3. Sore Penuh Chaos

8.4K 339 11
                                        

-Happy Reading-





•••••••💙•••••••

Langit sore menumpahkan semburat jingga ke halaman rumah bergaya minimalis itu. Angin berembus pelan, menggoyangkan daun palem di depan pagar.

Akira berdiri di ambang pintu yang terbuka. Sambil menyampirkan ransel biru di satu bahu, senyum puas mengembang di wajahnya. Akhirnya, hari ini dia bisa pulang lebih cepat. Tidak ada kegiatan ekskul, tidak ada rapat. Hanya ada dia, rumah, dan aroma ayam goreng dari dapur yang terasa seperti surga dunia.

"Assalamualaikum! Rara, Putri Paling Cantik sejagat raya pulang! Karpet merahnya mana nih?!" teriaknya ceria dari ambang pintu.

"NGGAK USAH TERIAK-TERIAK, RAA! LO MAU JADI ORANG UTAN?!" sahut sebuah suara dari dalam rumah, tak kalah menggelegar.

Itu Naya, sang Bunda. Perempuan yang bisa mengomel sekaligus bercanda dalam satu tarikan napas. Well, Naya memang bukan tipikal ibu-ibu yang bertutur kata lembut ala bangsawan. Dia adalah sosok emak-emak gaul yang selalu siap meladeni drama anak-anak ajaibnya.

"Tuh, Bunda juga teriak. Lagian masa anak sendiri disamain sama orang utan? Lihat nih, anak gadismu sudah spek bidadari," balas Akira sambil berpose kocak layaknya model majalah.

Naya hanya bisa menghela napas berat, tanda kalah telak dari drama putrinya sore ini. "Enggak ada karpet merah. Adanya karpet hitam, biar sekalian lo sujud syukur karena bisa pulang cepat," sindir Naya sambil bersedekap, memasang wajah jengkel yang dibuat-buat.

Akira cengengesan. Ia menghampiri ibunya lalu mencium punggung tangan wanita itu. "Mwehehe, Bunda cantik banget deh, mirip Selena Gomez kalau lagi ngambek."

"Bunda mah emang cantik dari dulu! Makanya ayah lo bisa jadi budak cinta banget sama Bunda!"

Mendengar istilah "budak cinta" keluar dari mulut Naya, Akira mati-matian menahan tawa. "Iya deh, si paling dicinta Ayah. Tapi Ayah nggak depresi, kan, punya istri ajaib kayak Bunda?" pancingnya lagi.

"Ngomong apa barusan?!" Sorot mata Naya langsung berubah tajam, setajam pisau dapur yang baru saja diasah.

"Enggak, Bun! Bercanda, astagfirullah. Sensitif amat kayak kulit bayi," elak Akira cepat sambil melangkah mundur.

Keduanya berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Naya, dengan semangat yang kembali penuh, menaikkan volume TV untuk melanjutkan sinetron favoritnya.

"Nanti jam tujuh malam, jemput Raden di bandara," ujar Naya tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Akira langsung menoleh cepat. "Wih, si kunyuk itu jadi pulang?!"

Naya mengangguk. "Mami, Papi, sama Bima baru nyusul bulan depan."

"Bulan depan mah namanya bukan nyusul, Buna! Itu namanya terlambat!" gerutu Akira.

Naya hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh, kembali larut ke dalam dunia sinetron.

"Bun, aktris yang di TV itu cantik banget ya," pancing Akira, melontarkan umpan pertama.

Hanya gumaman malas yang ia terima sebagai jawaban.

"Coba aja dia yang jadi istri Ayah... Beuh! Pasti Akira lahirnya cantik banget kayak Ariel Tatum." Begitu kalimatnya selesai, Akira langsung memutar tumit dan ngacir secepat kilat menuju kamarnya.

Naya yang baru mencerna kalimat sang anak seketika membeku. Matanya membulat sempurna dengan urat leher menegang.

"AKIRA PUTRI QHANAYA! BUNDA CORET LO DARI DAFTAR AHLI WARIS!!"

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang