-Happy Reading all-
.
.
.
.
.
.
.
•••••••••••••••🍁•••••••••••••••
Suasana sunyi menyelimuti kediaman megah keluarga Delwyn. Hanya langkah samar para pelayan yang sesekali terdengar. Seolah rumah itu bergerak karena kewajiban, bukan kehidupan.
Pintu utama terbuka. Begitu Fenzo melangkah masuk, atmosfer lorong langsung berubah. Terasa lebih berat dan dingin, seakan menyambut sosok yang memang tak terbiasa disambut oleh siapa pun.
Dari arah tangga, seorang wanita paruh baya muncul. Flowinata Delwyn, tampak anggun dengan gaun rumah sederhana dan sanggul rapi. Senyum kecil menghiasi bibirnya, meski sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa lelah yang mendalam.
"Baru pulang?" sapanya lembut.
Fenzo menoleh sekilas, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Sore, Mom."
"Kenapa baru pulang?"
"Seperti biasa." Fenzo meletakkan ranselnya di sofa tanpa menatap sang ibu.
"Udah makan?"
"Belum."
Flow mendengus pelan sambil bersedekap. "Jangan sering lupa makan, Draf. Mama nggak bisa selalu ada di dekatmu untuk ngingetin terus. Sekarang makan!"
Fenzo langsung berdiri memberi gestur hormat secara jenaka sebelum melangkah ke lantai dua. "Siap. Draf ke kamar dulu ya, Mom," pamitnya tulus. Senyuman hangat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di luar sana, kecuali kepada ibunya.
Flow memandangi punggung putranya yang menaiki anak tangga. Di matanya, punggung itu bukan lagi milik bocah kecil yang dulu selalu memeluknya, melainkan milik seorang pemuda yang terpaksa tumbuh terlalu cepat karena keadaan.
•••••°°🍁°°•••••
Begitu pintu kamarnya tertutup, suasana kembali senyap. Fenzo menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Sembari menatap langit-langit kamar yang pucat, jemarinya bergerak menyentuh seuntai kalung di leher.
Satu-satunya benda yang tersisa dari seseorang. Seseorang yang kini hanya mampu hidup di dalam ingatannya.
"Maaf..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Kedua matanya terpejam, berharap kegelapan bisa menenangkan isi kepala. Namun, yang datang justru bayangan wajah yang sama. Wajah yang tak lagi ada, tapi masih terus menghantui setiap tarikan napasnya. Luka lama yang tak pernah benar-benar mengering.
"Kenapa lo pergi..." Suaranya pecah, terdengar rapuh seperti anak kecil yang kehilangan arah. Tangannya mengepal, menghantam dadanya sendiri berulang kali untuk menghalau sesak. "Lo ninggalin luka di sini..."
BRAK!
"INI BUKAN URUSAN KAMU, FLOW!"
Fenzo tersentak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Belum genap lima menit ia memejamkan mata, rumah ini seolah enggan memberinya kesempatan untuk tenang.
Pertengkaran itu lagi. Suara bentakan yang sama, makian yang sama, dan luka yang tak pernah selesai.
Mengusap wajahnya kasar, Fenzo bangkit dengan rahang yang mengeras sempurna. Langkah kakinya bergerak cepat, setengah berlari menuju pusat kegaduhan di kamar orang tuanya.
"Gak malu kamu tiap minggu gonta-ganti perempuan, Mas?!" Suara Flowinata meninggi. Semua rasa sakit yang ia pendam sendiri seolah tumpah malam ini.
PLAK!
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Novela JuvenilTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
