▪-▪Happy reading-▪-
•
•
•
•
•
•
•
Smile solusinya!
-00💙00-
Pemuda itu hanya menyunggingkan senyum tipis. Sinis dan penuh perhitungan. Ada sedikit ketertarikan dingin, nyaris seperti predator yang menemukan mangsanya.
"Lo ngarep gue berlutut, heh?"
"Berlutut? Seriously?" Akira melipat tangan di depan dada, sorot matanya yang tajam menelanjangi Fenzo dari ujung rambut hingga sepatunya. "Lo pikir masalah kelar cuma karena lo buang duit?"
Sekilas matanya melirik nametag di seragam pemuda itu. "Drafenzo... Dengar baik-baik, harga diri gue bukan barang obral yang bisa lo beli pakai kompensasi instan."
Dia mendekat, cukup dekat hingga bibirnya sejajar dengan telinga Fenzo. Hembusan napas hangat beraroma peppermint menyapu sisi wajah pemuda itu. Bukan intim, tapi mengintimidasi.
"Gue nggak butuh sisa etika lo," bisiknya, pelan namun penuh tekanan.
Telunjuknya terangkat, mengarah tepat ke dada Fenzo tanpa menyentuh. "Ucapan terima kasih basi dari lo... nilainya lebih rendah dari debu yang nempel di sol sepatu gue."
Tepat setelah kalimat itu selesai, Akira menarik tubuhnya menjauh, memutar tumit dengan gerakan cepat, dan melangkah pergi.
"Cewek nggak tahu diri,"
Kata-kata itu cukup untuk menghentikan langkahnya. Akira menahan napas sesaat, belum sempat dia berbalik, suara Fenzo kembali menembus keheningan lebih dalam.
"Nyata, kan?" Nada suaranya ringan, hampir seperti lelucon. "Lo nggak tahu diri... dan gampang dibeli. Mungkin."
"Bajingan! Masalah lo sama gue apa, hah!?" balas Akira dengan suara tinggi, amarahnya mulai membakar habis ketenangan yang suda dia jaga sejak tadi.
Braak!
Meja di depan Fenzo bergeser keras oleh tendangan lututnya. Kali ini dia berdiri, berjalan mendekat ke arah gadis yang kini menantangnya dengan aura dingin yang setara
Ruangan mendadak sunyi. Beberapa siswa refleks menunduk, pura-pura sibuk dengan buku, sementara yang lain menahan napas.
"Lo bisa pura-pura semahal yang lo mau..." Seringaian kecilnya muncul lagi. "Tapi, semua orang punya harga. Termasuk lo." lanjut Fenzo dengan mata berkilat liar. Jarak keduanya kini kurang dari sejengkal.
Akira membalas senyuman itu dengan smirk menghina yang lebih mematikan.
"Halah, kelakuan lo nggak jauh beda sama sampah. Katanya The Big Boss King Cobra? Image sangar, tapi moral lo level preman kampung. Malu, Bro, sama title elit lo," sindirnya, memukul telak ke inti status pemuda itu.
"Lo—"
"APA?! MAU NGOMONG APA?! BILANG SEMUA DI DEPAN GUE!" potong Akira, memprovokasi habis-habisan sambil mendongak.
Raquell buru-buru menarik lengan gadis itu ke belakang. "Udah, Ra, tahan emosi lo."
"Bentar, Kak! Cowok kayak gini harus dikasih curahan kebaikan biar nggak goblok!" Mata mereka kembali beradu, memancarkan api permusuhan yang sama kuatnya.
"Anjir, baru kali ini ada yang berani goblok-goblokin Pak Bos," bisik Daren pelan kepada Raden dan Satria.
"Tampang high class, moral low class!"
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Ficção AdolescenteTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
