5. Piyama Kuning di Bandara

7.2K 302 23
                                        

••Happy Reading all••
.
.
.
.
.
.
•••••••°💙°•••••••



"Bang... ini si monyet satu ke mana sih?! Udah kayak di-prank semesta gue nunggu dari tadi!"

Suara Akira membelah hiruk-pikuk bandara. Beberapa pasang mata refleks menoleh, menatap heran gadis berpiyama Minions kuning terang dan sandal kelinci berbulu itu. Tanpa rasa bersalah, ia berdiri santai di antara kerumunan orang berjas dan bergaun rapi.

Danuel hanya bisa menghela napas pasrah. Adiknya itu jelas terlahir tanpa urat malu. Di tempat seformal ini, Akira justru menjadi noda kuning mencolok yang menolak tunduk pada aturan.

"Lo udah ngomel sebelas kali dalam sepuluh menit, Ra," gumam Danuel, matanya tetap terpaku pada layar ponsel.

"Dan lo udah jawab sepuluh kali tanpa solusi, Bang," balas Akira cepat seraya melipat tangan di depan dada. Bibirnya maju lima senti.

Danuel memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Pesawatnya baru landing sejam lalu. Santai dikit napa, Dek?"

"Setel musik galau terus nungguin cowok yang nggak tahu nongolnya kapan? No, thanks," ketus Akira sambil memutar bola mata malas. Ia mendadak berhenti melangkah, menatap abangnya dengan ekspresi serius yang langka. "Gue gak bisa diem, Bang. Butuh distraksi."

"Ya udah, cari mangsa sana."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Sepersekian detik kemudian, Danuel langsung menyesal saat melihat sepasang mata adiknya seketika berkilat jenaka. Akira menyipitkan mata, mengunci satu titik seperti pemburu menemukan target operasi.

"Target... terkunci," bisik gadis itu, membuat bulu kuduk Danuel berdiri.

Lima meter di depan mereka, seorang pria berdiri tegap di bawah lampu putih bandara. Berbalut jas hitam dengan postur elegan dan rahang tegas, pria itu terlalu berkelas untuk berada di satu radius yang sama dengan piyama Minions kuning milik Akira.

Tanpa ragu, Akira melangkah lebih dekat. "Malam, Om."

Pria itu menoleh. Gurat terkejut di wajahnya langsung digantikan oleh seulas senyum tipis. "Malam. Ada yang bisa saya bantu, Dek?"

'Dek?' Oke, belum sayang, tapi lumayan buat awalan. Akira tersenyum manis. "Boleh kenalan nggak, Om?"

Satu alis pria itu terangkat, merasa heran sekaligus geli. "Kenalan?"

"Iya. Aku Akira Qhanaya. Tapi buat Om, boleh panggil aku sayang, ayang, atau my sweet disaster juga boleh," cerocos Akira tanpa kedip.

Sebuah tawa rendah yang terdengar semerdu nada gitar mahal, lolos dari bibir pria itu. "Lucu juga kamu."

Akira menggigit bibir bawahnya, pura-pura tersipu. "Kalau lucu emang bawaan saya dari lahir, Om. Makanya jangan dilepasin, nanti ilang."

"Nama saya Armandio," jawabnya. Nada suaranya lembut namun berwibawa, tipe suara yang bisa membuat orang refleks merapikan rambut.

Netra Akira langsung berbinar kagum. "Masya Allah, Armandio... Nama aja udah kayak merek parfum mahal yang sekali semprot langsung bikin meleleh."

Armandio kembali terkekeh. "Kamu sering menggoda orang asing seperti ini?"

"Cuma ke orang yang wajahnya limited edition kayak Om," sahut Akira santai.

Pria itu sampai menunduk, benar-benar tak kuasa menahan tawa. Namun, sebelum atmosfer di antara mereka berubah semakin manis—

"WOI, ORANG GILA!"

Teriakan lantang itu sukses merusak momen. Akira menoleh perlahan dengan wajah pasrah. Di belakangnya, Danuel sudah berdiri bersama seorang pemuda berwajah kaku yang tampak kelelahan: Raden.

"Oh, sial," gumam Akira, mendadak pucat. Ia berlari kecil menghampiri mereka dengan senyum kaku. "Hehehe, Bang. Lo berdua ngapain majang di sini?"

Danuel menatapnya datar. "Lo sendiri ngapain? Nyari calon suami di area kedatangan?"

Belum sempat Akira memberi pembelaan, dugh! Tinju kecilnya sudah mendarat mulus di perut Raden.

"ITU karena lo telat satu jam!" teriak Akira, disusul pukulan kedua. BUGH! "DAN ITU karena nomor lo MATI!"

"Raa, sabar dulu—" Raden meringis ngilu sambil memegangi perutnya yang malang.

"DAN INI—"

Sebelum tendangan Akira meluncur, Danuel dengan sigap menyergap dari belakang, mengunci kedua lengan adiknya erat-erat.

"Cukup! Lo mau viral di TikTok besok pagi, hah?!" seru Danuel setengah berbisik menahan panik. Akira masih meronta seperti kucing basah yang siap mencakar siapa saja.

Raden membungkuk lemas, satu tangannya menekan perut. "Astaga... baru turun pesawat langsung kena KDRT."

"Lo pantes dapet itu! Gue sama Bang Nuel lumutan nungguin lo!" semprot Akira dengan wajah memerah.

Melihat beberapa orang mulai memperhatikan keributan mereka, Danuel langsung menyeret adiknya pergi. "Udah, yuk pulang. Gue nggak mau trending gara-gara lo ngamuk di bandara."

Akira berdecak keras. Dengan hentakan kaki yang sengaja dipertegas, ia berjalan cepat meninggalkan kedua pemuda itu.

"Bang, dia marah beneran ya?" tanya Raden polos, masih memandangi punggung piyama Minions yang perlahan menjauh.

Danuel mengedikkan bahu santai. "Dia lahir aja udah marah, Den. Udah bawaan pabrik."

Keduanya bergegas menyusul dan saling menyalahkan, meninggalkan area kedatangan yang mulai lengang.

Sementara itu, Armandio masih bergeming di tempatnya. Pandangannya terpaku pada pintu keluar tempat gadis berpakaian kuning itu menghilang. Ada letup aneh yang tertinggal di dadanya, campuran antara geli dan rasa penasaran yang belum terjawab.

Sambil menyunggingkan senyum samar, Armandio bergumam pelan, "Akira Qhanaya... Gila, tapi menarik."



•••••••🌟•••••••

-T.B.C-
.
.
.
.
.
.
.

Siapa pecinta om-om tampan disini hayo???
.
.
.
.
Yuk lah, NEXT!

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang