15. Tenang Sebelum Badai

5.3K 250 10
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••


Malam menelan kota dengan sunyi yang aneh. Langit gelap tanpa bintang, udara lembap, dan aroma aspal basah menyelinap ke dalam markas King Cobra.

Lampu neon menggantung miring, memantulkan cahaya pucat di dinding penuh coretan cat hitam. Beberapa anak duduk di lantai, sebagian bersandar di tabung kayu, sisanya sibuk dengan rokok dan kaleng minuman.

Di tengah ruangan, Fenzo duduk di kursi besi, punggungnya bersandar setengah malas. Kaos hitamnya menempel di perban putih yang masih baru. Asap rokok di tangannya naik tipis, lurus, tanpa arah.

Raden duduk di kursi seberang, menatap diam beberapa detik sebelum akhirnya bicara. "Gue masih gak habis pikir, Zo" suaranya datar tapi berat. "Lo nggak bilang siapa-siapa soal luka segitu parahnya. Mau mati diem-diem?"

Fenzo menatap ujung rokok di tangannya. Bara merahnya memantul samar di matanya yang redup. "Cuma luka kecil," katanya ringan.

"Luka kecil?" Raden mendengus, nada suaranya naik sedikit. "Bro, itu punggung lo kayak habis digaruk macan. Lo ribut sama siapa, hah?"

Suasana langsung hening sejenak. Beberapa anak yang tadinya santai kini ikut menatap. Fenzo menarik napas pelan, seolah malas menjelaskan. "Tawuran minggu lalu. Kena lagi, kebuka."

"Tawuran minggu lalu? Yang lawan anak Rancore? Gue tau, lo bahkan nggak luka setitik pun." celetuk Daren, pemuda itu duduk dengan posisi setengah membungkuk di meja kayu.

Satria, yang dari tadi sibuk mengutak-atik pemantik, ikut nyeletuk tanpa mengangkat kepala. "Dia bohongin lo, Ren. Nih orang nggak bakal jujur kalo soal darah di punggung."

"Percaya nggak percaya, terserah."

Kalimatnya pendek, tapi cukup untuk menutup semua pertanyaan - atau setidaknya harus begitu. Suasana sempat hening lagi sebelum salah satu anggota lain, Reza bersuara santai tapi penuh nada usil. "Eh, ngomong-ngomong... gue denger lo diobatin cewe ya? Di UKS?"

Beberapa kepala ikut menoleh, disusul tawa kecil yang cepat menular. "Seriusan tuh, Bos?" seru yang lain. "Lo? Diobatin cewe? Gila, langka banget!"

Suara mereka bercampur dengan denting kaleng kosong dan kepulan asap rokok. Suasana markas yang tadinya tenang berubah jadi penuh godaan dan bisik-bisik penasaran.

Raden menyandarkan kedua sikunya di lutut, menatap Fenzo cukup lama. "Kayaknya bukan cuma rumor, ya."

Pemuda itu tak bereaksi. Ia hanya menghisap rokok dalam diam, membiarkan bara di ujungnya menyala lalu padam seperti denyut kecil yang menahan sesuatu di balik tenang.

Daren, yang duduk di samping Raden, melirik cepat ke arah Satria, Deco, lalu Abimanyu yang bersandar diam di pojok ruangan. Pandangan mereka bertemu singkat-cukup untuk saling paham tanpa kata. Mereka semua tahu apa yang sebenarnya terjadi di UKS tadi siang.

Deco akhirnya bersiul pelan, nada suaranya seperti ejekan halus. "Gila... Fenzo, yang biasanya nggak bisa dideketin cewek, tiba-tiba nurut disuruh buka kaos. Dunia mulai kebalik, nih."

Tawa kecil sempat pecah, sebelum pandangan Fenzo menukik tajam - dingin, nyaris tanpa emosi. Mengubah suasana ruangan kembali senyap tanpa suara.

Abimanyu, yang sedari tadi hanya diam di sudut, akhirnya angkat suara. Nada bicaranya datar seperti biasa, tapi cukup untuk memecah udara yang menegang."Fenzo nggak cuma nurut. Dia diem, nggak marah, nggak ngelak. Gue liat sendiri."

Kata-katanya membuat ruangan terasa lebih dingin. Fenzo menghembuskan asap rokok, lalu membuang sisa abunya ke lantai. "Nggak ada alasan nolak"

Lontaran itu membuat Raden diam. Abimanyu menatap Fenzo sekilas, sementara Daren dan Satria saling pandang - kali ini tanpa tawa. Hanya Deco yang mencoba mencairkan suasana, meski suaranya ikut menurun.

"Kalo nggak salah... itu pertama kalinya lo kelihatan diem bukan karena marah, Zo. Tapi karena, lo beneran tenang."

Semua mata kembali kearah Fenzo. Pemuda itu menatap abu rokok di ujung jarinya, membiarkan bara merahnya padam perlahan. Di bawah cahaya neon yang redup, matanya tampak lebih gelap dari biasanya.

"Tenang, ya?" gumamnya pelan.



•••••••🍁•••••••



"Aku masih nggak habis pikir sih," kata Cia dari kursi belakang sambil menggulung lengan jaketnya. "Tadi siang kok bisa kalian berdua bisa ngurusin Kak Fenzo."

"Fix, abis ini kita makan mie viral itu, ya kan?" seru Cia sambil memainkan rambutnya.

"Iya, tapi jangan kaget kalo antrinya kayak mau beli tiket konser," timpal Bulan yang duduk di samping gadis itu, tepatnya di kursi belakang.

Mila menatap spion sebentar, senyum tipis muncul di wajahnya. "Gue udah cek maps, lewat sini paling cepet. Cuma lima belas menit lagi nyampe."

Akira yang duduk di kursi penumpang depan hanya mengangguk, menatap ke luar jendela. Matanya fokus pada jalan lurus di depan, tapi pikirannya masih setengah kosong.

Sampai akhirnya- "Eh, itu apa ya rame-rame?" suara Cia tiba-tiba memecah suasana.

Mobil melambat. Mila mengerutkan dahi, pandangan tajamnya menembus kaca depan. Di kejauhan, ada kerumunan. Beberapa orang berlari ke arah berlawanan, dan samar-samar, terdengar suara teriakan bercampur logam beradu.

"Gue nggak salah liat, kan... itu tawuran?" tanya Akira pelan.

Mobil makin dekat. Sekarang mereka bisa melihat jelas-sekitar lima orang di sisi kanan jalan, dikeroyok hampir dua puluh orang lainnya. Ada yang bawa tongkat, ada yang cuma pake tangan kosong, tapi semua tampak brutal.

"Anjir..." desis Bulan lirih, wajahnya mulai tegang.

"Lo jangan berhenti, Mil!" kata Akira cepat. "Gas aja pelan, tapi jangan berhenti."

Mila menggenggam setir erat, tapi rasa panik mulai merayap. "Gue-gue gak bisa lewat, Ra. Mereka nutup jalan!"

Brak!
Salah satu tongkat besi mental ke arah mobil, membentur bemper depan. Akira spontan menekan klakson keras-keras.
"Tepiin! Woi! Ada mobil, woi!" teriaknya sambil terus menekan klakson.

Tapi tidak ada yang menoleh. Tawuran malah semakin brutal. Akira memicingkan mata, pandangannya menyapu cepat ke setiap wajah yang ada di sana. Sampai netra abunya terpaku pada...

Seorang cowok - berdiri sedikit di belakang, berjalan pelan di antara kerumunan sambil membawa sesuatu yang berkilat. Sebilah belati.

Langkahnya tenang, tapi mata tajamnya fokus ke satu titik. Seseorang yang sedang bertarung habis-habisan di tengah lingkaran.

Dan detik itu juga, intuisi Akira menjerit.
"...Sial."



••••••••••°°🌟°°••••••••••

🧚‍♀ T-B-C 🧚‍♀
.
.
.
.
.
.
.
Siapa suka siapa ya kira-kira?🤔
.
.
.
.
.
Vote!
.
.
.
Spam komen semangat!
.
.
.
Next Chapter!😍

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang