9. Sepupu Rahasia

5.9K 275 14
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••

Bel pulang SMA Starlight bergema nyaring, menyulut riuh kebebasan massal. Dalam hitungan detik, koridor mendadak padat oleh derap sepatu dan riuh tawa murid-murid yang berhamburan keluar.

"Akhirnya bebas dari pelajaran sejarah yang bikin trauma!" seru Akira puas sambil melompat kecil, membiarkan rambutnya berantakan diterpa angin sore.

Bulan terkekeh, jemarinya memutar kunci loker di tangan. "Sumpah, Ra, gaya lo tuh kayak abis menang lotre, bukan abis belajar sejarah."

Bulan terkekeh, jemarinya memutar kunci loker. "Sumpah, Ra, gaya lo tuh kayak abis dapet jackpot, bukan abis belajar sejarah."

"Sama aja, kan? Dua-duanya sama-sama langka!" sahut Akira yang langsung disambut tawa lepas Mila dan Cia.

Keempat gadis itu berjalan beriringan menyusuri koridor. Di sisi kiri, beberapa murid masih sibuk membereskan buku, sementara di sisi kanan, anak-anak OSIS tampak sibuk memantau kegiatan ekskul.

"Eh, dedek gemes~ semangat ya belajarnya!" seru Bulan sambil melambai centil ke sekelompok adik kelas cowok yang lewat. "Doa Kakak selalu bersama kalian... tapi jangan kepinteran, capek tau!"

Godaan itu langsung membuat mereka salah tingkah, ada yang menunduk malu, ada juga yang malah nyengir lebar. Sementara Mila yang sudah muak, dengan kesal mencubit lengan gadis itu pelan.

"Lo tuh gak bosen ya bikin geger sekolah tiap hari?"

"Gini-gini gue public entertainer sekolah, ya. Kalau nggak ada gue, tempat ini sepi kayak lab IPA jam istirahat," sahut Bulan bangga.

Akira terkekeh kecil, tangannya merogoh ponsel dari saku rok dengan gerakan malas. Detik itu juga, senyum puas di wajahnya mendadak pudar melihat satu notifikasi di layar.

Bunda Galak❤️: Pulang bareng Raden. Mang Ardi nggak bisa jemput.

"Apaan, sih..." gumam Akira frustrasi.

"Siapa tuh?" tanya Mila, matanya menyipit penuh kecurigaan.

"Bukan siapa-siapa."

"Uh-uh, klasik banget jawabannya," goda Bulan sambil menyenggol bahu Akira cukup kuat. "Ngaku aja, Ra. Cowok, ya? Jangan bilang... pacar rahasia?"

"Cowok, iya! Rahasia, iya! Tapi bukan pacar!" seru Akira defensif. Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Raden udah balik, dan Bunda nyuruh gue pulang bareng tuh kunyuk."

Langkah ketiga gadis itu langsung terhenti seketika. Mereka menatap Akira dengan ekspresi campur aduk antara kaget, kagum, dan tidak percaya.

"Wih!? Bang Rad—" seru Bulan spontan, belum sempat kalimat itu tuntas, mulutnya lebih dulu dibekap erat oleh Akira.

"Jangan kenceng-kenceng, anjir!" bisik Akira panik. Matanya menyapu sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. "Gak ada yang tahu kalau dia sepupu gue, ngerti!?"

Cia memiringkan kepala, ekspresinya polos. "Rara, kamu nggak mau ngakuin dia sepupu kamu? Jahat banget..."

Bulan langsung menyilangkan tangan di depan dada. "Hooh! Laknat lo, Ra! Kalau gue punya sepupu sekeren Bang Raden, udah gue cetak mukanya di kaos, terus gue jual di depan sekolah. Laku keras, sumpah!"

Akira memutar bola matanya jengah. "Bukan gitu maksud gue, bego. Tapi dia itu..."

Suasana mendadak hening. Akira menunduk sedikit, lalu memberi isyarat agar mereka mendekat. Ketiganya refleks ikut mencondongkan tubuh.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang