-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••💙••••••••••
Gerbang SMA Starlight berdiri megah seolah sedang menertawakan nasib Raden dan Akira. Dua satpam berjaga di sisi kanan-kiri dengan aura "jangan macam-macam". Tak jauh dari sana, beberapa anggota OSIS ikut memantau. Tatapan mereka bahkan jauh lebih mengerikan ketimbang soal ujian matematika.
Raden melirik arloji di pergelangan tangannya. "Dua puluh menit, Ra. Gara-gara lo minta berak di pom bensin, kita resmi jadi warga luar Starlight."
"Gue nggak mau telat, Den. Nama gue bisa masuk daftar hitam lagi, dan lo tau sendiri Bunda bakal—"
"...Bakal ceramah sampai ulat bulu di pohon mangga mutusin buat mualaf," potong Raden santai.
"Jangan bercanda, Den! Hidup gue di ujung tanduk!" Akira menatap jam dinding pos satpam dengan frustrasi.
Raden mengedarkan pandangan, menilai situasi sekitar sebelum seulas senyum miring muncul di sudut bibirnya. "Gue bantu manjat tembok samping," bisiknya.
Sorot mata Akira langsung berbinar cerah. "Gue suka gaya lo, nyuk!"
Kedua remaja itu mengendap-endap lewat deretan tanaman hias menuju sisi kanan gedung. Tembok di sana memang cukup tinggi, tapi untungnya ada satu pohon besar dengan dahan rendah yang letaknya pas untuk pijakan.
"Gue naiknya gimana?"
Tanpa banyak bicara, Raden langsung menekuk lutut dan membungkuk. "Naik ke bahu gue, buruan!"
Kedua mata Akira membulat. "Den, serius? Lo kuat? Ntar encok, berabe."
Raden mendongak, menatapnya jengah. "Lo mau Bunda jemput lo ke sekolah sambil bawa sekop baja, hah?"
"Oke, fine." Setelah melepas sepatu dan mengalungkan ranselnya, Akira naik dengan hati-hati ke pundak Raden. "Awas lo ya, kalau sampai jatuh, gue laporin Bunda!"
"Naik aja dulu, cerewet," balas Raden, giginya menggertak menahan beban tubuh Akira.
Belum juga posisinya mantap, mulut gadis itu sudah sibuk memberi komando. "Kiri dikit, Den! Batangnya agak ke sanaan. Nah, berdiri agak tegak napa! Nggak nyampe nih!"
"Lo bisa diem nggak?!" seru Raden, napasnya mulai putus-putus. "Gue lagi nahan dua beban berat! Badan lo sama dosa gue kalau sampai lo jatuh!"
Akira malah terbahak geli, membuat posisi Raden agak oleng. "Santai, Bang Jago! Gampang baper amat, lagi PMS ya lo?"
"Diem dulu, Ra!" bentak Raden, separuh panik.
"Iya, iya, ganteng~ Sabar napa," sahut Akira dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat, sukses membuat lutut Raden langsung lemas dan hampir tumbang.
Setelah perjuangan panjang disertai sumpah serapah, kaki Akira akhirnya berhasil menapak mantap di dahan besar. Rambutnya berantakan, tapi senyumnya makin lebar.
Dengan cekatan Akira menangkap sepatu dan ransel yang dilemparkan Raden dari bawah. "Refleks gue emang top tier." katanya bangga.
"Refleks lo doang yang bagus, otaknya sering delay," cibir Raden sambil menepuk-nepuk debu di celananya. Cowok itu bersiap pergi memutar lewat area belakang untuk berkumpul dengan teman-temannya.
"Inget pesan Bunda, kan?" Akira menyipitkan mata, nadanya setengah mengancam.
Raden mendongak, lalu mengulas senyum malas. "Selalu."
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Fiksi RemajaTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
