13. Hukuman Siang

5.5K 244 10
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••


"Kalau kalian pikir ngerokok di sekolah itu keren," suara Alestra terdengar tenang tapi berbahaya, "silakan pikir ulang sambil lari lima puluh putaran keliling lapangan. Sekarang."

Angin siang membawa aroma debu dan panas matahari yang membakar. Enam pemuda berdiri di tengah lapangan dengan tangan di pinggang dan wajah campuran antara kesal dan tak percaya.

Alestra melangkah memutari mereka dengan clipboard di tangan, langkahnya pelan tapi mantap—seperti jaksa yang baru selesai menjatuhkan hukuman tanpa pengadilan.

"Lima puluh!?" Deco hampir berteriak, bola matanya seolah mau lepas. "Les, kita murid, bukan turbin tenaga surya!"

Ketua OSIS itu hanya melirik sekilas, kemudian berkata tenang, "Kalau nggak mau, saya bisa panggil kepala sekolah. Sekalian orang tua kalian, biar tahu anaknya merokok di area sekolah."

Daren yang dari tadi sudah berkeringat bahkan sebelum lari dimulai, langsung mengangkat tangan seperti mau protes di sidang rakyat. "Gue baru makan gorengan satu biji dari pagi, Les! Kalau gue pingsan nanti, tolong tulis di batu nisan: mati karena ketua OSIS lupa punya hati.

Alestra berhenti tepat di depannya, menatap tanpa ekspresi. "Masih banyak tenaga buat bercanda, berarti masih kuat lari."

Suasana hening sepersekian detik sebelum Deco berbisik ke Raden di sebelahnya, "Bro, ini orang kayaknya keturunan stopwatch, deh."

Raden hanya menggeleng pelan. "Lebih kayak keturunan tentara yang putus hubungan sama perasaan."

Satria menahan tawa, tapi Daren langsung menatap tajam. "Lo ketawa aja, Sat. Ntar lo juga pingsan bareng gue di putaran dua puluh."

Di tengah kekacauan kecil itu, Abimanyu yang sejak tadi berdiri paling tenang akhirnya membuka suara. "Lima puluh putaran itu berlebihan," ucapnya pelan tapi tegas. "Tapi ya... lo bukan tipe orang yang bisa diajak negosiasi, kan?"

Alestra menatap balik dengan tatapan sulit ditebak, sudut bibirnya nyaris tersenyum. "Akhirnya ada yang sadar"

Satria menoleh cepat. "Bim, serius lo ngomong gitu?"

Abimanyu hanya mengangkat bahu kecil. "Lebih baik realistis daripada mati debat."

Belum sempat Daren membuka mulut lagi untuk protes, suara Fenzo memotong pelan tapi tajam. "Udah. Jalanin aja."

Hanya dua kata, tapi cukup untuk membungkam semuanya. Nada suara pemuda itu datar, tanpa emosi, namun ada sesuatu di baliknya—sebuah ketegasan yang membuat teman-temannya enggan membantah.

Daren yang biasanya paling ribut hanya bisa menghela napas, mendecak pelan sebelum akhirnya ikut melangkah.

Satu per satu, mereka mulai berlari mengitari lapangan di bawah teriknya matahari. Dalam waktu lima menit, keringat mulai menetes deras dari pelipis. Kaos olahraga yang mereka pakai mulai menempel di badan, menonjolkan bentuk otot dan dada bidang yang terbentuk jelas— pemandangan yang... entah kenapa, membuat beberapa siswi di kelas atas menjerit pelan di dekat jendela.

"ASTAGA—FENZO KERINGATAN AJA GANTENG!!"

"RADEN KERINGATNYA BERKILAU, AKU MAU PINGSAN!!"

"ABIMANYU DIEM AJA TAPI KEREN BANGET, ASTAGAAA!!"

"IHH, SATRIA SAMA DAREN GEMOY!!"

"DECO SAYANG SEHAT-SEHAT YA! KALAU SI DAREN, TERSERAH!"

Suara sorakan dari siswi-siswi di tepi lapangan makin riuh. Beberapa bahkan sudah menyalakan kamera ponselnya, seakan menonton konser dadakan di bawah sinar matahari jam sebelas siang.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang