-Happy reading all-
💙
▪
▪
▪
•••••°°•••••
"Bilang ke Bos Sialan Babi lo itu! Tunggu pembalasan gue!"
Belum juga Raden sempat mengeluh soal kakinya, sebuah suara dingin dan tegas menyahut dari ambang pintu.
"Gue tunggu, crazy girl."
Akira tertegun, lalu menoleh. Fenzo berdiri di sana, bersandar santai pada pilar beton, tersenyum tipis penuh tantangan.
"Lo yang gila, babi!" balas gadis itu sebelum membanting pintu toilet.
Fenzo tersenyum penuh kemenangan. Ia kemudian berbalik, memberi isyarat kepada teman-temannya untuk duduk di tribun penonton yang letaknya strategis dari toilet.
Sementara di dalam, Akira mulai bekerja. Pandangannya menatap sikat gigi bekas di tangannya dengan rasa jijik luar biasa.
"Sialan. Kerak legend gini mana bisa ilang pakai sikat dedek bayi!" gerutunya sambil menyikat beberapa noda membandel sekuat tenaga, meski usahanya sia-sia.
"Dasar cowok-cowok nggak berguna! Sok iye banged, pasti sekarang pada makan sambil nyebat!" makinya pelan.
Benar saja. Di luar, keenam pemuda itu sudah asyik bersantai. Beberapa dari mereka sedang menikmati makanan dan juga kopi, sementara yang lain merokok.
"Si Akira ngoceh mulu, tuh mulut apa kagak pegel ya?" ujar Daren sambil mengunyah nasi di mulutnya.
Satria terkekeh. "No cap. Biarin aja. Stressing itu seni menghukum."
Sepersekian detik, teriakan Akira menggema di seluruh penjuru gedung.
"JANGAN HARAP BISA BERSIH, SIALAN! DI SINI BANYAK TAI KUCING YANG UDAH KERAS KAYAK BATU! BAU BANGET!"
Keenam pemuda itu hanya saling pandang, mencoba ignore.
"Terus ada bekas tai manusia juga di sudut WC! Udah kering warnanya ijo!" Akira melanjutkan teriakannya dengan intonasi menjijikkan yang dibuat-buat.
Brak!
Satria, Daren, dan Deco yang masih mengunyah nasi, refleks membanting sendok. Nafsu makan mereka hilang seketika.
"Dia beneran edan ya?!" Satria bertanya kesal. "Dia teriak-teriak begituan pas kita lagi makan, anjir!"
"Heh! CEWEK KULI! BISA DIEM NGGAK?!" Daren membalas dengan teriakan juga.
Akira, yang kini tersenyum puas di balik pintu, pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan terornya. "OH, INI! Ada rambut gulungan hitam! Kayaknya jenggot ketombean deh! IEUW!"
Abimanyu, yang memang paling sensitif terhadap hal jorok, tiba-tiba berdiri. "Gue cabut duluan." pamitnya sebelum benar-benar berlari keluar.
Fenzo, yang sedari tadi diam sambil menyesap kopinya, akhirnya mulai bergerak. Ia menatap pintu toilet dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
"Gadis sialan," desisnya pelan.
Ketika langkah Fenzo berhenti tepat di depan pintu toilet, siap menghadapi kegilaan Akira.
Gubrak!
Pintu terbuka kasar. Gadis itu berlari keluar dengan mata membelalak penuh ketakutan. Akira tanpa sadar, menubruk tubuh Fenzo dengan kedua tangan memeluk pinggang pemuda itu erat.
"TIKUS! TIKUS HIDUP! A—ada tikus di sana!" jeritnya histeris, menunjuk ke arah wastafel dengan jari gemetar.
Fenzo, yang terkejut dengan pelukan intens mendadak itu, hanya bisa menggeram pelan. Kedua tangannya terangkat kaku di sisi tubuh, sama sekali tidak membalas pelukan gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Teen FictionTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
