandangannya bergoyang ringan saat melangkah membelah lapangan upacara. Kenapa harus wakilnya? Biasanya juga si ketua yang maju, batinnya merutuki nasib sialnya hari ini.

Tepat saat langkahnya menyentuh area depan podium, dekat dengan barisan Jalur Tobat, mata Akira tidak sengaja menangkap sosok Fenzo. 

Pemimpin King Cobra itu tampak berantakan; wajahnya penuh lebam keunguan, sudut bibirnya robek, dan ada bercak darah yang merembes di punggung seragam putihnya.

Kejutan visual itu, ditambah hawa panas lapangan yang menyengat, menjadi pukulan terakhir yang menghantam sisa pertahanan tubuh Akira. Pandangannya mendadak menggelap total. Warna-warni lapangan upacara melenyap dalam sekejap, digantikan hitam pekat.

Tubuh Akira lemas, ambruk kehilangan kesadaran ke arah depan.

"AKIRA!" Teriakan panik Mila dan Bulan spontan memecah barisan kelas mereka.

Lapangan upacara langsung gempar. Pak Anang di atas podium melotot kaget, baru saja hendak memerintahkan anak PMR lain untuk bergerak, namun sebuah gerakan refleks di bawah podium mendahului semua orang.

Fenzo.

Cowok yang sejak tadi berdiri angkuh memegangi perutnya yang cedera itu bergerak tanpa berpikir dua kali. Masa bodoh dengan rasa perih yang luar biasa menembus punggungnya saat membungkuk, Fenzo bergerak secepat kilat menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Akira, lalu menyentak gadis itu ke dalam dekapan dadanya tepat satu detik sebelum kepala Akira menghantam paving blok.

Kreeek.

Fenzo menggeram rendah, giginya berantuk rapat menahan rasa sakit yang luar biasa di punggungnya yang terluka parah. Luka robek di belakang seragamnya dipastikan kembali menganga dan merembeskan darah segar karena dipaksa mengangkat beban. Namun, cengkeramannya pada tubuh Akira sama sekali tidak melonggar.

"Fenzo! Kamu terluka, biar yang lain—" teriak Pak Anang panik dari atas podium, tangannya menunjuk heboh.

"Kelamaan," potong Fenzo dingin dan tajam.

Tanpa memedulikan instruksi guru atau ribuan pasang mata siswa yang melotot tidak percaya, Fenzo membetulkan posisi Akira dalam gendongan bridal style. Dengan langkah lebar yang dipaksakan tetap tegak—meski rahangnya mengeras menahan nyeri yang mematikan—ia membawa Akira pergi meninggalkan lapangan menuju UKS. Aroma manis stroberi dari rambut gadis yang pingsan di dadanya itu menjadi satu-satunya fokus yang menahan kesadaran Fenzo agar tidak ikut tumbang.

Di barisan paling belakang, pemandangan dramatis itu sukses membuat sisa anak-anak King Cobra melongo berjamaah.

"Gue nggak salah liat, kan?" bisik Daren dengan mata melotot horor. "Itu si Bos punggungnya abis kena hantam balok semalam, kok bisa-bisanya dapet refleks dewa begitu?!"

Raden mengusap wajahnya yang mendadak ikut tegang melihat noda darah yang makin melebar di seragam putih pemimpin mereka. "Totalitas demi pawang baru itu mah. Tadi gue senggol dikit aja dia udah mau matahin tangan gue karena kesakitan. Sekarang? Malah jadi pahlawan kesiangan."

"Itu namanya power of love, bego," timpal Satria, langsung membuang permen karetnya karena syok. "Fix, modus tingkat tinggi. Si Bos rela jahitannya lepas demi keliatan keren di depan gebetan."

"Ayo taruhan," Deco menimpali, mencoba mencairkan ketegangan dengan kerlingan licik. "Kalau setelah kejadian gendong-gendongan di depan umum begini mereka nggak jadian dalam seminggu, gue traktir makan besar di Mang Abi sampai mampus."

"DEAL!" sahut mereka serentak, setengah berbisik waswas.

Hanya Abimanyu yang tetap diam di posisinya. Matanya menatap lekat bercak darah di punggung seragam Fenzo yang kian melebar seiring langkah cowok itu menghilang di lorong kelas. Sebuah senyum tipis penuh arti muncul di wajahnya.

"Kita lihat aja," gumam Abimanyu nyaris tak terdengar. "Sejauh mana lo bakal bertahan dengan luka itu demi mainin karakter lo ini, Zo."


Next ga nih?🙇‍♂🙆‍♀
-
-
-
-
-
-

Sabar tapi yank!💙🧚‍♀🙏





Senyum dulu yuk yang baca, biar tambah cantik🤙💅

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang