39. Babu Dadakan

3.9K 169 6
                                        

•••Happy reading all•••

*

*

*

Bulan menginjak pedal rem sedikit lebih dalam, melambatkan laju mobilnya saat jalan yang mereka lalui mulai sepi. Di kiri dan kanan, pemukiman warga telah berganti menjadi jajaran pohon jati.

"Lo yakin jalannya ke sini, Ra?" tanya Bulan, matanya menyipit menatap jalanan yang minim penerangan itu.

Akira, yang sedari tadi fokus pada titik GPS di ponselnya, hanya berdeham pendek tanpa menoleh.

"Markas King Cobra terpencil banget, ya? Kayak mau uji nyali," gumam Mila sambil menempelkan wajah ke kaca jendela, memperhatikan bayangan pohon yang seolah ikut bergerak mengikuti mobil.

"Ya kalau di pinggir jalan protokol, namanya bukan markas, tapi ruko!" sahut Akira sinis.

Cia yang duduk di jok belakang menatap teman-temannya bergantian sebelum menyela polos, "Udah-udah, mending jangan berteman."

""Diem lo, Bocil! Terus ini ke mana lagi?" potong Bulan gemas.

"Pertigaan depan, ambil kiri," balas Akira. Ia menyandarkan kepala sejenak ke kursi sambil memejamkan mata. "Bentar lagi sampai. Pelan-pelan aja, Bul."

Bulan memutar kemudi mengikuti instruksi tersebut. Tak lama setelah berbelok, sebuah bangunan megah mulai tampak di ujung jalan, berdiri kokoh dan kontras dengan kesunyian di sekitarnya.

"Anjay... keren juga markasnya," Bulan melongo, spontan menghentikan mobil.

"Gede banget ternyata," Cia ikut menimpali dengan nada takjub.

"Markas Dragon nggak kalah besar dari ini," sahut Akira datar. Ia memakai cardigannya, lalu menatap ketiga temannya dengan sorot penuh peringatan. 

"Lo bertiga tunggu di sini. Jangan keluar, jangan keluyuran. Gue masuk sendiri."

Tanpa keraguan sedikit pun, kakinya melangkah mantap mendekati pintu utama. Di sana, tiga orang pemuda bertampang sangar sudah berdiri siaga dengan tangan bersedekap.

"Wih... ada paket kiriman dari mana, nih??" tanya salah satu pemuda yang telinganya penuh tindik, saking banyaknya mungkin bisa dijadikan gantungan kunci.

Akira berhenti tepat di depan mereka. Sorot matanya yang tajam menyapu ketiganya bergantian. "Mana ketua lo? Gue ada urusan."

Mendengar nada bicara yang begitu menuntut, ketiga pemuda dengan jaket kebanggaan King Cobra itu saling lempar pandang.

"Lah? Masa iya cewek semini ini gebetannya si Bos?" bisik pemuda dengan topi koboi, yang sebenarnya tidak bisa dibilang berbisik karena suaranya masih terdengar jelas.

"Cantik sih iya, tapi badannya semini sapu lidi emak gue," balas si pemuda bertindik lagi sambil terkekeh. Sementara itu, satu rekannya yang lain hanya diam, menyimak dengan ekspresi datar.

Akira menghela napas kasar. Rahangnya mengeras. Bisik-bisik macam apa itu? Bahkan semut di bawah sepatunya pun bisa mendengar ocehan sampah mereka. Shibal! batinnya mengumpat.

"Lo berdua nggak usah sok asik pake body shaming gue!" sentak Akira, membuat tawa mereka tersedak seketika. "Buruan panggil Fenzo ke sini! Gue sibuk, nggak ada waktu buat ngurusin bacotan curut kayak kalian!"

Gertakan itu rupanya cukup ampuh. Pemuda yang sedari tadi diam langsung menegakkan tubuh. Ia menjauh sedikit, berbicara singkat dengan seseorang di seberang telepon.

"Aman, Bang!" serunya setelah menutup telepon. Ia kembali menatap Akira dengan ekspresi yang lebih serius. "Lo disuruh langsung masuk. Dia nunggu di dalam."

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang