28. Sentuhan dan Tantangan

4.2K 213 2
                                        

Akira berjalan cepat menuju Lapangan Basket Outdoor. Ia berusaha mengabaikan ratusan pasang mata yang kini berkerumun, menatapnya penuh rasa ingin tahu dan sensasi.

Di tengah lapangan, Fenzo menunggunya. Pemuda itu sudah berganti kaus, mengenakan jersey tanpa lengan berwarna putih yang memamerkan lekukan otot lengannya. 

Bola basket terus memantul perlahan di antara tangannya. Pemuda itu sama sekali tidak menoleh, namun pantulan bolanya terhenti tepat saat Akira melintasi garis tengah.

 "Ternyata lo sebodoh itu, sampai nurutin panggilan dari speaker." ucapnya menusuk, tanpa basa-basi.

Akira berhenti di garis free throw, menjatuhkan tasnya dengan kasar. "Gue nggak bodoh. Gue cuma nggak suka diperintah orang gila yang ganggu waktu pulang gue," 

Fenzo memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke arah gadis yang kini masih mengenakan setelan olahraga. 

"Gue tantang sepuluh point, one-on-one," kata pemuda itu sambil melempar bola ke udara, lalu menangkapnya lagi. "Lo kalah, jadi asisten pribadi gue dua bulan. Lo menang... lo dapat apa pun dari gue."

Beberapa teman kelas Akira saling pandang. Gadis itu memang juaranya main basket. Tapi melawan Fenzo, si Kapten Basket sekolah yang dijuluki The Unbeatable? Itu tantangan yang nyaris mustahil.

Akira berjalan memutari Fenzo, mengintimidasi balik dengan ketenangan.

"Deal. Dan kalau gue menang," Langkahnya berhenti di samping Fenzo, pandangan Akira mengunci tatapan pemuda itu, "permintaan pertama gue, lo harus berlutut di kaki gue di hadapan semua orang."

Fenzo menyeringai, "Permintaan yang bagus. Sayangnya, permintaan itu mustahil."

Tangannya melempar bola ke udara, tinggi. Bola orange itu melambung, mencapai puncaknya di bawah terik matahari. "Siap?" tanya Fenzo, suaranya penuh percaya diri.

"Lebih dari siap," balas Akira.

Pertandingan dimulai dengan tempo yang cepat dan sengit. Fenzo, dengan skill dan pengalaman sebagai kapten, memimpin lebih dulu.

Namun, Akira membuktikan kenapa ia dijuluki "Ratu Lapangan" di kelasnya. Ia lincah, gerakannya cepat, dan tembakan tiga angkanya beberapa kali berhasil membelah jaring tanpa menyentuh ring.

Skor berjalan cepat, diwarnai aksi saling sikut, dribble cepat, dan blocking yang keras.

Satria dan Daren, yang awalnya yakin dengan kemenangan mudah, kini melebarkan mulut tak percaya.

"Gila! Dia... dia bisa ngimbangin Fenzo?!" Satria berteriak dengan suara serak.

"Bahkan footwork dia rapi banget. Si bos sampai harus main fisik," tambah Daren, menggelengkan kepala.

Papan skor menunjukkan keunggulan yang mengejutkan. Akira mencetak dua lay-up beruntun, meninggalkan Fenzo.

6 - 4 untuk Akira!

Kerumunan mulai pecah. Anak-anak kelas Akira berteriak histeris, menyemangati pahlawan mereka.

"AKIRA! AKIRA! AKIRA!"

"TEBAS, KIR! TEBAS!"

"BUKTIIN KALAU LO BENERAN BANASPATI VERSI ANJAI!"

Fenzo menyeka peluh di dahinya. Senyumnya menghilang, digantikan ekspresi serius. Ia mulai bermain lebih fokus dan agresif. Dalam dua kali serangan berturut-turut, shooting Fenzo berhasil, menyamakan kedudukan.

6 - 6.

Keduanya semakin ngotot. Poin bertambah satu demi satu, hingga mencapai titik krusial.

9 - 9. Match point.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang