-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••
Sudah dua jam lamanya Akira menjalani hukuman Alestra, berdiri di tengah lapangan dengan kaki kiri terangkat dan tangan kanan hormat ke arah bendera.
"Gue udah mirip sate kambing kesukaan Bunda. Dibakar di atas bara api, tapi gak mateng-mateng juga!" gerutunya tertahan. "Tuh Ketos emang sadisnya nggak ngotak!"
Rambutnya berantakan, wajahnya merah padam, dan kakinya hampir mati rasa. Lama-lama, Akira yakin bisa berubah menjadi arang edisi manusia—versi cantik! tentu saja.
"OKE, ALESTRA! GUE UDAH NGGAK KUAT!!"
Tanpa pikir panjang, Akira menjatuhkan diri ke tanah, duduk di tengah lapangan yang panasnya seperti wajan bekas goreng tempe.
"Terserah mau dihukum dobel juga. Yang penting gue istirahat," gumamnya kesal sambil mengipas wajah menggunakan telapak tangan.
Dari jendela kelas di lantai dua, beberapa murid menatapnya geli. Sebagian menahan tawa, sebagian lagi menatap iba. Akira cuma bisa memutar bola mata. Benci banget gue jadi tontonan begini.
"Berdiri."
Suara datar nan familier itu terdengar lagi dari arah belakang. Akira menengadah malas, menampilkan wajahnya yang sudah lepek penuh keringat. "Nggak mau."
Alestra bergerak menekuk lututnya, berjongkok persis di depan Akira, menatap lurus ke arah gadis itu. "Pilih berdiri sendiri, atau saya gendong?" Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Refleks, Akira langsung berdiri tegak seperti prajurit siap perang. "Emang anjim nih cowok," umpatnya lirih.
Alestra ikut berdiri, ekspresinya datar, nyaris tanpa emosi. "Kamu ngumpatin saya?"
"Enggak kok," jawab Akira secepat kilat. "Itu ungkapan sayang dari aku, Bi—"
Alestra menaikkan sebelah alisnya. "Bi?"
"Bi... for babi. Karena lo kayak babi!" Akira langsung tertawa lepas mendengar leluconnya sendiri sampai harus menepuk-nepuk lututnya.
Sementara itu, Alestra tetap diam, seolah sedang menghitung berapa jumlah dosa Akira pagi ini sebelum menentukan vonis baru.
"Sisa hukuman kamu masih satu jam tiga puluh menit," ujar Alestra tenang, sukses menghentikan tawa Akira dalam sekejap.
Gadis itu mendengus sambil menyeka peluh di wajahnya. "Lo nggak liat muka gue udah kayak terang bulan gosong gini, Less?"
"Yaa, itu nasib kamu hari ini, Akira."
"Ini kesialan, bukan nasib!" ralat Akira penuh frustrasi.
"Yap, dan hari ini kesialan kamu juga termasuk jadi orang gila, kan?" balas Alestra santai.
Gemas karena terus-terusan dipojokkan, Akira spontan mengayunkan tinjunya ke arah dada Alestra. Namun, pemuda itu bergerak lebih cepat. Tangan kanannya dengan cekatan mencengkeram pergelangan tangan Akira, menghentikan serangannya di udara.
"Bagus juga insting lo," gumam Akira sinis.
"Pergerakan kamu terlalu mudah ditebak."
Bukannya takut, Akira justru memanfaatkan cengkeraman tangan itu untuk melangkah maju. Kini wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. Begitu dekat sampai hembusan napas Akira terasa hangat di kulit wajah Alestra.
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
TeenfikceTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
