21. Sepuluh Lembar Merah

4.6K 213 4
                                        


-🍁Happy Reading All🍁-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••


Begitu melihat meja kosong di sudut kiri, keenam pemuda langsung menjatuhkan diri ke kursi tanpa pikir panjang. Seolah meja itu sudah di booking sejak lahir.

"Sat, pesenin gue steak ayam rasa anggur merah. Sama Teh Jus Gula Batu yang diseduh pakai air gunung Himalaya," Daren mengetuk meja, iramanya seperti drummer gagal audisi.

Raden melirik malas dari balik hoodie-nya. "Ini kantin, bukan wishlist sinterklas, bego!"

Satria, korban yang ditunjuk hari ini mulai memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam seperti sedang menghitung kesabarannya yang tersisa.

"Gue mohon... sekali aja. Pesanan normal. Jangan buat gue meditasi di toilet sekolah." katanya lirih.

"Mie kuah," jawab Fenzo tanpa basa-basi.

​"Nah! Ini dia!" Satria menunjuk girang, seolah menemukan spesies langka yang bisa diajak kompromi. "Contoh manusia yang lulus uji coba psikologi!"

​Deco baru membuka mulut hendak memesan, tapi Satria sudah berteriak dan lari terbirit-birit ke stand makanan. "Enggak! Gue gak mau denger lo bilang martabak sambal kacang lagi, Dec!"

Abimanyu menghela napas tanpa suara, matanya menyapu sekeliling kantin yang mulai ramai. "Soal serangan Scorpion dua hari lalu..." bisiknya pelan, namun cukup kuat untuk meredam kebisingan di meja mereka.

​"Bahas di markas," potong Fenzo pendek.

Seketika, candaan mereka tenggelam. Lima pemuda itu kembali ke realitas yang jauh lebih gelap.

Belum sempat pesanan datang, kursi Fenzo bergeser. Pelan... tapi cukup membuat empat pasang mata otomatis menoleh. Hanya berdiri... lalu berjalan. Dan arah jalannya langsung membuat mereka semua membelalak.

"Anjir. Penjo mau ngapain tuh?!" Raden berbisik keras, yang jelas bukan bisikan.

Daren spontan menutup mulut dengan kedua tangan. "Ya Allah, astagfirulloh... jangan bilang dia mau update hubungan diplomatik ke sana..."

Plak!

Deco memukul ringan belakang kepala Daren. "Lo Kristen, tolol! Kenapa malah paling religius kalau kaget?"

"Refleks, Bro... refleks spiritual..."

Langkah Fenzo yang tenang dan terukur, sukses menarik atensi seluruh kantin seperti magnet yang terlalu kuat. Semua orang tentu tahu, tujuannya cuma satu: Meja Akira dan ketiga sahabatnya.

"Bulan eek anjir-HAHA!" tawa puas itu terpotong ketika Bulan menyentuh bahu Akira singkat.

"Ra. Samping lo."

Akira menoleh cepat. Dan detik itu juga, dia tersedak es jeruknya sendiri, seperti korban jumpscare low-budget.

"UHUK- Gila!" Serunya panik, setengah berteriak sambil bangkit dari kursi. "Lo berdiri diem disitu mirip patung Pancoran anjai..."

Fenzo menatapnya. Tanpa ekspresi, tanpa perubahan mimik. Seolah reaksi memalukan dan berisik gadis di hadapannya itu adalah hal paling biasa di dunia.

Akira berkedip cepat, panik dan kesal bercampur jadi satu. "Apa? Lo ngapain nongol di sini? Topi lo masih di kelas, nanti gue ambi-"

​"Lo berisik," potong Fenzo.

​"Terus kenapa?! Ini kantin, Bro. Semua orang juga berisik!"

​"Ya." Rahang pemuda itu bergerak pelan, lidahnya menekan pipi bagian dalam seperti menahan luapan emosi. "Tapi lo... paling nguras energi."

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang