-Happy Reading-
.
.
.
.
•••••••°°💙°°•••••••
Gedung tua di pinggiran kota itu tampak seperti rongsokan beton dari luar, namun di dalamnya, sisa-sisa kejayaan masa lalu masih terasa.
Di atas meja kayu panjang, beberapa jaket bomber hitam dengan bordiran naga merah yang melilit api di bagian punggung, tampak menyala karena cahaya lampu gantung.
"Tiga tahun..." Brian memungut salah satu jaket, lalu mengusap lambang naga itu dengan ibu jarinya. "Gue pikir kita udah jadi legenda urban doang, yang diceritain orang-orang sambil gemeteran."
"Gue hampir jual jaket ini ke toko thrifting bulan lalu karena bokek," celetuk Ares sambil menyeringai, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Untung nggak laku karena bordirannya terlalu sangar."
"Jangan banyak bacot. Pakai," potong Akira singkat. Suaranya rendah, namun otoritasnya mampu membuat semua orang di ruangan itu terdiam.
Vanya menyampirkan jaketnya ke bahu, matanya menatap Akira lekat. "Ra, sekali kita pakai jaket ini lagi, nggak ada jalan buat pulang dengan baju bersih. Lo yakin?"
"Dunia lagi berisik, Van. Dan gue benci kebisingan yang nggak ada gunanya," jawab Akira dingin sambil mengenakan jaketnya. Satu tarikan ritsleting, dan auranya terbungkus oleh kegelapan Dragon Fire.
Cia berjuang memakai jaketnya yang kebesaran. "Ra, aku beneran nggak kelihatan kayak krupuk blek yang dibungkus plastik hitam, kan? Kok berat banget ya, apa naganya minta makan seblak dulu?"
"Lo kelihatan kayak naga yang baru keluar dari inkubator, Ci. Diem deh," balas Bulan ketus, meski ia sendiri sibuk merapikan kerah jaketnya dengan bangga.
Putra yang sedari tadi diam di sudut sofa, akhirnya berdiri. Ia memakai jaketnya perlahan, seolah sedang memikul beban masa lalu. "Kalau Dragon Fire bangun, bukan cuma satu kubu yang bakal terganggu. Lo tahu itu, kan?"
"Bagus," Akira menyeringai tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Biar rame sekalian. Gue bosen main petak umpet."
Zayyan berdeham kuat, mengalihkan perhatian semua orang ke meja di mana laptopnya sudah menyala. "Oke, sesi nostalgia-nya selesai. Sekarang kita masuk ke bagian intinya.
Pemuda itu memutar laptopnya menghadap mereka. "Gue mau bahas soal Antareja kemarin. Selain Bintang, Bulan, dan cowok yang nyium lo kemar—"
BRAKK!
Akira menggebrak meja kayu itu hingga debu kembali beterbangan. Bibirnya berkedut menahan emosi, setengah malu juga karena diingatkan pada bibir "udang busuk" itu.
"Satu kata lagi soal kejadian itu, gue pastiin lidah lo yang bakal gue jadiin sate besok pagi, Zay!" desis Akira tajam.
Zayyan mengangkat tangan, tanda menyerah. "Oke, oke! Poinnya bukan di situ! Fokus lagi ke layar ini!"
Layar menampilkan siluet seseorang berdiri di balik pilar, hanya beberapa meter dari keributan Bintang dan Fenzo saat itu. Diam. Mengamati.
Itu bukan Bulan. Postur dan caranya berdiri terlalu asing. Saat gambar diperbesar, sebuah lambang terlihat jelas di lengan jaketnya.
"Lambang itu cuma dipakai anggota inti King Cobra." celetuk Bulan, membuat mereka semua menatap kearahnya.
"Masalahnya, itu bukan Fenzo," potong Akira. Matanya menyipit, memperhatikan postur tubuh orang di video tersebut. "Fenzo ada di tengah arena lagi kesetanan. Orang ini cuma...mantau."
"Lo tahu dari mana detail beginian?" pertanyaan Vanya yang tiba-tiba, membuat Bulan kembali menjadi pusat perhatian.
"Abimanyu,"
Cia membulatkan kedua matanya, "Sejak kapan kamu deket sama Kak Abim??"
Akira berdeham singkat, yang pastinya membuat semuanya diam dan kembali fokus ke arah laptop.
"Dan liat ini," Zayyan mempercepat rekaman. Saat Akira menarik kerah hoodie Fenzo dan mereka terjatuh, orang di balik pilar itu mengeluarkan ponselnya, lalu pergi lewat pintu belakang tepat sebelum Bintang meninggalkan gedung.
Brak
"Bangsat!" desis Akira.
Pandangannya beralih menatap teman-temannya satu per satu. "Zay, lacak koordinat ponsel yang aktif di area Antareja jam segitu. Dan yang lain... bersiap. Kita cari tahu siapa ular yang berani main api di depan naga."
••••••°°🍁°°••••••
Asap liquid rasa kopi mengepul tebal di sudut markas King Cobra. Suara dentuman musik techno yang rendah beradu dengan denting botol soda, menciptakan atmosfer yang biasanya santai, namun entah kenapa malam ini sedikit lebih berat.
"Tadi, gue nggak sengaja papasan sama geng motor di jalan lingkar," celetuk Daren sambil melempar kunci motornya ke meja.
Raden, yang sedang asyik melempar koin ke dalam kaleng kosong, langsung menyahut tanpa menoleh, "Ya terus masalahnya di mana, Nyet? Jalanan Bandung bukan cuma punya King Cobra! Lo kayak baru liat motor dua roda aja."
Daren menghela nafasnya kasar. "Masalahnya, gue belum pernah liat mereka. Hampir semua unit di Bandung gue tahu track record-nya. Tapi yang ini... asing. Dan auranya itu... beda."
Satria berhenti mengasah pisau lipatnya. "Emang lambangnya apa? Masa intel kayak lo bisa kecolongan?"
"Naga dililit api," balas Daren pendek.
Seketika, pergerakan di ruangan itu membeku. Raden membiarkan koinnya jatuh ke lantai dan menggelinding tak tentu arah. Semuanya menoleh serempak ke arah Daren dengan tatapan sulit diartikan.
Di sudut paling gelap, salah satu di antara mereka mengepalkan tangannya di balik saku jaket. Buku jarinya memutih, menahan desakan emosi yang tiba-tiba meluap mendengar lambang itu.
"Lo nggak salah liat? Naga dililit api?" tanya Raden memastikan, wajahnya berubah pucat pasi.
Daren hanya mengangguk mantap. "Gue liat jelas di punggung jaket bomber mereka. Bordirannya... keliatan baru, tapi auranya udah lama."
"Dragon Fire..." desis Fenzo. Suaranya rendah, menggetarkan udara di ruangan itu. Ia bersandar di kursi kebesarannya, memutar pod di sela jari dengan ritme yang lambat.
"Mereka bangkit lagi," lanjut Abimanyu dengan seringai tipis.
Deco bahkan sampai tersedak ciloknya. "Dragon Fire? Gilak! Mereka beneran balik lagi!?"
"Siapa leader-nya?" tanya Fenzo tiba-tiba. Suaranya datar, namun mengandung tuntutan yang mutlak.
Abimanyu mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Sejak mereka terbentuk tiga tahun lalu, nggak ada yang tau siapa leader-nya. Bahkan, jumlah anggotanya ada berapa masih belum pasti. Mereka semua, bayangan..."
Fenzo mengembuskan uap putih yang menutupi separuh wajahnya. "Kalau bayangan itu mulai muncul ke permukaan, ada sesuatu yang mereka incar. Dan gue nggak akan biarin 'sesuatu' itu adalah King Cobra."
Abimanyu menurunkan kakinya dari sandaran kursi, pandangannya lurus kearah Raden. "Anak-anak udah lo kabarin?"
Pemuda itu mengangguk pelan. "Udah. Gue minta mereka kumpul besok pagi aja, bukan malam ini."
••••••°°🌟°°••••••
T-B-C
•
•
•
•
Next!
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Novela JuvenilTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
