35. Aroma Dendam Busuk

4.2K 176 1
                                        


-Happy Reading-
.
.
.
.
.
•••••••°°💙°°•••••••

Udara siang yang bau karat dari tangki air raksasa mencekik penciuman. Abimanyu masuk sambil membanting pintu besi rooftop, menimbulkan bunyi yang memicu gema panjang.

"​Gue bilang jangan gegabah, Zo! Lo cuma punya asumsi, bukan vonis!" bentak Abimanyu. Napasnya memburu, matanya menatap tajam punggung Fenzo yang tampak terlalu tenang di tepi pembatas.

Pemuda itu tidak bergeming. Ia berdiri menatap langit yang tampak pucat. Sebuah benda kecil dilempar ke belakang tanpa ia menoleh, yang berhenti tepat di ujung sepatu Abimanyu.

"Gue nemu itu di laci meja belajar Kenzo," ucap Fenzo datar. "Seminggu lalu. Di balik tumpukan buku olimpiadenya." 

Nada suaranya stabil, tapi wajahnya berkerut sesaat ketika luka di perutnya kembali berdenyut.

Abimanyu memungut benda itu. Sebuah kalung perak dengan liontin bulat yang permukaannya dipenuhi goresan kasar. Ketika liontin itu dibuka, lidahnya mendadak kelu.

"Ini..." suaranya serak. "Kenzo sama adek kelas yang lo seret tadi?"

Foto kecil di dalamnya memperlihatkan Kenzo tertawa lepas, lengannya merangkul Akira yang tersenyum ke kamera. Sekilas, gambar itu terlihat biasa. Namun ada sesuatu yang keliru. 

Wajah Kenzo di foto itu telah disilang berkali-kali menggunakan tinta merah, sementara wajah Akira dibiarkan bersih tanpa cacat.

​"Cuma foto, Zo! Ini bisa jadi kerjaan orang iseng atau pengagum rahasia yang benci Kenzo!"

Abimanyu melemparkan kalung itu kembali ke arah Fenzo. "Lo nggak bisa nyeret dia cuma karena foto liontin yang rusak!"

Fenzo terkekeh. Bukan tawa yang menyenangkan, melainkan suara serak yang penuh luka. "Masih mau pakai logika sampah lo itu? Oke. Dengerin ini."

Dengan gerakan cepat, ia merogoh ponsel di saku celananya. "Ini rekaman suara yang masuk sepuluh menit sebelum motor Kenzo terjun ke jurang."

Sebuah audio diputar. Suara statis mendesis sejenak sebelum satu vokal lembut, namun penuh ancaman, memenuhi udara:

"Semua harus adil, Kenzo. Kamu juga harus mati malam ini."

Abimanyu merasa tengkuknya dingin. Ada jeda sepersekian detik sebelum ia berani bicara. "Itu... suara, Akira?"

Fenzo hanya diam. Pandangannya menatap jauh ke bawah, ke arah koridor terbuka di mana Akira sedang berjalan santai bersama teman-temannya.

"Dua minggu ini, tepat di jam kematian Kenzo, ponsel gue dapet panggilan dari nomor tanpa nama," Fenzo berbalik, matanya yang merah dan cekung menatap Abimanyu dengan intensitas mengerikan.

"Dia nggak cuma bunuh Kenzo. Dia lagi main-main sama gue. Dia nunggu gue hancur, Bim.."

Abimanyu menggenggam erat pagar besi hingga buku jarinya memutih. Logam dingin itu seolah ikut mengingatkan bahwa sahabatnya yang berdiri di depannya sekarang, bukan lagi Fenzo yang dia kenal.

​"Apa rencana lo?" tanya pemuda itu lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin.

​Bibir Fenzo terangkat tipis, membentuk seringai yang tidak mencapai matanya.

​"Gue bakal buat dia," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan iblis, "merasa bahwa nafas jauh lebih kejam daripada mati."

••••••••°°🍁°°••••••••

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang