-Happy reading all-
💙
▪
▪
▪
•••••°°•••••
"King Cobra!" Suara Fenzo dalam, bergema seperti aba-aba terakhir sebelum perang pecah.
Semua anggota yang ada di belakangnya serentak mengangkat kepala.
"Sikat habis. Tanpa sisa!"
Tak butuh waktu lama, Scorpion membanjiri area parkiran, memenuhi sisi kiri dan kanan. Sementara King Cobra langsung menyebar, formasi otomatis yang sudah bertahun-tahun mereka hafal.
Pemuda mulai bergerak, tidak terburu-buru, namun langkahnya penuh bobot dan ancaman. Bintang menyambut dengan seringai lebar, seolah Fenzo adalah boneka yang siap ia koyak.
"Mati lo!" teriak Bintang, meluncurkan tinju cepat yang diakhiri putaran siku mematikan.
Fenzo menghindar dalam jarak sehelai rambut, lalu memberi tendangan lurus ke tulang kering lawannya sampai terhuyung.
"Lumayan, Ketua," bisik Bintang, napasnya mulai tersengal. Ia meluncurkan takedown cepat, mengincar untuk menjatuhkan Fenzo ke aspal.
Dengan tenaga yang luar biasa, Fenzo membalikkan keadaan. Dia mendorong Bintang ke belakang sampai menghantam salah satu motor.
Di lain sisi, Daren bergerak paling beringas seperti banteng gila. Setiap pukulannya adalah palu godam yang menghancurkan tulang.
"Ini buat yang bilang gue bocah, keparat!" raungnya, menginjak dada salah satu musuh hingga kesulitan bernapas.
Sementara di tengah kerumunan, Raden memindai setiap kelemahan musuh. Dia bukan petarung, melainkan manifestasi amarah mentah. Lupakan teknik, yang ada hanya naluri untuk merusak dan menghantam.
Tangannya menggenggam kunci pas berlumuran oli, senjata jalanan yang didapat entah dari mana. Dengan ayunan liar yang digerakkan emosi, dia menghantam lengan lima anggota Scorpion sekaligus.
Hantaman tumpul yang langsung merobek kulit, membuat darah merembes keluar.
"Scorpion yang tolol! Bukan gue!" teriak Raden, wajahnya bengis.
Lain lagi dengan Satria, yang bergerak layaknya penari maut. Setiap kali dia bergerak, setidaknya satu anggota Scorpion terkapar dengan sendi yang terkunci atau leher tercekik.
"Jangan bikin gue bolos ngaji cuma buat ngurus sampah!" geram Satria, lalu membanting musuh ke tanah dengan lututnya menghantam rahang.
Bintang terdorong dua langkah, tapi masih tegak. "Sama kayak dulu... lo masih suka nyerang bagian yang paling sakit."
"Dan lo masih suka ngajak ribut tanpa mikir," balas Fenzo datar.
Bintang menyeringai, that grin too wide. Kakinya maju lagi, lebih brutal, bergerak seperti seseorang yang hidup untuk kekacauan.
Tendangan, pukulan, hentakan, semua saling balas tanpa jeda. Gerakan mereka terlalu cepat untuk diikuti anggota lainnya. Adu kecepatan, adu teknik dan adu ego.
Bintang berputar, mencoba menendang bagian leher Fenzo. Namun pemuda itu lebih cepat menahan dengan lengan lalu mendorong keras, membuat pemuda itu terpeleset mundur.
Fenzo menyerang liar, seperti binatang sudut kandang. Pukulan beruntun, cepat, tapi tidak lagi presisi. Dia memblokir satu, menghindar dari dua, dan mendorong Bintang ke dinding markas.
BRAK!
Pemuda itu kehabisan napas, tapi masih mencoba untuk bergerak, meski bahunya terasa akan lepas
"Lo kuat, Bintang... tapi sayangnya, lo datang ke kandang yang salah."
Satu pukulan keras terakhir melesat ke pelipis Bintang. Tubuh ketua Scorpion itu langsung lunglai, tak sadarkan diri.
Scorpion satu per satu mundur, tak mampu menahan tekanan. Raden dengan bangga berdiri di atas motor sambil berteriak, "COBRA WINNING STREAK SERIBU PERSEN!!"
Sementara itu, Abimanyu berdiri tenang, kontras dengan huru-hara di sekelilingnya. Ia hanya menghela napas pendek, lalu mengusap sisa darah di telapak tangannya. "Terlalu ribut," itu saja komentarnya.
Pertarungan berhenti. Suara benturan dan teriakan digantikan oleh deru napas yang terengah-engah dan rintihan kesakitan dari pihak Scorpion. Kemenangan King Cobra mutlak, kejam, dan tanpa ampun.
Fenzo berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Pandangannya menoleh ke arah sisa anggota Scorpion yang masih berdiri dengan rasa takut.
"Bawa ketua kalian. Dan bilang sama atasan lo—" Pandangannnya jatuh menatap Bintang yang tergeletak di bawah kakinya.
"King Cobra belum jatuh. Dan nggak akan jatuh."
Setelah Fenzo selesai bicara, Raden melompat turun dari motor, wajahnya masih menyeringai puas. Motor itu ditinggalkan begitu saja di parkiran, menyisakan tangki yang hampir kosong.
"Anggota yang bertarung, kembali ke dalam," perintah Fenzo, suaranya kembali dingin dan dominan. "Cek luka-luka kalian. Abimanyu, lo bersihin jejak digital dan pastikan nggak ada kamera terdekat yang rekam. Kalau ada, hapus. Sekarang."
Pemuda itu mengangguk, melepaskan tongkat besi yang kini bengkok. Ia mengeluarkan ponsel, fokusnya kembali ke mode 'hacker culun' yang mematikan.
Pandangan Fenzo berganti menatap Raden dan Daren bergantian. "Kalian berdua, bantu buang sisa-sisa motor yang udah jadi rongsokan ini, jauh dari sini. Jangan sampai ada yang curiga."
"Siap, Zo!" sahut Daren, energinya kembali pulih setelah melampiaskan emosi tadi.
Raden meringis sambil menekan kain ke luka robek di pelipisnya. "Gila, Zo. Lo emang nggak ada tandingan. Benar-benar iblis."
"Putar roda hari ini, dan kita ganti gigi besok." balas Fenzo cepat, bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan.
••••••••••°🌟°••••••••••
💙 T-B-C 💙
.
.
.
Vote+Share
.
.
.
Next!😍
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Teen FictionTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
