11. Insiden Kafe

5.8K 250 8
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••



"Gue tau gue cakep. Tapi asli... look at this shit!

Akira membanting ponselnya ke meja kafe, membuat Bulan refleks menahan gelas americano-nya yang hampir tumpah. 

"Santai, Kampret! Apalagi sih? Lo bikin skandal baru? Jangan bilang video lo joget pargoy pas—"

"Ini lebih parah," potong Akira, raut mukanya berubah murung. "Si Darenjing itu. Dia nge-like semua postingan Instagram gue. SEMUANYA! Dari foto zaman gue masih buluk, sampe foto konyol gue pas SD cosplay mumi pake lilitan tisu toilet!"

Mila menaikkan sebelah alisnya. "Terus... masalahnya di mana?"

"MASALAHNYA DI MANA?!" Akira menepuk meja gemas. "Ini bukan cuma stalking, Mila! Cara dia ngubrak-ngabrik lapak gue itu ga masuk akal. Persis arkeolog kesetanan yang lagi ngeduk fosil purbakala!"

Bulan langsung ngakak sampai tersedak. "ANJIR! Demi apa Bang Daren se-akut itu?! Foto poni miring jamet lo yang itu di-like juga?!"

"ITU JUGA DI-LIKE!" jerit Akira frustrasi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Cia yang dari tadi sibuk mengunyah boba ikut menyahut, "Bukannya kalau cowok nge-like foto kita dari ujung ke ujung, artinya dia naksir, ya?"

"Cia sayang..." Bulan mengelus bahu Cia prihatin."Kalau cuma like foto kemarin, itu namanya caper. Tapi kalau scroll sampe zaman Akira masih purbakala, itu sih niat stalking level Interpol!"

Mila meneguk minumannya santai, tanpa dosa. "Cuma lo doang emang yang bisa dikejar cowok red flag modelan gitu. Cocok sih, sama-sama problematic."

"Makasih loh, Mil. Pujian lo menyentuh banget," balas Akira sarkatis. Ia merosot pasrah di kursinya, menatap langit-langit kafe.

PLAK!

Suara tamparan keras dari arah belakang seketika memotong tawa mereka. Suasana ceria di Kafe itu langsung hilang.

Hanya berjarak dua meja dari mereka, seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun terduduk lemah. Pipi kirinya memerah. Di depannya, seorang pria bersetelan jas berdiri dengan rahang mengeras. Wanita muda berpakaian serba glamor berdiri di samping pria itu, bersedekap dengan senyum sinis.

"Gak usah bikin malu di tempat umum, Flow!" bentak pria itu, ketus dan penuh intimidasi. "Kamu ngapain ngikutin saya?! Pulang sekarang!"

Wanita bernama Flow itu menatapnya berkaca-kaca. "Mas... kamu bilang ada rapat luar kota. Tapi kamu malah di sini sama wanita lain? Kamu tega..."

"Banyak omong!"

Pria itu mencengkeram kasar pergelangan tangan Flow. Ia menariknya paksa hingga wanita itu limbung menabrak pinggiran meja. "Gak usah banyak tingkah. Ikut aku ke mobil!"

Si wanita muda menyilangkan tangan di dada. "Makanya Tante, cermin di rumah itu dipakai. Mas Delwyn tuh udah bosen sama Tante," ejeknya remeh.

"Sialan..." gumam Akira. Matanya berkilat marah. "Paling gak bisa gue liat cowok main tangan ke cewek."

"Ra, tunggu—" Bulan belum sempat menahan, gadis itu lebih dulu melangkah cepat menghampiri meja itu. 

Tepat saat tangan Delwyn terangkat hendak melayangkan pukulan berikutnya, Akira menyambar pergelangan tangan pria itu di udara, mencengkeramnya lebih kuat.

"Siapa kamu?! Lepas! Gak usah ikut campur urusan orang!" bentak Delwyn murka.

"Saya emang bukan siapa-siapa," jawab Akira dingin, matanya menatap lurus tanpa rasa takut sedikit pun. "Tapi maaf, kelakuan anda yang main fisik di tempat umum bikin mata saya panas."

"Cih, lepas sebelum muka kamu yang saya bikin hancur!" gertak Delwyn sambil menarik tangannya kasar.

Bukannya melepas, Akira justru memanfaatkan momentum tarik dorong itu. Ia memutar pergelangan tangan Delwyn ke arah luar, membuat pria bertubuh besar itu mengaduh kesakitan dan terpaksa membungkuk.

"Sialan...!" Delwyn yang kalap mencoba mengayunkan pukulan dengan tangan satunya.

Dengan refleks cepat, Akira merunduk, lalu mendaratkan satu tendangan tepat di perut Delwyn,  membuat pria itu hilang keseimbangan dan jatuh terduduk di kursi kosong.

Si wanita muda langsung menjerit histeris. "Lo cewek gila ya?! Kok malah main fisik sih?!"

Akira menunjuk wanita itu tajam. "Lo diem atau mau gue tendang juga?"

Wanita muda itu seketika bungkam. Ia mundur ketakutan, bersembunyi di belakang Delwyn yang masih meringis memegangi perutnya.

"Cabut lo berdua sebelum gue panggil satpam dan bikin video kekerasan lo viral di TikTok! Dasar cewek gatel kurang belaian!" gertak Akira. Napasnya masih memburu emosi.

Perhatian seluruh pengunjung kafe kini tertuju pada mereka. Delwyn menyapu pandangan dengan wajah merah padam karena malu. "Awas kamu ya!" ancamnya samar sebelum buru-buru menarik wanita mudanya keluar dari kafe.

Suasana kafe mendadak hening sejenak, sebelum perlahan kembali riuh. Akira menghembuskan napas panjang. Ia berbalik badan menatap wanita yang masih berdiri gemetar di dekat meja.

"Tante gak apa-apa?" suara Akira langsung melunak.

Flow menatap Akira dengan mata sembap. "N-nggak apa-apa, Nak... Makasih banyak ya. Kamu berani banget."

"Aman, Tante. Lain kali kalau ketemu cowok toxic gitu lagi, langsung siram aja pakai kopi panas," canda Akira pelan.

Flow terkekeh pelan di antara sisa air matanya. "Saya Flow. Nama kamu siapa, Nak?"

"Saya Akira, Tante."

"Makasih banyak ya, Akira... Tante gak tahu harus bilang apa. Jarang banget ada anak muda yang berani pasang badan kayak kamu."

"Sama-sama, Tante Flow. Tante duduk dulu aja. Mau saya temenin atau mau panggil keluarga?" tanya Akira perhatian.

Flow menyunggingkan senyum hangat, menatap Akira dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Nggak usah, Nak, Tante udah panggil supir ke sini. Sekali lagi terima kasih ya, Akira."

"Sama-sama, Tante Flow. Kalau gitu saya balik ke meja dulu ya." Akira tersenyum ramah lalu melangkah kembali ke teman-temannya.

Sementara itu,  Flow memperhatikan setiap jengkal langkah Akira dengan binar mata yang berbeda.

"Akira, ya..." gumam Flow. "Suatu hari nanti, Tante pasti bales kebaikan kamu."


••••••••••°°🌟°°••••••••••

🧚‍♀T.B.C🧚‍♀
.
.
.
.
.
.
TEROR APANIH KIRA-KIRA???
.
.
.
.
Vote+Komen
.
.
.
Next!

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang