1. Cipratan Awal

13K 470 38
                                        

Gerimis turun perlahan pagi itu, membentuk titik-titik air di atas aspal yang mulai mengilap. Udara terasa segar, bercampur dengan aroma tanah basah yang menusuk hidung siapapun pagi ini.

Lima motor besar melaju beriringan dengan kecepatan stabil, membelah jalanan yang masih diselimuti kabut tipis.

Fenzo, yang memimpin di barisan paling depan sesekali melirik kaca spion. Memastikan teman-temannya masih dalam formasi.

Awalnya semua terkendali, sampai ban depan motornya tak sengaja melindas genangan air di pinggir jalan. Sialnya, cipratan air kotor itu langsung mengenai seragam seorang gadis yang sedang berdiri di sana.

Waktu seolah berhenti. Gadis dengan jepit bunga matahari itu terpaku menatap nanar seragam putihnya yang kini penuh bercak cokelat. Setelah satu helaan napas berat yang sarat emosi, tangannya bergerak cepat memungut kerikil di dekat kaki, lalu melemparnya sekuat tenaga.

Tak! 

"Shit...

Dan tepat sasaran.

"WOI! BERHENTI, LO!" teriak gadis itu lantang.

Dalam hitungan detik, kelima motor besar itu serempak menepi ke bahu jalan. Beberapa warga menoleh, tidak ada yang berani mendekat, hanya menonton dari jauh dengan rasa ingin tahu. Belum sempat lima pemotor itu melepas helm, suara teriakan keras kembali memecah suasana.

"LO BUTA, HAH?! Ngga lihat gue berdiri di situ?!" Wajahnya mengeras menahan kesal. Ia menunjuk tempatnya berdiri tadi, lalu menepuk seragamnya yang basah. "Lihat nih! Gara-gara lo, baju gue jadi kotor!"

Fenzo tak bergeming. Pemuda itu masih duduk santai di atas motornya dengan helm setengah terbuka.

"Wah, lo bisu?!"

Para pemuda di belakang Fenzo serentak menunduk, beberapa bahkan menahan napas karena waswas. Gadis itu benar-benar sedang memancing singa tidur.

Fenzo menarik napas pelan. Tatapannya terkunci pada gadis yang kini berdiri menantang di sisi motornya. "Salah siapa lo berdiri di situ?"

"Heh?! Lo udah salah, malah nyalahin orang lain?!" bentak gadis itu meradang. "Otak lo sehat, nggak?!"

"Bacot." Balasan itu diucapkan dengan nada rendah, tetapi cukup tajam untuk membungkam suasana.

"Astagfirullah! Lo tuh manusia apa setan, sih?!" seru gadis itu. Tanpa diduga, satu tendangan kuatnya langsung menghantam ban depan motor Fenzo.

"Anjay..." bisik salah satu cowok di belakang, nyaris tak percaya.

"Eh, itu bukannya seragam SMA kita, ya?" gumam pemuda ber-headband merah.

Teman di sebelahnya hanya mengangguk ngeri, lalu buru-buru melempar pandang ke arah Fenzo.

Dan benar saja, pemuda itu akhirnya turun dari motor. Gerakannya tenang, tetapi aura di sekelilingnya mendadak berubah.

"Terus, lo mau apa, Akira Putri?" suara Fenzo terdengar pelan dan berat, nyaris seperti geraman.

Tatapannya sempat turun ke nametag di dada gadis itu, sebelum kembali naik, mengunci sepasang netra abu-abu yang masih berani menatapnya penuh emosi.

"Jangan sok kenal lo!" sergah Akira cepat. "Minimal, lo minta maaf!" lanjutnya, menekankan setiap kata sambil mendorong kasar dada Fenzo.

"Ga sudi."

Dua kata yang terdengar tenang, tapi cukup untuk menyalakan api di kedua mata gadis ber-nametag  Akira Putri Qhanaya itu. 

Tanpa pikir panjang, tinju Akira melayang cepat, menghantam pelipis kiri Fenzo dengan telak.

Bugh!

Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibir Fenzo, nyaris seperti ejekan yang ditahan. "Berani juga lo."

"Lo pikir gue takut?!" balas Akira tak kalah sengit. Dia maju selangkah hingga jarak mereka terkikis habis. Tatapan keduanya saling mengunci. Tegang, dingin, dan tanpa niat untuk mundur.

Tanpa peringatan, Akira mengusap luka di pelipis Fenzo. Gerakannya cepat dan sedikit kasar, sukses membuat pemuda itu tertegun sejenak. Sebelum Fenzo sempat bereaksi, Akira sudah mengoleskan sisa darah di jarinya ke seragam milik pemuda itu.

"Tuh, biar adil," cetus Akira puas.

Pandangan Fenzo turun, menatap noda merah yang kini mengotori pakaiannya. Seketika itu juga, sorot matanya berubah. Gelap, tajam, dan jauh lebih berbahaya.

"Time to play," suaranya dingin, lebih mirip seperti ancaman daripada sekedar kata.

Fenzo mengambil langkah mundur untuk naik ke atas kendaraannya, sementara Akira masih berdiri tegak seraya memamerkan senyum sinisnya. 

Senyum yang lebih mirip tantangan dibanding kemenangan.

Fenzo menyalakan mesin motornya, lalu membunyikan klakson pendek satu kali sebagai isyarat. Seketika, empat motor di belakangnya ikut meraung serempak. Kelima pemuda itu melesat pergi dalam sekejap, meninggalkan Akira sendirian di tepi jalan bersama sisa amarahnya.

"Sialan! Mentang-mentang bawa pasukan!" 


............🌟............

T.B.C

🍒-0◇0-🍒


Haii gayss, makasih buat yang udah baca cerita ini. Plisss banged bacanya jangan bab ini tok terus berhenti. Sedih aku tuh klo kayak gitu hehe.

Cinta banyak banyak buat yang baca.

Jangan lupa vote ya gayss.

Satu bintang mu, beribu ribu happy untukku. Anjaiii....😍😎💙💙💙💙

Follow Ig : wp.cieeHaluu_

Banyak misteri yang bakal buat kalian penasaran gayss. Jangan bosan baca ceritanya yaa💙😣😗

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang