18. Mie Viral, Harga Diri Hilang

5.1K 224 15
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••

"Mending kita jalan-jalan aja hari ini! Lupakan semua beban hidup, ayo senang-senang mumpung libur!" seru Bulan penuh semangat, menepuk paha Akira yang meringkuk di karpet seperti sushi gulung gagal.

Sahutan pelan terdengar dari balik selimut, "Lo udah izin ke Bunda gue belum? Ntar dikira gue hilang lagi kayak kemarin"

Bulan melirik ke arah Mila yang sibuk menggulung charger ponselnya. "Noh, tanya ke Umi Mila. Dia yang urus bagian diplomasi keluarga."

Tanpa menoleh, Mila menjawab santai tapi nadanya menusuk, "Gue cuma bilang ke Bunda, 'Akira aman Bun, jangan khawatir.' Gak ada kontrak bakal ngembaliin lo utuh."

Selimut langsung tersingkap. "WOI! Maksud lo apa, Mi?!" seru Akira dengan ekspresi setengah tidur, setengah kesal.

Sebelum sempat ada yang menengahi, suara kunyahan renyah terdengar dari arah meja rias. Cia duduk di sana, pipinya menggembung seperti hamster kelebihan stok makanan.

"Mmmh... kalau gitu, mending kita ke tempat mie viral yang kemarin batal aja!" katanya setengah tidak jelas, sambil menepuk bungkus biskuitnya.

Tiga pasang mata menatapnya. Akira lebih dulu mendesis, "Dek Cia... bisa TELAN dulu nggak sebelum ngomong? Gue takut biskuit lo mental ke muka gue."

Bulan mengangguk paling antusias, "Tapi idenya valid! Gue udah ngidam mie itu dari minggu lalu!"

"Kalian emang hobi banget nyari masalah, ya?" gumam Mila datar. "Kalo nanti bibir lo semua pada bengkak kayak odol kepegang setrika, jangan ngerengek ke gue!"

Bulan dan Akira saling pandang, lalu tos di udara penuh semangat. "DEAL!"

"Tiap kali kalian kumpul, pasti ada masalah baru... tapi kenapa gue tetep mau ikut, ya?"

Bulan langsung melingkarkan lengan di bahunya, "Karena lo sayang sama kita, Mil. Ngaku aja."

Mila hanya mendengus kecil kemudian membuka pintu, "Sayang apaan, gue cuma kasihan."

"ALASAN!" seru tiga suara bersamaan.



•••••°°🍁°°•••••



Nomor antrean 95 akhirnya terpanggil. Setelah hampir setengah jam menunggu sambil mengeluh lapar dan ngantuk. Keempat gadis itu akhirnya duduk disudut warung mie viral yang sedang sesak seperti konser gratis.

Aroma sambal, minyak cabai, dan daun jeruk menyerang hidung tanpa ampun. Pedasnya bahkan terasa sebelum sendok menyentuh bibir.

"Gila, ini sih worth it banget," ujar Bulan sambil menatap semangkuk mie yang masih mengepul di hadapannya. "Cuma demi ini, gue rela antri sejam setengah bejir..."

Akira sudah siap dengan sumpit di tangannya, matanya berbinar penuh gairah hidup. "Kalau ini nggak enak, gue beneran minta refund ke semesta!"

Cia yang duduk di sebelahnya sibuk memotret dari berbagai angle. "Caption: 'Mie yang lebih panas dari mantan.' Fix meledak..."

Di tengah suasana santai itu, tawa receh Bulan tiba-tiba berhenti. Tangan yang memegang sumpit perlahan turun, dan matanya menatap ke arah pintu masuk warung.

"Ra..." bisiknya pelan. "Lihat deh, itu... mereka, kan?"

"Hah? Siapa?" Akira masih sibuk meniup mie panasnya, tanpa menoleh. Sementara Mila dan Cia sudah refleks memutar kepala.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang