19. Rencana Gelap

4.9K 223 5
                                        

❣️-Happy Reading-❣️
.
.
.
.
.
.
............°°🌼°°............


Fenzo duduk menyamping, satu tangan menopang dagu, ekspresinya datar—sejenis ketenangan yang justru terasa seperti ancaman terselubung. Dari posisi itu, netranya masih memperhatikan meja keempat gadis tadi.

Bukan lirikan romantis. Bukan rindu. Bukan juga soft moment. Tapi seperti seseorang yang sedang menghitung, menilai, mengukur, atau ingin menagih sesuatu yang belum terselesaikan. 

Abimanyu di depannya sibuk memisahkan Angkasa dan Ara yang saling berebut sendok, tapi Fenzo sama sekali tidak terseret dalam kekacauan kecil itu. Ada ketegangan halus di bahu dan rahangnya, sinyal bahwa kepala dinginnya sedang dipaksa menahan sesuatu.

Ketika pandangan keduanya bertemu, Akira langsung menunduk lebih cepat. "Astaga. Dia masih liatin gue. Kenapa sih? Gue salah apa lagi?" desisnya panik.

Mila menyesap minumannya, lalu berdeham singkat. "Dari awal, kayaknya lo emang punya riwayat gelap sama dia. Tinggal tunggu, kapan tanggal mainnya."

Cia melirik Fenzo sebentar, lalu balik ke Akira dengan kesimpulan yang jauh dari menenangkan. "Kak Fenzo tuh liatin kamu kayak kamu abis ngambil barangnya yang penting. Dan dia bakal cari kamu sampe liang semut sekalipun kalau kabur."

Akira menegakkan bahunya sedikit dengan mulut ternganga, "Barang? Apa? Utang mie instan? Apa gue pernah nyolong sendalnya yang ketinggalan di mushola?"

Bulan tertawa kecil, tapi nadanya kembali turun. "Serius, Ra. Tatapan Bang Fenzo tuh beda. Kayak dia nunggu momen tepat buat ngomong sesuatu ke lo"

Akira tanpa sadar kembali mengangkat kepala. Pemuda itu sama sekali belum mengalihkan pandangan. Sebaliknya, mata gelap Fenzo tertaut langsung ke matanya, tenang, datar, dan terlalu jernih untuk disalahartikan.

Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada ketertarikan juga. Tapi apa??

Abimanyu akhirnya menyadari Fenzo yang tidak mengikuti pembicaraan sama sekali. "Zho." Tubuhnya condong kedepan "Lo dari tadi ngeliatin situ mulu. Liat apa?"

Fenzo tidak langsung menjawab. Matanya tetap lurus ke arah meja Akira. Tangannya memutar gelas es teh pelan—gerakan khasnya ketika sedang menahan sesuatu untuk tidak meledak sekarang.

"...Urusan." katanya pendek. 

Abimanyu memicingkan mata, mulai merasa ada yang janggal. "Zho... serius. Urusan lo apa sama cewek itu?"

Fenzo diam cukup lama. Setelah beberapa detik, pandangannya beralih. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyuman... lebih seperti isyarat bahwa pikirannya sedang bekerja di tempat yang tidak bisa diikuti orang lain.

"Urusan yang belum selesai."

•••••°°🍁°°•••••



Dan di tempat lain, seseorang sedang menunggu momen itu tiba.

Ruangan itu tanpa jendela. Hanya ada satu lampu kuning redup yang menggantung terlalu rendah, membuat bayangan dua sosok di bawahnya menjulur di lantai seperti siluet monster yang sedang merundingkan takdir seseorang.

Di atas meja kayu tua, foto-foto, peta, serta guntingan berita mengenai kecelakaan yang tak pernah tuntas diusut berserakan tanpa pola.

Pria tinggi dengan rambut yang disisir rapi ke belakang, mengetuk sebuah foto menggunakan jarinya. Foto itu menampilkan Fenzo, duduk di warung makan, menatap seorang gadis yang sama sekali tidak sadar bahwa ia sedang menjadi target.

"Dia terpancing," katanya datar. Suaranya bergema di dinding yang lembap. "Lebih cepat dari dugaan."

Pemuda di sebelahnya mengambil foto itu tanpa izin. Matanya menyipit, membaca sorot mata Fenzo seperti sedang membaca kode rahasia.

"Tatapannya... rumit," gumamnya. "Bukan dendam murni. Lebih kayak... Ada rasa ingin tahu yang kehalang benci. Kombinasi yang berbahaya."

"Cukup bagus," jawab pria tadi sambil menggeser dua foto lain ke tengah meja. Dua wajah perempuan yang begitu mirip, satu tersenyum cerah, satu lagi menatap kosong tanpa ekspresi.

"Akira Qhanaya dan Akila Rhanaya, saudara kembar yang sudah mati salah satunya.."

"Jangan bilang Akila mati, Ayah!" bentaknya keras. 

"Dia ada di sini," Telapak tangan kiri pemuda itu menepuk dada perlahan, tepat di atas jantung. "Dan gue gak bakal biarin siapa pun ngilangin dia dari sini."

Senyum tipis muncul di bibir sang Ayah, senyum yang lebih seperti ejekan daripada pujian kasih sayang. "Kalau begitu jawab satu pertanyaan saya," ujarnya pelan. Tubuhnya condong ke depan. "Kamu sebenarnya mencintai yang mana?"

Rahang pemuda itu mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. "Aku cinta Rhanaya," katanya serak. "Tapi sekarang... Akira harus jadi milikku. Selamanya."

"Gadis itu punya mata yang sama. Cara dia natap aku pun sama." Nadanya goyah namun gelap. "Dan Ayah tahu aku gak bisa kehilangan itu dua kali."

Sang Ayah memperhatikan dengan tatapan menelanjangi. Lalu ia tersenyum sinis. "Bagaimana kalau gadis itu justru jatuh cinta pada Drafenzo?"

BRAK!

Kursi kayu terpelanting keras dan pecah menghantam lantai. Nafas pemuda itu memburu, matanya menyala seperti bara yang siap menyambar apa pun.

"Ayah mau mati?" Nada suaranya datar, seperti seseorang yang benar-benar menawarkan opsi, bukan ancaman.

"Gue gak akan biarin itu terjadi," lanjutnya sambil merapikan kerah jaket, gerakannya seperti sedang mempersiapkan diri untuk perang. "Siapa pun yang berani nyentuh Akira duluan... sama aja bunuh diri."

Sang Ayah menyandarkan tubuh ke kursi, menyilangkan tangan seperti sedang menonton drama kecil. "Termasuk Drafenzo?"

Pertanyaan tadi menggantung di udara.

"Fenzo..." Bibirnya menggumam, seolah mencicipi nama itu di lidahnya. "Dia bukan ancaman. Dia hanya... pion."

Kakinya melangkah pelan menuju meja, menelusuri foto Akira dengan ujung jarinya. "Tapi kalau dia mulai merasa punya hak atas gadisku..." Kepalanya menunduk rendah, bibirnya nyaris menyentuh permukaan foto itu.

"...maka dia akan hilang seperti yang lain." suaranya berubah selembut bisikan doa.



••••••••••°°🌟°°••••••••••

💙 T.B.C 💙
.
..
.
..
.
..
.
..
.
Vote!
.
.
.
Share!
.
.
.
Kira-kira ada apa nih gess??






DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang