20. Topi Nyasar

4.8K 226 12
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••


Senin selalu datang dengan cara paling menyebalkan. Alarm berbunyi seperti sirine perang dunia, otak menolak sadar, dan kaki Akira memilih mogok kerja. Dan seperti biasa atau mungkin takdir memang hobi menjadikannya bahan komedi.

Dia terlambat. Lagi dan lagi.

Gerbang Starlight tinggal beberapa meter lagi di depan sana. Pak Seno, satpam paling perfeksionis, memegang sisi gerbang seolah siap menutupnya tepat di muka siapa pun yang tidak menghargai waktu.

"Dua menit lagi!" teriaknya.

"Pak! Pak! Tangannya tahan dikit!" Akira meluncur seperti pesawat mau mendarat darurat, hampir tersungkur ketika sampai di depan gerbang.

Pak Seno mendengus sambil melipat tangan. "Hobi lo balapan tiap Senin, Kir?"

"Daripada jadi tontonan gerbang ketutup di depan muka Pak..." Akira menjawab sambil memegangi lutut.

Kakinya melangkah menuju koridor, berniat meletakkan tas di kelas, tapi suara Bu Rina langsung memotong langkah hidupnya.

"AKIRA! Jangan ke kelas! Upacara sudah mau mulai!"

"Bu, saya-"

"Tasnya titip ke satpam. Langsung baris!"

Hidup memang tidak pernah berpihak pada gadis itu.

Dengan pasrah seperti pengantin kabur yang tertangkap, Akira menyerahkan tasnya ke pos satpam. Baru merapikan rambut, kesialan berikutnya datang.

Topinya tidak ada.

Dan satu-satunya pilihan adalah bergabung ke barisan "Korban Senin" anak-anak yang tidak memakai atribut lengkap. Barisan yang sering disebut guru sebagai 'jalur tobat'.

Saat Akira berdiri di sana, hampir semua siswa menoleh. Fenomena langka-jarang ada cewek yang masuk barisan jalur tobat.

"Iya liatin aja... hidup gue emang sekocak itu, bro..." gumamnya.

Belum sempat menyesali hidup-

Pluk.

Sebuah topi mendarat rapi di kepalanya. Pas ukuran, pas sudutnya. Seolah memang ditargetkan untuknya.

Akira langsung menoleh. Tidak ada siapapun di jarak dekat. Hanya ada rombongan King Cobra yang baru saja berjalan masuk ke barisan mereka.

Daren langsung nyeletuk sambil cengengesan, "Lo ngapain baris di sini, dedek gemes? Atribut lengkap juga. Emang dosa apa lagi lo?"

Akira melongo, tangannya memegang topi yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu.

Beberapa anak lain ikut memperhatikan. Mereka jelas lihat tadi Akira tidak pakai topi. Sekarang pakai. Munculnya ajaib. Seperti sulap.

Raden melongok dari balik bahu Daren. "Udah pakai aja dulu, Kir. Mending cepet pergi. Hampir separuh mata anak Starlight liatin elo."

Akira langsung paham maksudnya.

Belum tahu itu topi siapa, pandangannya buru-buru menunduk, perlahan melangkah mundur dari barisan.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang