46. Bulan dan Lukanya

3.6K 97 6
                                        

Bulan menghela napas berat. Jika bukan karena paksaan Mamanya, ia tak akan sudi menginjakkan kaki di ruang keluarga ini. Suasana riuh oleh tawa keluarga besar, namun bagi Bulan, itu hanyalah kebisingan yang mengancam.

"Gal, masih lama nggak?"

"Sabar. Lo nggak lihat ratu gosip lagi beraksi? Biasanya kalau emak-emak udah gibah, dunia berhenti berputar. Makanya, sekali-kali jadi cewek dong!" balas Galaksi tengil tanpa mengalihkan pandangan dari game online di ponselnya.

Bulan mencibir. Di momen seperti inilah identitasnya sebagai "gadis banyak tingkah" luntur total, berubah menjadi sosok super kalem. 

"Ngomong-ngomong, Tara kapan pulang ke Indonesia?"

Selamat datang, dunia perbandingan, batin Bulan kecut. Ia berdiri hendak melarikan diri, namun deheman Papanya mengunci langkahnya. Mau tak mau, Bulan kembali duduk dan tenggelam kedalam ponselnya.

"Mungkin setelah lulus SMA. Tara sudah nyaman di sana, temannya banyak, otaknya encer, cantik pula. Iya kan, Bulan? Kamu pasti bangga punya sepupu sehebat dia?" Tante Nia melempar umpan beracun.

Bulan tersenyum paksa di bawah pengawasan tajam Papanya. "Iya, Tante."

"Perduli apa gue," gumam gadis itu pelan yang disambut kekehan Galaksi.

"Terus gimana nilai anak kamu, Safira? Masih setia di peringkat bawah atau sudah ada kemajuan?" cecar Nia lagi, kali ini langsung menusuk ulu hati Mamanya.

Baru saja, Safira hendak membuka suara, Arnando memotongnya dengan kalimat yang jauh lebih menyakitkan daripada ejekan Tante Nia.

"Mau gimana lagi? Kemampuan anaknya memang cuma segitu. Mau dipaksa sampai mati pun, otaknya nggak bakal nyampe," ucap pria itu tanpa beban, seolah Bulan hanyalah benda mati di ruangan itu.

Tante Nia tertawa puas. "Aduh Bulan, harusnya kamu contoh Tara. Nilainya sempurna, nggak ada yang merah."

Bulan melirik Papanya. Pria itu mengepalkan tangan, sorot matanya yang dingin menatap Bulan dengan gelengan kecewa. 

"Jangan bandingkan sama Tara, Dek. Kejauhan," desis Arnando dingin. "Bahkan sama Galaksi pun, dia nggak akan pernah bisa setara."

Deg

Senyum Bulan luntur. Perbandingan paling menyakitkan adalah saat namamu disandingkan dengan saudara sedarah.

"Entah apa gunanya dia di rumah, selain koleksi angka merah di rapor," tambah Arnando telak.

"Maaf, aku pulang duluan." Bulan bangkit tanpa permata, meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa mencekik itu.



••••••°°🍁°°••••••



"REFILIYA! KESINI KAMU!"

Baru saja Bulan sampai di dapur rumahnya, bentakan Arnando menggelegar. Pria itu pulang lebih cepat dari perkiraan.

PLAKK!

"FIL!" teriak Mama dan Galaksi bersamaan. Bulan mematung, memegangi pipinya yang berdenyut panas.

"Kamu tahu betapa malunya Papa tadi?! Bisa nggak kamu bertindak normal dan tidak membuat Papa terlihat seperti orang tua gagal?!" geram Arnando.

"Karena aku capek, Pa!" teriak Bulan dengan suara parau yang pecah oleh isakan. "Papa nggak pernah mau tahu apa yang aku bisa! Papa cuma ingin aku jadi piala pajangan yang bisa Papa pamerkan! Papa malu punya aku, kan?!"

PLAKK!

Tamparan kedua mendarat di pipi yang sama. Lebih keras. Lebih menyakitkan.

"DIAM! Kamu semakin tidak tahu diri!"

Bulan menunduk, bahunya terguncang hebat. Tangisnya bukan lagi suara, melainkan sesak yang menyiksa. Galaksi langsung pasang badan, menarik Bulan ke belakang punggungnya.

"Papa keterlaluan! Filiya bukan gadis bodoh!" tegas Galaksi dengan mata berkilat marah.

"Galaksi! Kamu berani membangkang  Papah?!"

"Papa sendiri yang bilang, tugas Kakak itu menjadi perisai adiknya. Aku cuma jalanin apa yang Papa ajarkan!" sahut Galaksi tajam. Tanpa menunggu jawaban, ia menarik Bulan menaiki tangga.

Safira menatap suaminya penuh kekecewaan. "Kamu puas, Mas? Dulu Galaksi nggak sengaja mukul Bulan aja kamu marah besar. Sekarang? Kamu sendiri yang hancurin jiwanya!" 

Arnando terdiam, memandangi telapak tangannya yang gemetar. Penyesalan mulai merayap, namun ego masih menahannya untuk mengejar.

Di kamar bernuansa ungu, keheningan terasa berat. Bulan hanya bisa meringkuk di pojok kasur, sampai akhirnya ia menghambur ke pelukan Galaksi. Menumpahkan seluruh luka yang ia simpan sendirian.

"Senyum kalau lo bahagia, nangis kalau lo sedih. Jangan pura-pura kuat di depan gue, Fil. Lo nggak harus jadi sempurna di depan gue." bisik Galaksi, suaranya melembut, sangat kontras dengan nada tajamnya tadi.

Tangisan Bulan pecah menjadi raungan pilu. Bahunya naik turun mencari oksigen di tengah isakan yang menyesakkan.

"Lo hebat, Fil. Lo berharga. Jangan dengerin kata-kata mereka, lo adik paling berisik dan paling keren yang gue punya," mantra itu terus diucapkan Galaksi sampai tubuh Bulan berhenti bergetar.

"Makasih... Kak," bisik gadis itu parau.

"Inget, jangan ditahan lagi!" Galaksi melepaskan pelukan, seketika wajahnya berubah horor. "Tapi nggak di baju gue juga, setan! Ini kaos limited edition, ingus lo merata begini!"

Bulan tersenyum tipis di tengah mata sembapnya. Ia mengusap hidungnya dengan kaos hijau army itu tanpa dosa. "Ikhlasin, Gal. Ingus gue wangi surga kok."

"Gue mau muntah," decak Galaksi sinis, walau tangannya tetap mengacak rambut Bulan dengan sayang.

"Tenang aja, kalau pacar gue ada di sini, gue nggak bakal sudi nempel ke lo lagi!" Bulan mencoba mengembalikan jati dirinya, meski pipinya masih merah.

"Emang ada yang mau sama lo yang rewel begini?" ejek Galaksi sambil melenggang keluar kamar.

BUK!

Satu bantal meluncur deras, namun Galaksi menghindar dengan lincah.

"GALAKSIALAN!"

"Durhaka lo sama abang!" teriaknya dari balik pintu.

Bulan terdiam sejenak, menatap pintu yang tertutup. Tawa kecil keluar dari bibirnya, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menyembuhkan luka yang mungkin tak akan pernah benar-benar hilang.


Tbc




Timaacihh sudah membaca🍄💅

Jangan lupa vote dan komennya💅

See you maniess💙🙆‍♀

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang