24. Serangan Tanpa Peringatan

4.5K 195 6
                                        

-Happy Reading All-





•••••°°💙°°•••••


Suasana markas King Cobra saat ini sangat ramai. Tawa dan teriakan mulai mengisi udara, ditambah lagi dengan kedatangan Satria dan juga Daren.

"Wihhh! Tumben lo berdua masuk frame barengan? KENCAN dulu kan lo pada?!" teriak Raden, volumenya selalu setara dengan toa masjid subuh.

"Lambe lo, Den. Kuping gue jadi pengen resign," sahut Dani sambil geleng-geleng.

"Mata lo kencan!" Daren langsung pasang mode ustadz sok alim. "Satria barusan tuh dari masjid, Den. Ngajar ngaji TPA dulu. Nggak heran sih, gue emang pembawa dampak positif."

Raden mendengus, matanya tak lepas dari layar ponsel. "Sholat aja masih bolong-bolong kayak jalanan Bekasi, gaya lo sok suci amat, Sat!"

Daren dan Satria saling tatap, lalu mendelik tajam. "Iri? Bilang... cok!" sahut keduanya bersamaan.

Bugh!

Kotak susu Ultra Milk cokelat meluncur dari tangan Raden, akurasinya setara rudal jarak pendek, dan mendarat telak di wajah Daren.

"SETAN LU, DEN!" 

"Apasih babi?" balas Raden terdengar santai, bahkan tidak sudi mengalihkan pandangannya dari notifikasi 'Victory' di layar.

Semua orang di markas pecah oleh tawa. Duo Raden-Daren memang selalu jadi tontonan stand up comedy dadakan.

Satria hanya bisa menghela napas, gestur frustrasi ala Bapak-Bapak di kantor kelurahan. "Astaga... kagak ada yang waras disini. Otak gue pengen pensiun." Ia memilih duduk di dekat Abimanyu, yang dari tadi anteng, fokus sepenuhnya hanya pada ponsel.

"Oi, Bim,"

"Hm," balas pemuda itu, jawaban standar yang ringkas dan minim interaksi seperti biasa.

Karena penyakit kepo-nya sudah mendarah daging, Satria mulai mencuri pandang kearah layar ponsel Abimanyu. Dan di detik berikutnya....

"ANJAI SI ABIM SUK- Mmmff!!"

Mulutnya langsung dibekap dengan kecepatan setara ninja yang dikejar debt collector. Semua yang ada di sana langsung menghentikan aktivitasnya, otomatis melirik penasaran.

"Diem kalau lo masih mau makan nasi padang besok," bisik Abimanyu, suaranya landai tapi penuh ancaman.

Satria manggut-manggut cepat, nyaris megap-megap kehabisan oksigen. "Hah-huh-Astagfirulloh. Hampir KO gue," katanya sambil menyeka keringat dingin.

"Si Abim emang serem, sumpah. Kenapa dia, Sat?" tanya Raden penasaran, akhirnya ikut menoleh.

Satria merangkak sedikit menjauh dari posisi Abimanyu. "Noh... dia nonton film dewasa."

Seluruh ruangan mendadak sunyi senyap. Hanya ada suara kipas angin dan dengungan charger ponsel. Abimanyu menatap Satria dengan pandangan: Satu kata lagi, lo nggak akan bisa ngomong lagi.

"Lo mau patah tulang, Sat?"

Satria langsung kabur ke belakang Fenzo untuk mencari perlindungan. "Joo! Tolongin gue Joo! Liat tuh muka Abim, kayak mau makan gue!"

Fenzo menatap pemuda berkacamata itu sebentar, sebelum senyum tipis, penuh arti, muncul di sudut bibirnya.

Abimanyu langsung sadar, sedikit gugup diberi tatapan seperti itu. "Gue nggak nonton begituan lah. Mulut si Satria aja yang ngawur!"

"Huuuuu dasar mulut turah!" Daren langsung mengejek sambil membersihkan wajahnya dari sisa susu.

Fenzo berdeham singkat, berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Deco, dimana?"

Brak!

Belum sempat ada yang menjawab, suara gaduh memecah keheningan di luar markas. Bukan suara kendaraan, tapi seperti sesuatu yang sengaja dihancurkan dengan kasar.

​"WOI! KELUAR LO SEMUA, ANJING!"

​Fenzo, yang paling tenang, menyunggingkan senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Senyum berbahaya.

​"Scorpion," ucapnya, nadanya datar, dingin, tapi cukup lantang.

​Raden, yang masih memegang ponsel, langsung melompat berdiri. Mode Victory di layarnya terasa ironis.

​"Jadi bener, mereka comeback?" suaranya dipenuhi keterkejutan.

​Satria, yang tadi bersembunyi di belakang Fenzo, ikut nimbrung sambil menelan ludah susah payah. "Gue kira Black Wolf cuma bercanda doang," bisiknya.

​Fenzo tidak menjawab. Senyumnya menghilang, diganti ekspresi serius dan dominan. Ia menoleh ke seluruh anggotanya.

​"Semua dengar!" Fenzo memberi perintah. "Tiga puluh anggota yang siap bertarung, keluar! Sisanya diem di sini, stay on standby!"

​Tanpa perlu perintah kedua, suasana santai markas langsung lenyap, digantikan aura kesiapan tempur.

Mereka semua berjalan keluar, langsung disambut pemandangan puluhan motor terparkir acak dan sekitar empat puluh orang dengan jaket hitam berlambang kalajengking berjejer disana.

Di barisan paling depan, seorang pemuda dengan ikat kepala hitamnya senyum terlalu lebar. Matanya tajam, seolah menikmati pemandangan di hadapannya.

​Langkah kaki Raden langsung terhenti detik itu juga. Ritme jantungnya dua kali lebih cepat. Dia mengenalnya.

Bintang.

​Kepalan tangannya mengeras, tapi ekspresi wajahnya masih berusaha menahan diri. Tidak ada yang boleh tahu, betapa bencinya dia pada pemuda di depan sana.

"Jadi ini, kandang King Cobra?" suara Bintang memecah hening.

Fenzo maju satu langkah, mengunci pandangan penuh pada pemuda di hadapannya. "Lo? Ketua baru Scorpion?"

​"Kenapa? Lo takut kalah saing?"

​Fenzo terkekeh pendek. Tatapannya turun naik, mengukur Bintang dari rambut sampai ujung sepatu.

"Bro... lo salah pilih lawan." katanya sambil menepuk pundak Bintang dua kali. Gesture kecil, tapi penuh penghinaan.

Bintang ikut terkekeh, lalu mengibaskan pundaknya seperti menghilangkan noda. "Retorika lo sama aja. Tapi gue bukan datang buat debat, Fenzo." Nada suaranya merendah, "gue datang buat nyabut akar kalian."

Matanya bergeser, berhenti tepat di Abimanyu. "Terutama lo, si pintar yang selalu sok netral. Lepasin gadget lo, Bim, dan tunjukkin kalau lo bukan cuma hacker culun."

​Abimanyu hanya tersenyum tipis. Senyum yang jauh lebih mengancam daripada gertakan siapapun. Ia memasukkan ponsel ke saku jaket, kini matanya kembali fokus.

​"Lo kebanyakan nyocot, Bocah!" potong Daren dengan suara serak menahan emosi. "Sikat aja, Zo. Mereka udah kayak lalat."

​Bintang mengayun tubuhnya maju, dua langkah cepat dan penuh percaya diri. "Gue rasa lo emang pengen banget ngerasain tendangan gue lagi," Pandangannya menatap satu persatu inti King Cobra, sengaja mengincar ego lawannya dulu.

​"Daren, atau Satria, yang tadi gue lihat kayak anak TK minta izin pipis. Atau... si tukang game tolol itu." Ujung dagunya menunjuk Raden, membuat amarah pemuda itu hampir meledak.

​Fenzo akhirnya menurunkan tangannya. Auranya berubah, dari tenang menjadi lebih senyap dan mematikan.

​"King Cobra," Suaranya dalam, bergema seperti aba-aba terakhir sebelum perang pecah.

Semua anggota yang ada di belakang serentak mengangkat kepala.

"Sikat habis. Tanpa sisa!"



•••••°°✨🍁✨°°•••••
🐚T-B-C🐚





Vote!



Next????

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang