12. Target Utama

5.6K 250 9
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••


Senandung kecil Akira terputus oleh derum mesin yang menderu pelan. Langkah santainya terhenti tepat di depan gerbang sekolah saat sebuah SUV hitam berkaca gelap melaju pelan dan memotong jalurnya.

Kaca mobil turun separuh. Seorang pria berbadan tegap menatapnya dingin dari dalam kabin.

"Hei, gadis kecil. Urusanmu dengan bos kami belum selesai!" gertaknya dengan nada penuh intimidasi. Tangannya dengan sengaja menepuk tepi pintu mobil. "Ingat pesan ini baik-baik. Jangan coba-coba menghindar." 

Alih-alih gemetar atau ketakutan, Akira justru menarik napas panjang. Ia memutar bola matanya malas, lalu balik menatap pria itu tajam.

"Kalau cuma mau ngomong kosong, mending simpen buat bos lo. Gue nggak punya waktu ngelayanin orang asing di jam sekolah."

Pria itu terkekeh sinis sebelum SUV tersebut tancap gas meninggalkan area sekolah.

"Baru juga mulai pagi, udah dapet teror gratisan aja." gumam Akira kesal sambil membenarkan tali tasnya. Ia memilih tak ambil pusing dan langsung melangkah masuk menuju kelas.

Niat Akira untuk menikmati pagi yang tenang langsung buyar begitu kakinya memijak koridor kelas XII IPS. Riuh tawa melengking pecah memenuhi udara.

"ANJIR! LO DAPET FOTO DIA PAS COSPLAY MUMI DARI MANA?!"

Gelak tawa Deco bergema di sepanjang koridor. Di tengah kerumunan, Satria memegangi ponsel milik Daren tinggi-tinggi dengan wajah menang.

"Gue cuma niat minjem HP si Daren buat stalking, eh malah nemu harta karun!" seru Satria heboh. "Lihat nih! Foto kelas 5 SD, muka masih kek bakpao, poni miring, badannya dililit tisu toilet full dari leher sampe kaki!"

Raden menggeleng prihatin. "Gue kira dia lahir langsung judes, ternyata pernah melewati fase mumifikasi tisu toilet juga."

Daren nyengir bangga sambil menepuk dadanya. "Gue bilang juga apa, isi HP gue tuh aset berharga semua—"

"SIAPA YANG MUMIFIKASI?"

Suara dingin dari arah belakang seketika membekukan tawa mereka.

Daren dan Satria perlahan memutar tubuh. Akira berdiri di sana dengan kedua tangan terbenam di saku rok, matanya menyala tajam. Di belakangnya, Bulan, Mila, dan Cia kompak menatap Daren dengan pandangan turut berduka cita.

"Daren..." Akira menunjuk ponsel di tangan Satria, lalu menatap Daren dengan nada suara yang terlalu tenang. "Lo masih aja ngeretas postingan lama gue?"

"R-Ra! Demi Tuhan itu Satria yang ngabrak-ngabrik! Gue cuma penyedia sarana dan prasarana!" Daren panik, menunjuk Satria dengan heboh.

Sementara, Satria melangkah mundur tanpa dosa. "Gue cuma penonton, Ra. Yang punya file memori kelamnya si Daren!"

"SATRIA BANGSAT LO!" jerit Daren histeris.

"MATI LO HARI INI, DAREN!"

Akira melompat maju, dan aksi kejar-kejaran rusuh pun pecah di sepanjang koridor.

Sepuluh menit kemudian, Daren terengah-engah di area belakang sekolah—tempat persembunyian favorit mereka di balik rimbunnya pohon bambu. Deco, Satria, dan Raden menyusul sambil tertawa puas.

Di sudut bangku semen, Fenzo dan Abimanyu sudah duduk santai di sana. Fenzo menyalakan sebatang rokok, menyesapnya perlahan sambil menatap lurus ke depan dengan wajah stoik seperti biasa.

Daren terduduk di tanah sambil memegangi dadanya. "Gue... nyaris mati... Gara-gara lo, Sat! Kenapa malah HP gue yang lo jadiin umpan?!"

"Ya lagian lo polos banget ngasih pinjam HP pas akun lo lagi buka foto lama Akira," cibir Raden sambil menggeleng.

Deco, Satria, dan Raden yang merasa sudah aman ikut menyalakan rokok masing-masing.

"Eh bro, taruhan balapan antarklub Sabtu malam nanti jadi di sirkuit lama?" tanya Deco memecah keheningan sambil menyemburkan asap rokoknya ke udara.

"Jadi," sahut Raden singkat. "Tapi anak-anak pada nanya, lo ikut turun jalan nggak, Zo? Kalau lo nggak ikut, hadiah taruhannya dipotong separuh."

Fenzo tidak langsung menjawab. Ia hanya mengisap rokoknya kembali, menatap tajam menerobos kepulan asap, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara.

Tepat saat Daren hendak menyahut, langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari balik pohon bambu. Suara gesekan kertas clipboard membuat suasana mendadak beku.

Alestra melangkah keluar dengan pandangan dingin yang siap menerkam.

"Kalau kalian pikir ngerokok di area sekolah itu keren," suara Alestra mengudara tenang, namun penuh ancaman, "silakan pikir ulang sambil lari lima puluh putaran keliling lapangan. Sekarang."


••••••••••••°🌟°••••••••••••
.
.
.
💙 T-B-C 💙
.
.
.
.
.
.
Vote+Spam komen
.
.
.
.
.
See you next chap!😍

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang