50. Malam yang Sengit🌿

4.1K 136 28
                                        

Seorang gadis dengan kemeja hijau army membuka maskernya, helaan nafas lega lolos begitu saja ketika kakinya sudah berada di area parkiran.

"Am--"

"Ngapain?"

Gadis itu terlonjak kaget, membalikkan badannya sambil mengelus dadanya berkali-kali. Untung dia tidak punya riwayat jantung. Kedua matanya membola ketika melihat Fenzo berdiri di depannya dengan kedua tangan berada di dalam saku jaketnya. Wajahnya datar menatap intens kearahnya. "Mata-mata?" pertanyaan yang kembali terlontar dari bibir Fenzo.

"Matalo!" sungutnya tak terima.

Fenzo memainkan lidahnya di dalam mulut, tatapannya terus mengintimidasi. Gadis berkemeja army yang ditatap seperti itupun menggeram kecil. "Kenapa harus kepergok gini sih!?!" ujarnya kesal dalam hati.

Fenzo melangkahkan kakinya lebih dekat, mengikis jarak diantara keduanya. Manik keduanya terus beradu tatapan, Fenzo dengan tatapan datar dan gadis itu dengan tatapan tajam. "Lo nguping?"

"Enggak! Siapa yang nguping? pede lo!"

"Dari tadi gue liat."

"Yaudah sih Wir! Itu urusan lo, bukan urusan gue! Mau lo liat kek, engga kek, bukan urusan gue!"

"Lo pikir gue bodoh?" celetuk Fenzo.

"Lah gue ga bilang lo bodoh, lo ngerasa lebih baik sih!" balas gadis itu sambil menaik turunkan kedua alisnya.

Fenzo menggeram, semakin mendekat membuat gadis itu melangkah mundur hingga punggungnya menubruk badan mobil tepat di belakangnya.

"Siapa lo sebenarnya?" Fenzo terus menatap lurus manik mata yang sama, manik mata yang pernah ia lihat beberapa hari lalu di suatu tempat, tapi dimana? entahlah

"Gue?"

"Gue calon orang sukses!" balasnya membuat Fenzo mengeraskan rahangnya.

Kedua tangan Fenzo mencengkeram keras pundak gadis dengan kemeja hijau army itu. "Gue ga suka bercanda!" tekannya di setiap kata.

Gadis itu terkekeh sinis, siapa yang lagi bercanda heh!? "Who is Joking bro?"

Cengkeraman di pundaknya semakin kencang, tidak ada rintihan kesakitan yang kaluar dari bibir ranumnya, melainkan senyuman tipis yang terukir indah disana.

"Apa mau lo?"

Gadis itu menarik bibir bawahnya kedalam, sedikit membasahi bibirnya. Menatap iris mata hitam yang terus menusuk kearah netranya. "Gue mau dua mansion mewah, lima civic dan pabrik cimory!" pekiknya girang.

Fenzo menghela nafasnya kasar, gadis di depannya ini hanya bisa membuatnya tersulut emosi. Ada sedikit niat untuk melemparkan gadis ini ke jalan raya yang dipenuhi truk-truk besar.

"Ngapain lo kesini?"

Gadis itu menghela nafasnya pelan, "Cailah! Pakek nanya!"

"Ngapain?"

"Ya lo pikir aja gue kesini ngapain anying!"

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang