31. Aib di Atas Kertas

3.9K 185 7
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
••••••••°°🪷°°••••••••

"Nah loh, bisa dikirim ke barak militer lho, Ko!"

Rona panik menjalari wajah Deco. Ia berjalan ke arah Raden yang masih duduk tenang, sesekali menyesap americano di tangannya dengan gaya santai yang menjengkelkan.

"G-gue mau peluk lo, Den..."

Belum sempat meraih bahu Raden, kerah kemeja yang ia kenakan lebih dulu ditarik kuat ke belakang. 

"Gak usah lo nodain cowok gue, Ko!"

Daren menyuarakan kalimat itu dengan nada manja yang dibuat-buat, persis seperti sindiran tante-tante penggoda.

"Bangsat! Lepasin! Sumpah, gue gak bisa napas!"

Daren menyeringai, "Enak aja. Kamu terlalu menggoda, Mas. Harus aku kurung di hatiku dulu!"

Bukan hanya Deco yang bergidik jijik. Anak-anak lain di basecamp juga ikut meringis, melihat Daren seperti tante-tante kurang belaian.

"Den! Tolongin gue!" teriak Deco putus asa.

Raden mengangkat bahu, muak. Ia memilih menjauh dari kekacauan itu. Kakinya membawanya naik menuju lantai dua, area yang dikhususkan untuk rapat inti saja.

Langkah pemuda itu terhenti tepat di depan pintu besi. Dari celah sempit itu, ia mendengar suara-suara yang membuat emosinya tersulut.

"... Kasih tahu bokap lo, yang bikin dia mati itu bukan lo, tapi—"

"Udahlah, Bim. Gue gak peduli." Fenzo menyela, nadanya datar, tanpa emosi.

"Lo bilang gak peduli?! Tapi lo disiksa, Zo! Setiap hari lo hidup dengan rasa sakit itu! Batin lo hancur!"

BRAK!

Suara benturan keras terdengar. Fenzo membanting kursi yang ia duduki.

"Yang disiksa GUE, bukan LO!"

Bugh!

"Gue peduli, bangsat!" balas Abimanyu, suaranya sarat akan rasa frustrasi yang meluap-luap.

Raden dengan cepat mendorong pintu. Ruangan itu mendadak hening. Fenzo dan Abimanyu berdiri kaku, berusaha mengalihkan tatapan mereka satu sama lain.

"Kenapa berhenti? Mau duel? Main tinju kok kayak bocah," cibir Raden tajam. Dia mengeluarkan dua belati perak dari jaketnya. "Nih, buat pelengkap. Biar elit."

Sudut bibir Abimanyu terangkat sinis. Jemarinya meremas kuat kaleng soda yang penyok di atas meja. "Lo tahu dia pengecut kan, Den?" 

Raden mendekat, matanya tak lepas dari iris gelap Fenzo. "Mau sampai kapan, Zo? Lo lari dari kenyataan?"

Fenzo memiringkan kepala. Iris gelapnya memantulkan cahaya redup. Bibirnya menyeringai tipis, namun pandangannya kosong. "Gue baik-baik aja."

"Dasar pengecut akut!" Abimanyu memaki.

"Keluar, Bim." Raden memberi perintah dingin.

Abimanyu menatap Fenzo sekali lagi, lalu pergi sambil membanting pintu ruangan.

"Dia peduli," ulang Raden, memastikan.

Fenzo mengangguk sembari menyalakan rokoknya. Asap tebal mengepul, menutupi wajahnya yang tampak lelah. "Gue tahu."

"Terus kenapa lo nggak jujur aja? Biar kita bisa bantu—"

"Not going there, Den." potong Fenzo, penuh penekanan.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang