41. Tunduknya Predator Putih

4K 188 13
                                        


Udara ruang bawah tanah mendadak beku saat jemari Akira menyentuh selot besi. Di belakangnya, Fenzo tak hanya menonton, ujung pisau lipatnya menekan pinggang Akira, memaksanya masuk kedalam.

"Masuk. Atau gue dorong lo tanpa kunci." bisik Fenzo.

GRRRRR-AKH!

Geraman rendah itu membuat debu di lantai berterbangan. Langkah Akira sempat goyah, bahkan sampai mundur satu langkah. 

Ayo, Ra! Lo pasti bisa! Dia Arow, dia nggak mungkin nyakitin lo! batinnya menguatkan diri.

Melihat mangsanya ragu, Jax merendah. Otot-otot predator itu menegang di balik bulunya, siap menerkam kapan saja. Di luar jeruji, Fenzo tanpa sadar menahan napas. Tangannya bersiap di balik saku, waspada penuh jika keadaan benar-benar lepas kendali.

Sementara Akira justru melakukan hal gila. Ia mantap melangkah maju, mendekati Jax. Dengan tangan gemetar yang dipaksakan stabil, Akira mengusap pelan moncong hangat harimau itu.

Jax sesaat terpaku. Geramannya hilang, berganti dengan keheningan janggal. Mereka kembali bertatap cukup lama, seolah sedang menjahit kembali memori yang sempat terputus.

"Hei, Boy. Apa kabar?" bisik Akira, nyaris tak terdengar.

Detik itu juga, pertahanan sang predator runtuh. Penguasa markas King Cobra yang dikenal paling ganas tersebut langsung menundukkan kepala, menduselkan wajah di bawah kaki Akira dengan manja.

Fenzo yang menyaksikan semua itu tersentak sampai tubuhnya tegak sempurna."Sial! Siapa dia? Dan Jax... kenapa dia bisa tunduk secepat itu?" 

Iris gelapnya tak pernah luput di setiap pergerakan Akira yang malah asyik mengusap kepala Jax, membiarkan kucing besar itu menjilati tangannya. Bahkan sesekali tertawa kecil.

"Gue nggak pernah lihat dia jinak sama siapa pun, kecuali sama gue," suara Fenzo memecah suasana.

Akira menoleh. Sisa tawanya masih menempel di bibir, namun matanya menyipit sinis ke arah pemuda itu. "Karena dia punya hati. Sesuatu yang nggak lo punya."

"Gue nggak suka cara lo natap gue," desis Fenzo. Ia melangkah masuk ke dalam kandang, lalu menutup pintunya dari dalam.

Akira berdiri tegak, menepuk-nepuk tangannya yang kotor dengan gaya santai. "Gue udah kasih dia makan, dan jari gue masih lengkap," ucapnya angkuh. "Jadi sekarang, gue mau pulang."

"Lo pikir, gue bakal biarin lo pergi gitu aja?" Fenzo tersenyum miring, senyum yang membuat Akira sadar bahwa kepulangannya tidak akan semudah itu. 

"Maksud lo apa, Babi!? Jangan main-main sama gue." 

Tangan kasar Fenzo beralih ke leher Akira, mencekik pelan namun cukup untuk membuat gadis itu kesulitan bernapas."Lo punya utang sama gue. Dan malam ini, lo nggak bakal ke mana-mana sampai gue dapet apa yang gue mau."

"Lepasin... bajingan..." rintih Akira.

"ZOO! LEPASIN DIA!"

Teriakan Abimanyu membuat cengkeraman itu terlepas. Fenzo menoleh tajam ke ambang pintu, di mana teman-temannya berdiri dengan raut tegang.

"Lo siapa berani merintah gue?" desis Fenzo rendah, aura kepemimpinannya menguar penuh ancaman.

Abimanyu menghela napas lelah, memijat pangkal hidungnya sebelum menatap Fenzo serius. "Gio telepon. Dia tahu ada cewek di sini."

Rahang Fenzo mengeras seketika. Ekspresi angkuhnya luntur, digantikan kilat emosi yang tertahan. Sejenak hening, sebelum ia kembali menatap Akira yang tengah mengusap lehernya.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang