-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••
Aroma obat dan alkohol memenuhi ruangan, menyatu dengan suara kipas tua yang berdecit pelan di langit-langit UKS.
Akira masuk lebih dulu, Satu tangannya menahan pintu, sementara tatapannya menyapu cepat pada ranjang kosong, lalu ke kursi di sebelahnya. "Duduk," katanya singkat.
Fenzo yang muncul beberapa langkah di belakang hanya melirik singkat, sebelum menjatuhkan diri ke kursi tanpa suara. Tubuhnya menunduk, napasnya stabil, meski warna merah di punggung semakin menebal di balik kaos abu-abunya
Akira menatap pemuda itu sejenak, ekspresinya tetap datar, lalu menoleh ke arah Bulan yang berdiri kaku memeluk kotak P3K seolah itu tamengnya. "Lo yang obatin," kata gadis itu singkat.
"Hah? Kok gue!?" Bulan terlonjak dengan mata membesar.
"Hari ini jadwal piket lo, bukan gue. Anggap aja praktik lapangan." balas Akira, dari nada suaranya seperti tidak membuka ruang untuk negosiasi.
Bulan menatap punggung Fenzo, lalu menelan ludah. Darah masih merembes dari lukanya—terlalu banyak untuk disebut luka ringan. "Ra... lo aja, deh. Gue... gue nggak bisa liat darah sebanyak itu."
Akira melirik sekilas, satu alisnya terangkat. "Lo pikir gue mau nyentuh tuh orang?" Nada suaranya tajam seperti bilah tipis yang dilempar tanpa niat. "Enggak, makasih."
"Ra... sumpah, dia nyeremin," bisiknya pelan, tapi jelas panik. "Kayak... bisa bunuh orang cuma pake tatapan."
Akira mendengus pendek. "Yang nyeremin tuh nilai kimia lo, bukan dia," balasnya santai, tanpa menoleh.
Belum sempat Bulan membalas, suara berat memotong, dalam dan stabil. "Gue bisa sendiri."
Fenzo membuka mata. Suaranya tenang, tapi cukup membuat dua gadis itu langsung menegakkan punggung. Tatapannya dalam dan juga tajam— sseperti logam dingin yang baru saja diasah.
Udara langsung menegang. Bulan menelan ludah, sementara Akira berusaha tetap terlihat santai meski matanya berkedut. "Ya... yaudah. Sok."
Suasana hening hanya bertahan sebentar. Sampai—
Kreek!
Pintu UKS kembali terbuka.
Abimanyu muncul di ambang pintu, wajahnya datar seperti biasa — tanpa ekspresi, tanpa reaksi, hanya pandangan tenang yang membuat ruangan terasa makin dingin. "Gimana? Udah diobatin?"
Tak ada jawaban. Hanya dengung kipas tua di langit-langit yang berputar malas.
Fenzo diam di kursinya, sementara Akira pura-pura sibuk dengan lemari obat. Bulan, yang masih memeluk kotak P3K erat-erat, akhirnya sadar dirinya menjadi pusat perhatian.
"Eh—oh iya!" serunya buru-buru. Dia langsung menyodorkan kotak itu ke Abimanyu dengan refleks terlalu cepat, dan hampir menjatuhkan isinya. "Nih, Bang!"
Abimanyu menatapnya datar, satu alisnya terangkat tipis. "...Ini maksudnya apa?"
Sebelum Bulan sempat menjawab, suara Fenzo memotong lagi. "Obatin luka gue."
Semua kepala serentak menoleh ke Fenzo. Nada suaranya rendah tapi tajam, seperti perintah yang tidak perlu diulang. Abimanyu menatapnya beberapa detik, wajahnya tetap tanpa ekspresi. "...Serius lo?"
"Lo pikir gue bercanda?" balas Fenzo singkat.
Keheningan jatuh lagi. Udara di UKS seolah membeku. Abimanyu akhirnya menghela napas pelan, menyerah pada situasi. "Oke... apa dulu?"
"Ambil kapas. Sama alkohol."
Pemuda itu menurut. Gerakannya kaku, seperti robot yang baru belajar fungsi tangan. "Terus?"
"Tuangin alkohol ke kapas."
"Tuangin? Oke."
Suara blup-blup-blup terdengar pelan—tapi lama. Terlalu lama. Sampai akhirnya BYUR! — setengah botol alkohol tumpah ke lantai, membasahi kaki Abimanyu sendiri.
"BEGO!! Itu disiram apa dibaptis?!" suara Akira spontan meledak, nyaring dan penuh amarah.
Bulan langsung terlonjak kaget, ikut menatap ke bawah. "Ya ampun! Bang, itu cairannya buat luka, bukan pel lantai!!"
Abimanyu diam, menatap botol di tangannya dengan tenang. "Kayaknya kebanyakan, ya?"
"YA ELAAH..." Akira menepuk jidat. "PAKEK NANYA!"
Fenzo akhirnya memejamkan mata lagi, seolah sedang menghitung kesabaran. Sudut bibirnya sempat bergerak—nyaris tersenyum, entah karena ingin tertawa atau pasrah. Dan hal itu cukup untuk membuat Akira melirik sekilas.
Dia barusan senyum? Seriusan?
"Udah, sini!" Akira maju dan langsung merebut botol juga kapas dari tangan Abimanyu. "Lo tuh bukannya nyembuhin pasien, malah bikin orang pingsan karena kebanyakan bau alkohol!"
Pemuda itu memandang botol kosong di tangannya dengan ekspresi tak bersalah. "Terus... gue harus ngapain sekarang?"
"Ambil pel. Bersihin. Sekarang." Nada Akira tegas, tanpa kompromi.
Abimanyu menoleh ke arah Bulan, seolah mencari dukungan atau minimal rasa kasihan.
Bulan yang melihat itu malah nyengir kaku. "Aku bantu deh," katanya cepat, lalu buru-buru mengambil kain pel dan ember berisi air sabun.
"Kita bersihin bareng aja, biar cepet," kata Bulan, suaranya terdengar gugup tapi dipaksakan terdengar ringan. Tangannya sedikit gemetar ketika memeras kain pel.
Akira mendengus tanpa menoleh. "Biar makin dekat juga kali, ya?" celetuknya santai tapi tajam.
Bulan spontan melirik tajam, tapi sudut bibirnya nyaris tersenyum. Dari luar tampak sebal, tapi di dalam hatinya justru bersorak."Gue suka sarkas lo kali ini, Ra!!"
"Buka kaos lo," perintah Akira, nada suaranya tenang tapi tegas. "Dan jangan banyak protes!"
Gadis itu menarik napas pelan, membuka gulungan perban dan merendam kapas di alkohol baru. "Ini bakal perih,"
"Gue tau." balas Fenzo singkat, tanpa ragu menarik kaosnya ke atas.
Hening beberapa detik. Akira yang tadinya ngomel tiba-tiba berhenti. Tangannya menggantung, matanya terpaku pada bekas luka di kulit Fenzo. Itu bukan luka jatuh. Bukan juga luka olahraga. Tapi kayak... luka yang disiksa berulang kali.
Pandangannya melirik ke arah wajah pemuda itu dari sampaing. Masih datar. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang membuat dada Akira tiba-tiba sesak. "...Lo dapet luka gini, siapa yang bikin?" tanyanya pelan.
Gadis itu mulai menempelkan kapas ke kulit punggung Fenzo. Pemuda itu sama sekali tidak bergerak, hanya rahangnya yang menegang singkat.
"Nggak penting," balasnya rendah.
Akira menggigit bibir bawahnya, menahan banyak hal yang mau dia katakan. "Lo pikir semua hal nggak penting cuma karena lo kuat, ya?" gumamnya nyaris tak terdengar.
Fenzo menoleh pelan, tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik.
"Gue cuma.. udah biasa"
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari yang Akira duga. Dia terdiam, begitu juga Abimanyu yang tanpa sadar mengepalkan tangan di sudut ruangan.
••••••••••°🌟°••••••••••
💙 T-B-C 💙
.
.
.
Vote+Share
.
.
.
Next!😍
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Ficção AdolescenteTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
