34. Candu

4.3K 186 2
                                        

-Happy Reading-

-

-

-

•••••°°🦋°°••••



Halaman belakang Starlight dipenuhi para siswa. Tepuk tangan dan sorakan antusias memenuhi udara, menyambut para penampil  yang berani unjuk gigi di atas panggung.

Namun, perhatian mendadak teralihkan. Bukan oleh aksi di atas panggung, melainkan karena kehadiran segerombolan remaja laki-laki berseragam pramuka yang mencuri fokus semua mata.

"Kalian yang pakai seragam pramuka! Berhenti!"

Suara bariton itu menggelegar. Alestra, Ketua OSIS yang paling perfeksionis, berdiri dengan jas almamater cokelat gelap. 

"Kenapa, Les? Terpesona ya lihat kegantengan kita hari ini?" sahut Daren tanpa dosa, sambil merapikan ikat kepala merahnya.

Urat di leher Alestra menegang, sementara rahangnya mengatup rapat hingga bunyi giginya bergemeletuk terdengar oleh orang di sekitarnya. "Kalian murid Starlight, bukan?"

"Ya jelas," Raden nyengir sambil mengedikkan bahu. "Kalau kita siluman, dari tadi udah tembus pagar, bukan antre baris di sini." lanjutnya mengundang tawa.

"Hari ini jadwal pakai baju olahraga," tegas Alestra. "Kenapa kalian pakai pramuka?"

Satria terkekeh, nada bicaranya sengaja dibuat menyebalkan. "Lah, emang nggak boleh tampil beda?"

Kesabarannya nyaris habis menghadapi murid-murid yang menganggap aturan sekolah tak lebih dari sekadar formalitas. Pandangan Alestra sontak tertuju pada pemuda yang paling tenang di antara mereka.

"Rapikan seragammu, Fenzo. Duduk di barisan kelasmu. Sekarang!" perintahnya tegas.

Pemuda itu hanya menaikkan satu alis. Tanpa sepatah kata, ia berbalik dan memberi isyarat singkat pada teman-temannya. Alih-alih menuju barisan kelas sendiri, mereka justru bergerak ke barisan belakang, bergabung dengan kelas sebelas.

Di depan sana, panggung sedang diambil alih oleh Septiana Andini. Suara merdunya menyihir penonton, tapi tidak bagi anggota inti King Cobra yang justru asik pada obrolan sendiri.

"Gila, mantan lo makin bening aja, Ren," bisik Satria. 

"Mantan itu kayak barang antik," Daren menanggapi sok puitis. "Makin lama, makin mahal... asal dilihat dari jauh."

Namun, ketenangan mereka terganggu oleh teriakan melengking dari arah samping.

"GILA! PANAS BANGET! INI SEKOLAH APA KAWAH CANDRADIMUKA?!"

Akira berdiri sambil mengibaskan tangan, jepit rambut monyetnya bergoyang liar. Di sebelahnya, Bulan, Cia, dan Mila hanya bisa menutup wajah, menahan malu.

"Berisik, Ra! Malu-maluin!" desis Bulan.

"Biarin! Biar lebih semangat!" balas gadis itu tak mau kalah.

"Heh! Bisa diam nggak? Telinga gue mau pecah nih!" sentak Anjani, pemimpin geng Sweetgirls yang barisnya tak jauh dari kelasnya. 

Riasan tebal di wajah Anjani dan ketiga temannya makin menegaskan tatapan merendahkan yang mereka lemparkan.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang