TAHAP REVISI🙏💙
Joss sakpolee pokoe 😎😎😎
Mampir kuyyy🙏🙏💙
•><•
Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :)))))
#bijakdalammembaca
DONT PLAGIAT!!!!
Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!!
#Drafenzo
#dingin
#mis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara denting sendok dan tawa kecil terdengar dari lantai bawah. Akira menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan nyawa sebelum menuruni tangga dengan langkah seanggun mungkin.
Di meja makan, formasi sudah lengkap. Ada Bunda, Daniel, Zilka, serta ketiga sahabatnya: Mila, Bulan, dan juga Cia. Kecuali dengan, Raden. Daniel, yang pertama kali menyadari kehadiran adiknya, langsung berdiri dengan gaya teatrikal.
"Uwihh! Sang putri dari kerajaan Majapahit sudah bangkit dari tidur kebonya... Mari sambut dengan tepuk tangan yang meriah teman-teman!" serunya, berlagak seperti ajudan kerajaan.
Prok! Prok! Prok!
Mila, Bulan, dan Cia kompak bertepuk tangan heboh, sementara Zilka hanya terkekeh menggelengkan kepala. Bukannya malu, Akira justru menyugar rambutnya ke belakang, melambaikan tangan dengan gaya Miss Universe yang dibuat-buat.
"Terima kasih, rakyatku. Terima kasih," ucap gadis itu dengan cengiran polos tanpa dosa, lalu menarik kursi kosong di sebelah Daniel.
Namun, suasana ceria seketika mendingin ketika Akira menangkap tatapan tajam di ujung meja. Bunda Naya bersedekap dada, tatapannya sanggup membuat nyali siapa pun ciut.
"Merasa bangga banget ya kamu bangun kesiangan? Terus duduk manis di sini?" suara Naya datar tapi menusuk. "Sholat subuh nggak?"
Akira melipat kedua tangannya di atas meja, sedikit menundukkan kepala. "Em.. melek dikit Bun tadi. Cuman... setannya lebih kuat, jadi Rara ketiduran lagi."
Wanita paruh baya itu menaikkan sebelah alisnya. "Kece! Ngerasa udah banyak pahala lo?"
"Maaf Bunda..." cicit Akira kecil.
Pandangan Naya beralih menatap mereka semua bergantian. "Ingat pesan Bunda. Nakal boleh, kejam boleh, tapi jangan pernah tinggalin sholat dalam keadaan apapun. Itu tiang kalian. Kalau roboh, ya hancur semua."
"Baik, Bunda," jawab mereka serempak, termasuk Akira yang kini benar-benar merasa tersentil.
"Sekarang makan!" perintah Naya singkat.
Suasana langsung hening. Di tengah kunyahan Akira, ponselnya di atas meja bergetar. Satu nomor asing tanpa nama terpampang jelas. Akira menekan tombol tolak, tapi nomor itu terus menelepon.
Naya menghentikan gerakan sendoknya. Matanya melirik tajam ke layar ponsel, lalu ke wajah putrinya. "Kenapa nggak diangkat, Ra? Tangan kamu kaku habis tidur kebo?"
"Orang iseng atau temen special pakai telor tiga nih maksudnya?" sahut Daniel kompor, matanya melirik jahil. "Setau gue, temen-temen lo yang aneh ya cuma tiga curut di depan lo ini."