Dia Lebih Bahaya

26.3K 551 26
                                        

Di bawah sorot cahaya lampu kuning yang menggantung rendah, seorang pemuda tampak duduk dengan tenang di atas kursi jati tua berukiran ular kobra di setiap sisinya.

Bayangan tubuhnya menari di dinding, berpadu dengan kepulan asap rokok yang berputar lambat, membentuk siluet kabur di udara. Darah terus menetes dari perban lusuh yang melilit lengannya, menodai kain putih dengan warna merah yang kian pekat.

Ekspresinya datar, seolah tubuh dan rasa sakit sudah menyatu di dalam dirinya. Tatapan matanya tajam, gelap, dan penuh dengan kendali.

"Rapat lanjut besok" ucapnya pelan.

Semua yang hadir menunduk, tak ada yang berani mengeluarkan suara. Ketika semua orang berdiri tenang, salah satu kursi bergeser keras—menciptakan suara gesekan yang mampu memecah keheningan.

Seorang pemuda di ujung meja, wajahnya tegang, bibirnya gemetar menahan sesuatu yang seharusnya tidak ia ucapkan. "B-bang...," suaranya parau, "lengan lo berdarah lagi"

Fenzo, pemuda itu meletakkan tangannya di atas meja, membiarkan darah terus menetes ke permukaan kayu. Beberapa orang menahan napas disaat tetesan terakhir jatuh, membentuk garis merah di antara pahatan kepala kobra yang tampak ikut tersenyum.

"Masih merah," balasnya pelan. "Berarti gue masih hidup" lanjut Fenzo kelewat santai.

"Kalau ada yang nggak siap..." Fenzo menatap mereka satu per satu, suaranya rendah tapi menusuk. "...keluar sekarang."

Hening kembali menggantung.

Dengan santai, ia menyalakan rokok baru dengan tangan berlumur darah. Api dari korek kecil itu terlihat memantul di matanya, membuat Fenzo tampak seperti sesuatu yang bukan lagi sepenuhnya manusia.

"Zo... kalau kondisi lo masih gitu, apa nggak sebaiknya—" Belum sempat pemuda berkacamata bulat itu menyelesaikan kalimat, tatapan tajam yang menghunus netranya cukup membuat bibirnya berhenti bicara.

"Gue masih bisa mikir," kata Fenzo sambil menghembuskan kepulan asap kearah pemuda yang duduk tak jauh dari tempatnya. 

"Khawatir itu bagus—tapi kalau kebanyakan, lo bakal mati sebelum sempat nembak lawan."

Drafenzo Shaquille, namanya cuma sesekali disebut oleh orang-orang di luar — singkat, dingin, penuh bahaya. Dia bukan legenda, bukan pula bayangan — tapi sesuatu tentang dia itu lebih bahaya.

Sebuah nama yang muncul di antara desas-desus, diucapkan pelan oleh mereka yang pernah melihatnya bekerja dan berharap tak akan pernah melihatnya lagi. Darah di tubuhnya bukan tanda kelemahan — itu sebuah peringatan.

Setiap luka yang menempel di kulitnya adalah cerita yang tidak pernah diceritakan, hanya disimpan di balik tatapan kosong dan jemari yang terbiasa dingin ketika memegang senjata.

Dia bukan tipe orang yang banyak bicara. Ada yang bilang, di balik ketenangannya, Fenzo menyimpan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar amarah — sesuatu yang bahkan rasa takut pun enggan mendekat.

"Dia yang berdarah, tapi malah kita semua yang gemetar..." batin seseorang.

Fenzo menarik sudut bibirnya kecil, lalu berdiri. "Malam ini selesai." 

Pemuda itu berjalan melewati mereka satu per satu, aroma darah dan asap rokok ikut serta di setiap langkahnya. Tepat di ambang pintu, Fenzo berhenti sejenak lalu kembali menoleh ke belakang. 

"Besok jangan telat. Gue nggak suka ngulang dua kali."

-
-
-
-
-
-

Penasaran kan?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Penasaran kan?

LANJUT BACA PART SELANJUTNYA
Biar ga kepo kepo lagi!
.

.
.
.
.
Vote!
.
.
.
Next!

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang