32. Jejak Yang Disembunyikan

4K 186 4
                                        

Happy reading

••
°
••
°
••
°
°°°°°°🍁°°°°°°


Cahaya bulan nyaris tak menembus tebalnya dedaunan dan rimbunnya semak di Jalan Antareja. Udara di sini terasa berat, dingin, dipenuhi aroma debu dan lumut tua.

Akira mematikan mesin motornya jauh sebelum mencapai target. Informasi Zayyan sudah jelas: Tidak ada aliran listrik, tidak ada aktivitas mencurigakan selama sebulan terakhir. 

"Kalau ada yang ngirim pesan lewat batu, itu artinya dia tahu tempat ini benar-benar sunyi," katanya memberi simpulan.

"Status?" bisik Akira pelan, ke arah mic kecil di kerah jaketnya.

Suara Zayyan, terdengar samar dari earpiece. "Semua kamera aman, Ra. Sudut timur, barat, dan pintu belakang. Nol pergerakan. Lo sendirian di sana."

Akira menarik napas panjang. Kakinya mulai melangkah, menginjak kerikil dan ranting kering di halaman depan yang ditumbuhi ilalang setinggi lutut. "Sialan. Terlalu sepi," gumamnya. 

Belum ada enam langkah, pandangan gadis itu jatuh pada sebuah motor sport merah di balik pohon. Seketika itu juga, wajahnya menegang.

"Zay.. cek plat motor yang parkir di balik beringin. Sekarang!" 

"Motor merah? Sial! Itu blind spot yang nggak gue cover! Platnya nggak kelihatan," jawab Zayyan panik.

"Persetan! Ada orang lain di sini." Akira mencabut pisau lipat kecil dari saku jaketnya. Ia menyelinap melalui celah sempit di samping pintu utama yang berkarat, lalu menuju tangga darurat.

Tangga darurat itu berakhir di sebuah lorong sempit yang langsung terhubung ke aula utama.

Aula itu kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan, hanya hembusan angin malam.

"Sialan, gue ditip—"

"Qhanaya..."

Akira membeku sempurna. Udara di sekitarnya seolah ditarik paksa. Nama itu, diucapkan di tempat yang sama persis... dengan perlahan tubuhnya berbalik.

Bintang berdiri di ambang pintu, cahaya remang-remang dari lorong belakang membentuk siluetnya. 

"Kamu ngapain disin—"

Belum sempat kalimat itu selesai, ledakan amarah yang telah Akira tahan meledak tanpa ampun, dibarengi rasa sakit pengkhianatan.

"DIAM!" 

Bukannya mundur, pemuda itu melangkah maju lebih dekat. "Ini tempat bahaya, kenapa sendirian?" suara Bintang kembali terdengar khawatir, namun di telinga Akira, itu kebohongan.

Akira merasakan tangan pemuda itu meraih bahunya. Sentuhan itu, sentuhan yang dulu terasa aman, kini lebih menyakitkan dari tusukan pisau. 

Tubuhnya seketika luruh, terduduk lemas di lantai semen yang dingin. Akira menekuk lututnya, berusaha menjadikan tubuhnya sekecil mungkin.

Jadi beneran dia pembunuhnya? Kenapa, Tuhan...? Batin gadis itu berteriak tanpa suara.

Dari earpiece, suara Zayyan terdengar panik luar biasa. "AKIRA, SADAR! LO JANGAN LEMAH!"

Akira menggeleng, air matanya mulai keluar. Ia tidak bisa. Melihat Bintang di tempat ini, menyebut nama itu lagi, sudah cukup untuk menghancurkan pertahanannya.

Pemuda itu berlutut di hadapan Akira, berusaha meraih tangan gadis itu. "Aku bisa jelasin, Ra, aku—"

"JANGAN MENDEKAT!" teriak Akira. Ia mendorong tangannya, menolak sentuhan itu sekuat tenaga.

Kepalan tangannya berkali-kali memukul dada tanpa jeda, seolah ingin merobek sumber rasa sakit di sana

"Kenapa harus dia? Kenapa bukan lo aja yang mati?!"


•••••°°🍁°°•••••



Brak!

Pintu kayu ruangan Zayyan terdobrak keras, berderak menghantam dinding di belakangnya.

Mila dan Cia berdiri di ambang pintu, wajah keduanya memerah, perpaduan amarah dan kecemasan. Mila, dengan aura dingin yang tajam, berjalan masuk tanpa basa-basi.

"Ngapain Akira ke sana?" 

Zayyan mendengus kasar, tanpa mengalihkan pandangan dari monitor utama. "Main-main."

JJawaban itu langsung memicu emosi Mila. Dengan cepat, tangan kirinya mencengkeram kasar kerah belakang hoodie Zayyan, sementara yang kanan mencekik leher pemuda itu.

"Jangan bercanda, Zay..." desis Mila, nadanya mematikan

Zayyan sedikit terbatuk. Alih-alih panik, ia malah menyeringai miring. Kedua matanya masih setia ke arah layar komputer.

Mila perlahan melepaskan cengkramannya. Mengikuti pandangan Zayyan ke layar monitor.

Layar itu menunjukkan rekaman live yang diambil dari kamera tersembunyi. Mereka melihat Akira yang masih terduduk lemas di lantai, wajahnya hancur dalam ketakutan, dengan seorang pemuda tepat di hadapannya.

"Si brengsek itu lagi," kata Mila tajam, tangannya mengepal erat di sisi tubuh.

Cia lebih memusatkan pandangannya lagi ke arah layar, mencermati detailnya. Alisnya berkerut. "Kak, Zay... Sebenarnya ada apa?" tanya gadis itu, suaranya sedikit gemetar.

Zayyan menggosok lehernya yang sempat dicekik, jemarinya kembali sibuk menekan tombol-tombol di keyboard untuk memutar ulang beberapa rekaman yang terambil dari earpiece.

"Teror itu muncul lagi," jawab Zayyan, nadanya kini serius. "Akira diminta dateng ke gedung ini kalau mau tau siapa penyebab utama Rhanaya bunuh diri."

"Kita semua juga udah tau siapa penyebabnya, kenapa Akira nekat ke sana lagi?!" Mila refleks memukul meja kayu di samping monitor Zayyan.

Pemuda itu tertawa kecil, tawa tanpa humor. "Akira orang yang nggak mudah percaya, Mil. Tiga tahun belakangan ini dia masih cari tau siapa orang di balik semua ini selain Bintang."

Cia mengetatkan rahangnya. "Kenapa kita nggak dikasih tau?"

Zayyan hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu dan tak mau ikut campur masalah itu. "Itu rahasia dia. Intinya, bukan cuma Bintang. Tapi ada orang lain lagi."

Mila dan Cia menatap layar penuh amarah, memproses informasi bahwa ada pelaku lain yang selama ini masih bersembunyi.

"Dan yang lebih gong lagi," tambah Zayyan. "Bintang bilang, di malam kejadian itu mereka dijebak. Itu artinya, tebakan Akira benar selama ini."

Mendengar itu, Mila seketika merogoh saku, dengan cepat menghubungi kontak Bulan. Namun ponsel gadis itu tak kunjung tersambung.

"Sialan! Ponsel Bulan belum aktif," 

Zayyan menoleh cepat. "Ke mana dia?"

Mila memejamkan mata sebentar, ada kekhawatiran yang nyata. "Nyusul ke gedung itu."

Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, Cia tiba-tiba menunjuk layar monitor di sudut kanan bawah. "Kak, ada orang di lantai bawah," ucapnya sambil menarik lengan kemeja Zayyan.

Pemuda itu dengan cepat memperbesar cctv di bagian lantai dasar, tepat di lorong masuk utama. Tampak siluet seseorang yang baru saja masuk. Posturnya tegap, memakai hoodie dan topi hitam.

"Yang pasti, dia bukan Bulan. Siapa dia?"



••••••°°🌟°°••••••

-T.B.C-

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang