16. Pertemuan Tak Terduga

5K 235 15
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••

"...Sial."

Belum sempat yang lain paham maksudnya, Akira lebih dulu melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil tanpa ragu.

"Ra! Lo mau ngapain?!" teriak Bulan panik, nyaris menarik lengan jaketnya.

"JANGAN GILA, RA!" Mila ikut berseru—tangannya masih di setir, tapi matanya mengikuti setiap langkah gadis itu penuh kecemasan.

Akira melepas jaket dan melemparkannya sembarang arah, membiarkan dingin malam menggigit kulitnya yang hanya tertutup tanktop hitam.

Belati itu hampir terangkat—mengarah ke perut seseorang yang menunduk lelah, darah terus menetes dari pelipisnya.

"WOI!" suara Akira membelah udara sebelum tubuhnya melesat, menabrak si pembawa belati tepat sebelum pisau itu menancap. Keduanya jatuh menghantam aspal dengan benturan keras.

Bulan menendang pintu mobil dan keluar tanpa pikir panjang. "Gue gak bakal diem aja!"

“Bulan, tunggu!” seru Mila, tapi Cia juga sudah ikut keluar. “Oke,” gumamnya datar, “malam ini waktunya adrenalin.”

“Anjir! Siapa lo?!” cowok itu mendorong kasar, tapi Akira sigap bangkit dengan rahang mengeras.

"Orang normal yang muak liat pecundang!" bentaknya.

Kerumunan sempat berhenti. Beberapa menoleh, ragu. Tapi Akira terus berjalan maju ke tengah. "Lo semua, pecundang! Beraninya rame-rame gini, model banci!"

Kalimat itu seperti bensin yang disiramkan ke api. Suasana langsung kembali meledak. Tongkat, batu, dan tinju beterbangan ke segala arah.

Di tengah kekacauan itu, Mila datang paling akhir—tapi juga paling tenang. Dengan santai, ia mengikat jaket di pinggang dan mengeluarkan kunci mobil dari saku celana.

"Gue udah bilang," ucapnya datar, pandangannya menyapu medan yang berantakan di depan. "Jangan bikin gue turun."

Kakinya melangkah ke tengah lingkaran. Dari sisi lain, seorang cowok tinggi dengan tongkat besi menyeringai, matanya menelusuri tubuh Mila dari ujung kepala. "Cantik, tapi sayang—"

PLAK!

Kunci mobil itu melayang cepat dan menghantam hidung pemuda tadi. Suara retak kecil terdengar sebelum darah mengalir dari lubang hidungnya.

Mila hanya menatap datar. "Gue gak suka disapa duluan tanpa izin."

Tiga belas... lima belas... orang tumbang di tangan empat gadis itu. Sebagian tergeletak tak sadarkan diri, sebagian lagi kabur dengan wajah pucat. Sisa lawan mulai mundur pelan, menyeret langkah dalam ketakutan.

Tapi Akira belum berhenti.

Dia masih di tengah lingkaran, menindih cowok pembawa belati yang berusaha kabur, memukulinya berulang kali tanpa jeda, tanpa ampun.

Bulan berjalan mendekat, tatapannya gemetar antara takut dan cemas. "Ra... udah, please... lo denger gue, kan?!" suaranya serak, nyaris memohon. "Dia bisa mati kalau lo terusin!"

Sama sekali tidak ada sahutan, Akira memilih untuk tidak mendengar. Sampai satu suara memecah semuanya.

"SCORPION, STOP!"

Udara seolah membeku. Semua kepala otomatis berpaling ke arah sumber suara.

Langkah sepatu terdengar pelan, berat, tapi mantap. Dari balik kerumunan yang tersisa, seorang pemuda muncul—jaket hitamnya robek di bahu, darah mengering di pipi, tapi auranya... mematikan.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang