29. Para Babi Licik

4.1K 199 2
                                        

-Happy reading all-
💙



•••••°°•••••


05.20

Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika handphone Akira berdering tanpa jeda. Tangannya berusaha meraih dengan mata setengah terpejam.

Panggilan dari nomor tak dikenal.

Gadis itu mendengus, mengangkatnya dengan suara serak khas bangun tidur. "Siapa?"

Suara seorang pemuda menyambut di seberang sana tanpa basa-basi. "Dek Akira. Ini Satria. Lo ingat gue, kan?"

Akira langsung tersentak kaget. Rasa kantuknya hilang seketika, berganti rasa kesal dan marah yang langsung naik ke ubun-ubun. "Ngapain lo telepon sepagi ini, bejir?!"

"Mulai hari ini, lo resmi jadi asisten pribadi Fenzo selama dua bulan ke depan. Itu kesepakatan," ucap Satria, suaranya lugas, tidak memberi ruang untuk protes. "Dan ini perintah pertama dari si Fenzo."

"Perintah apa? Lo mau gue jadi bodyguard-nya atau... gue harus nyuci motor jeleknya itu?"

"Jauh lebih rendah dari itu,"  tawa Satria terdengar mengejek di telinganya. "Lo harus bersihin toilet gedung olahraga lantai dua, jam istirahat nanti."

Akira memutar bola matanya jengkel. "Toilet gedung? Kenapa nggak nyuruh gue bersihin WC umum aja sekalian?" 

"Itu toilet eksklusif, khusus buat anggota King Cobra, dan lo... harus bersihin pakai sikat gigi."

Akira langsung melompat turun dari tempat tidurnya. Matanya membelalak, napasnya tercekat oleh rasa jijik dan penghinaan yang luar biasa.

"APA?! Bersihin toilet pakai sikat gigi?! LO GILA, HEH?!"

"Gue enggak gila. Bos cuma kasih lo tugas yang pas. Katanya, 'Yang kalah, nurut. Itu aturannya."

Sebelum sambungan terputus, suara pemuda itu terdengar lagi, nadanya lebih mengancam.

"Bersihin sampai NGGAK ada setetes pun noda air atau bau. Kalau lo nggak dateng atau mangkir, perintah dari Fenzo bakal jauh lebih buruk dari sekadar bersihin kotoran!"

Tut ! Tut! Tut!

Mendengar hal itu, Akira langsung melempar handphone-nya ke kasur. Fenzo tidak hanya ingin membuatnya bekerja, dia ingin menghancurkan harga dirinya, merendahkannya sampai ke titik terendah.

"Gue pastiin, setelah selesai dengan tugas sampah ini, lo akan terima balasan yang lebih busuk, Drafenzo.."



••••••°°🍁°°••••••


Ketika bel istirahat berbunyi, beberapa anak di kelasnya langsung berlari menuju kantin. Berbeda dengan ketiga gadis yang malah mengelilingi mejanya.

"Ra, seriusan cuma disuruh bersihin toilet?" tanya Bulan, wajahnya masih memuat ekspresi jijik.

Akira mengangguk, menyandarkan dagunya di lipatan tangan. "Pakai sikat gigi bekas, ceunah."

Cia refleks melebarkan mulutnya, "Gila. Itu sih namanya nyuruh kamu bunuh diri pelan-pelan."

"Ati-ati aja sih, Ra. Itu toilet jarang dipakai, dan katanya sih angker.." sahut Danu berusaha menakuti.

Brak!

"Justru itu seninya!" ucap Akira setelah menggebrak meja. "Dia mau gue down. Tapi nggak akan bisa."

"Terus, sikat besar yang lo bawa dari rumah, sekarang dimana?" kali ini Mila yang penasaran.

"Udah aman gue titip Mbok Jum, tinggal eksekusi aja"

"Kak Akira!" suara teriakan dari ambang pintu memecah pembicaraan mereka. "Udah ditunggu di Gedung Olahraga!" kata gadis itu lagi agak keras.

Akira hanya mengangguk malas. Mau tak mau, ia harus menghadapi tantangan gila itu. Sebelum pergi kesana, kakinya lebih dulu berlari ke kantin mbok Jum penuh semangat.

"Assalamualaikum, Mbok Jum. Sikat titipan saya mana, ya?"

"Waalaikumsallam.. Oh, sikatnya? Tadi Den Daren anak kelas dua belas yang pinjam, Neng. Katanya disuruh Non Akira buat ambil!" balas wanita paruh baya itu sambil tersenyum.

Akira mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Mereka semua memang kumpulan serigala berbulu babi licik.

"Babi lo semua," desisnya. "Yaudah, Mbok. Makasih ya!" Langkahnya yang penuh dendam langsung membawanya sampai di gedung olahraga.

Daren, Raden, dan Satria sudah menunggu di sana, berdiri angkuh tepat di depan toilet. 

"Lama banget, Dek Akira," sapa Raden sambil menyerahkan sikat gigi anak kecil bekas dan sebotol cairan pembersih. Tak lupa juga mengedipkan mata jahil. "Nih alat tempurnya. Semangat ya. Jangan sampai bau!"

Mulut Akira diam. Tapi kakinya bergerak menendang tulang kering Raden dengan keras dan cepat.

Pemuda itu sontak melompat kesakitan, memegangi kaki kanannya sambil meringis keras. "WOI! SAKIT ANJING!"

Satria dan Daren refleks menjauh, pura-pura memeriksa keadaan sekitar gedung, tapi bisikan kedua pemuda itu masih terdengar jelas.

"Galak banget gila," bisik Daren."Emang spek cewe kuli sih dia. Fenzo nggak salah milih," balas Satria sambil terkekeh pelan.

Akira dengan malas melangkah masuk ke toilet untuk segera menyelesaikan tugas menjijikkan itu.

Tepat sebelum pintu ayun toilet tertutup, gadis itu menyembulkan kepalanya sekali lagi, suaranya tajam dan penuh ancaman.

"Bilang ke Bos Sialan Babi lo itu! Tunggu pembalasan gue!"

Belum juga Raden sempat mengeluh soal kakinya, sebuah suara dingin dan tegas menyahut dari ambang pintu.

"Gue tunggu, crazy girl."


•••••••°°🌟°°•••••••
~T-B-C~



Next yaw!!

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang