27. Bola Basket Salah Target

4.2K 196 3
                                        

-Happy Reading-

.

.

.

.

••••••••••💙••••••••••


Waktu menunjukkan pertengahan jam pelajaran olahraga. Matahari mulai meninggi, membuat lapangan Outdoor terasa panas dan lengket. Suara gesekan sepatu dan pantulan bola basket mengisi udara.

Prit! Prit! Prit!

Akira, yang sudah kelelahan memilih duduk selonjor di pinggir lapangan. Anggota kelompoknya yang berhasil mencetak poin unggul hari ini, ikut mendudukkan diri.

Aura muramnya seolah menyerap kecerahan pagi. Gurat lelah dari konfrontasi semalam masih kentara di matanya yang sayu. Pandangannya kosong, hanya terpaku pada kerikil di antara sepatu.

"Lo kenapa?" Bulan berbisik, sentuhan tangannya terasa seperti usapan hati-hati.

Gadis itu hanya menggeleng tanpa menoleh. Mila dan Cia memilih bungkam. Mereka tahu, Akira di mode mood gelap adalah gunung berapi yang siap meletus.

Dari sudut tribun, Amanda berteriak riang, "Beri tepuk tangan untuk, Ndoro Akira euy! Si pencetak point paling gokil hari ini!"

Bulan langsung berdiri sambil bertepuk tangan heboh. "Karena lo cetak point paling banyak, gue bakal jajanin—"

Duk!

Sebelum kalimat selesai, rasa sakit tumpul menghantam keras punggung Akira lebih dulu. Bola basket berukuran penuh itu terpental dan nyaris mengenai kepala Cia di sebelahnya.

"Anjir, sakit cok!" umpatnya memotong bising lapangan.

Permainan di tengah lapangan langsung berhenti. Mereka saling pandang sambil mengangkat tangan dramatis, bertingkah polos padahal semua tahu siapa dalangnya.

Akira berdiri cepat, mata kelabunya menyala tajam, menyapu seluruh penjuru lapangan. "Siapa yang lempar?" nadanya berbahaya.

Danu, yang paling semangat mencari keributan, langsung menunjuk ke arah Wisnu. "Nih, Ra! Si Wisnu yang lempar!"

"Hooh, sengaja lagi tadi ngelemparnya!" Radhit ikut memanasi.

"Bangke lo semua!" Wisnu mendesis, tapi wajahnya juga ogah-nggak ogah karena tau apa akibatnya.

Gadis itu mulai melangkah maju. Wisnu refleks mundur. Begitu Akira mulai berlari, pemuda itu ikut lari sekencang-kencangnya mengitari lapangan, mencoba menghindar dari amukan yang ia ciptakan sendiri.

"AKIRA WOI! BECANDA DOANG! HAHAHA!" teriak Wisnu, sesekali menjulurkan lidah dan memonyongkan bibir ke arah belakang.

"Gue sumpahin lo keselek pentol, NUUUU! Sini lo! ANAK SETAN!" 

Emosi Akira mencapai ubun-ubun. Tangannya yang masih menggenggam bola basket, mulai membidik punggung Wisnu dengan seluruh tenaga.

Swuush!

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang