2. Siapa Takut?

9.7K 369 25
                                        

-Happy Reading-







•••••••💙•••••••


"Lo kenapa sih, Raa? Muka lo asem banget, kayak monyet belum dikasih pisang." Dengan jahil, Bulan menggoyang-goyangkan pulpen di depan wajah Akira, berharap bisa memancing reaksi.

"Jangan ganggu, Nyed! Gue lagi kesel pake banget," balas Akira tanpa menatap ke arahnya.

"Wih, serem amat, Buk." Bulan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan dagu bertumpu di telapak tangan. "Perasaan lo kesel mulu deh. Vibes-nya tuh udah kayak orang ngebet kawin, sumpah—"

"HAH?!" Akira mendongak dengan pupil melebar, satu alisnya terangkat tinggi. "Lo mau kawin, Bul?!"

"GAK GITU KONSEPNYA, GOBLOK!!"

Seketika seluruh murid menoleh. Suasana kelas langsung hening. Bahkan spidol di tangan Pak Budi, guru matematika berkacamata bulat itu, ikut berhenti di tengah gerakan menulis.

"HEH! Kamu yang teriak! Barusan kamu bilang apa?!"

Bulan membeku di tempat, wajahnya seketika pucat pasi. "Eh... anu, Pak..." Ia menelan ludah susah payah. "Saya cuma... ini, Pak... ngetes akustik kelas. Bagus kok, pantulannya... hehehe."

Jawaban itu langsung memicu ledakan tawa dari sebagian besar murid di kelas.

"Buat kamu! Kerjakan tiga soal ini sampai benar, baru boleh istirahat. Yang lain, silakan keluar!" perintah Pak Budi tegas sambil menunjuk papan tulis.

Bulan langsung berdiri memprotes. "Loh, Pak?! Gak bisa gitu dong... anak-anak cacing di perut saya udah minta makan nih, Pak!"

Akira ikut bangkit, lalu dengan sok anggun mengangkat tangan memberi hormat kepada Pak Budi. "SIAP, PAK BUDI! Makan tuh soal, bye-bye Bulan cantik..."

"APA?! Kamu mau protes, Bulan?! Mau saya tambah soalnya?!" ancam Pak Budi dengan mata mendelik tajam ke arah Bulan.

Dalam hitungan detik, semua murid sudah berhamburan keluar kelas, meninggalkan Bulan yang kini menatap papan tulis seolah sedang menatap takdir buruknya.

"Sialan lo, Kirasu..." gumamnya lirih. "Gue sumpahin lo keselek bakwan di kantin."

Dari luar koridor, suara cempreng Akira masih terdengar nyaring. "CINTA GAK HARUS TENTANG RUMUS, BUL~"

Bulan mendengus sebal sembari menatap jendela. "Ya tapi otak perlu, bego."




•••••🍁•••••


Akira, Mila, dan Cia memilih duduk di meja kantin paling pojok—tempat yang nyaris tak pernah disentuh anak-anak SMA Starlight karena letaknya paling jauh dari stan makanan.

"Bulan kenapa sampai dihukum gitu?" tanya Mila sambil merapikan rambutnya yang dikuncir kuda, gestur yang sudah menjadi ciri khasnya sejak dulu.

Akira menoleh sekilas, tangannya masih sibuk mengaduk-aduk batagor di piring. "Mila cantik... ya karena dia tuh emang orangnya ajaib abis."

Cia yang mulutnya penuh biskuit bayi ikut menyahut polos, "Kasihan tahu, Bulan disuruh ngerjain soal sendirian. Pak Budi kejam banget, mirip villain di drama Korea."

"Yee~ Itu mah bukan Pak Budi yang kejam, Ci. Tapi emang karma!" Senyum nakal terbit di wajah Akira saat membayangkan Bulan pontang-panting di depan papan tulis, berusaha menaklukkan deretan rumus rumit.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang