23. Simfoni Dua Kutub

4.5K 207 9
                                        

-Happy Reading-





•••••••💙•••••••


Di luar, kegelapan telah mengambil alih sepenuhnya. Angin malam yang tajam menusuk masuk dari jendela terbuka, membawa hawa dingin yang tak terhindarkan.

Meski begitu, sosok bermata obsidian itu tetap tertidur pulas, tenang seakan hiruk pikuk dunia di luar tak ada artinya.

Tok... tok.. tok.

"Woy, Bang Fenzo! Alarm makan malam bunyi!"

Ara, gadis kecil dengan bando kelinci khasnya, masuk tanpa izin setelah ketukan pertamanya diabaikan. Kaki kecilnya cekatan memanjat tempat tidur, lalu menggoyangkan bahu Fenzo secara brutal.

"Abang! Bangun nggak?! Nanti makanannya dingin!"

Fenzo yang terusik perlahan membuka matanya. "Ada apa?"

"Misi penyelamatan kebo. Abang tidur kayak mayat," balas Ara sambil cemberut.

Mendengar itu, senyum tipis, hampir tak terlihat, melengkung di sudut bibir pemuda itu. "Udah besar, ya, lo."

"Kok pakai lo-gue sih, Bang? Nggak asik." Ara melotot, menyilangkan tangan di dada sambil membuang muka.

"Cium dulu,"  dengan santai Fenzo menunjuk pipinya.

"Gak mau. Abang bau."

Mendengar balasan itu, Fenzo langsung diam. Wajahnya datar tanpa emosi, ekspresi bahaya level satu yang sudah Ara hafal betul. Gadis kecil itu buru-buru menghentikan dramanya dan kembali mendekat.

Mmuach. Mmuach.

Dua kecupan singkat mendarat di pipi. Seketika sudut bibir Fenzo terangkat, meskipun masih berusaha keras menahannya.

"Ikhlas nggak?"

Ara menggaruk belakang kepala yang jelas-jelas tidak gatal. "Ikhlas, Bang."

"Peluk sini." Fenzo merentangkan kedua tangan dengan senyum hangat, senyum yang hanya ia berikan pada Ara dan Ibunya. Tanpa pikir panjang, gadis kecil itu langsung menyambar dan memeluknya erat. 

"Jangan pernah benci Abang, ya."

Ara menatap balik dengan mata bulatnya yang polos. "Nggak akan. Sampai kapan pun."

"Waktunya stop drama. Turun, saatnya makan malam anak-anak!" Suara lembut Flowinata terdengar dari ambang pintu.

"Abang nih, Mah, yang ngajak galau duluan!" protes Ara sambil melompat bangun dan kabur keluar kamar.

Fenzo hanya tersenyum tipis melihat tingkah adiknya itu. Flowinata menggeleng pelan, lalu mendekat dan duduk di tepi kasur, menatap putranya dengan perhatian yang selalu sama.

"Baik-baik aja, Bang?" tanyanya lembut.

"Iya," jawab Fenzo, masih dengan senyum tipis yang sulit ditebak.

"Kalau begitu, mandi dulu sana. Habis itu turun, kita makan bareng."

"Ada dia?"

Pertanyaan Fenzo menghentikan langkah wanita paruh baya itu. Flowinata berbalik dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya.

"Nggak ada, Papah kamu keluar kota. Pulang lusa," balasnya.

Fenzo mengangguk kecil, membiarkan kelegaan menjalari dadanya. Ia memilih diam dan tidak bertanya lagi. Pikirannya kosong dari bayangan itu, setidaknya untuk malam ini.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang