•••Happy reading•••
•
•
•
•
•
•
Bulan melirik jam dasbor untuk kesepuluh kalinya. Angka digital itu seolah tidak bergerak. "Satu jam lima belas menit," gumamnya pelan.
"Gue nggak bisa tenang." cetus Mila tiba-tiba, sementara jemarinya terus mengetuk kaca jendela dengan irama tak beraturan.
"Sabar, Mil. Mungkin urusannya agak rumit," sahut Cia. Kata-katanya berusaha menyejukkan suasana, namun kontras dengan tangannya yang meremas kuat ujung jaket.
"Sabar cuma bakal bikin semuanya makin buruk!"
BRAK!
Mila menyentak tuas pintu. Dengan gerakan kasar, ia keluar dari mobil, mengabaikan peringatan teman-temannya.
"Mil, mau ke mana?!" Bulan terpaksa menyusul gadis itu turun. Sementara Cia ikut mengekor di belakang karena takut ditinggal sendirian di mobil.
"Woi, berhenti!" Bulan mencengkeram lengan Mila tepat sebelum gadis itu melangkah lebih jauh. "Akira bilang tunggu di sini. Jangan gegabah!"
"Tunggu sampai kapan?!" Mila berteriak, suaranya pecah di tengah kesunyian jalanan. Ia berbalik, menatap Bulan dengan sorot mata putus asa. "King Cobra itu bahaya. Kalau Akira butuh bantuan dan kita cuma diem kayak pajangan, gue nggak bakal maafin diri gue sendiri!"
Cia berdiri di antara mereka sambil mengusap bahu Mila. "Kamu tenang ya, Mil. Jangan panik dulu," bisik gadis itu lembut. "Di dalem juga ada Bang Raden," lanjutnya, mencoba mencari titik terang.
Bahu Mila yang tegang mulai sedikit merosot. "Tapi tetap aja, Ci. Raden itu anak buah Fenzo. Kalau Fenzo kasih perintah gila, dia bisa apa?"
Bulan menghela napas, sedikit melonggarkan cekalannya. "Satu jam lagi. Kalau dalam satu jam dia nggak keluar juga, gue sendir—
Brum..brumm...
Raungan mesin motor, memotong kalimat Bulan. Disusul kepulan debu dari enam motor besar yang melakukan manuver drift kasar. Dalam hitungan detik, ketiga gadis itu terkurung di tengah lingkaran besi.
"Waspada," bisik Mila rendah.
Ketiganya langsung bergerak saling membelakangi, membentuk formasi pertahanan kecil di tengah kepungan pengendara motor yang tampak agresif.
Saat mesin-mesin itu dimatikan, suasana berubah sunyi yang menekan.
"Ini bukan tempat main-main. Ngapain kalian di sini?" Suara berat itu datang dari pemuda yang lebih dulu mendekat dengan gestur mendominasi.
"Eh, Bos Gio. Mereka bukannya yang nolongin kita waktu itu?" celetuk salah satu anggota dari sisi kiri.
Bulan melirik Mila, memastikan ingatan mereka sama. Di balik punggung keduanya, Cia berbisik sangat pelan, "Black Wolferine."
"Gue tanya sekali lagi," suara Gio terdengar lebih tenang, namun sarat akan tuntutan. "Ngapain kalian di sini?"
Mila maju satu langkah, menatap tajam tanpa rasa takut. "Teman gue disandera di dalam."
"Eh, Mil. Lo—" Bulan mencoba mencegah, namun satu lirikan maut dari Mila langsung membungkam mulutnya.
Gio terdiam sesaat. Bekas luka memanjang di pipinya tampak berkilat samar di bawah cahaya. Tanpa membalas ucapan Mila, ia menoleh ke belakang. "Rave, telepon Abimanyu sekarang! Loudspeaker."
"Siap, Pak Ketu sayang..." balas pemuda bernama Rave dengan nada genit yang dibuat-buat, memicu ekspresi jijik dari rekan-rekannya.
"Heran gue, si Gio nggak pernah ngamuk dipanggil sayang sama Rave." bisik salah satu pemuda. Bulan yang mendengar itu bersusah payah menahan tawa di tengah situasi yang sebenarnya masih tegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Fiksi RemajaTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
