-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••
Senandung kecil Akira terputus oleh derum mesin SUV hitam yang tiba-tiba melaju pelan dan memotong jalurnya tepat di depan gerbang sekolah.
Kaca mobil turun perlahan. Seorang pria berbadan tegap menatapnya tajam dari balik kemudi, mengetuk-ngetuk bingkai jendela dengan gestur mengancam.
"Hei, bocah. Urusanmu dengan bos kami belum selesai!" gertaknya dengan nada penuh intimidasi. "Jangan coba-coba menghindar kalau masih sayang nyawa."
Alih-alih gemetar, Akira malah memutar bola matanya malas. Ia menghela napas panjang lalu membalas tatapan pria itu tanpa kedip.
"Basi. Mending simpen gertakan murah ini buat bos lo. Gue nggak ada waktu ngeladenin kroco di jam sekolah."
Pria itu menyeringai tipis sebelum menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan kepulan asap knalpot yang memicu batuk kecil Akira. Ia menepuk rok seragamnya yang terkena debu dengan wajah jengkel.
"Pagi pagi udah dapet teror gratisan aja," gumamnya kesal.
"Ra! Lo gapapa?!"
Mila, Bulan, dan Cia berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi. Bulan langsung memegang kedua bahu Akira, memperhatikannya dari atas sampai bawah untuk memastikan tidak ada luka. "Mobil tadi ngapain lo? Enggak ada yang aneh-aneh, kan?"
Akira tersenyum tipis, menutupi rasa ganjil yang sempat mengusik kepalanya. "Aman aja. Cuma gertakan orang kurang kerjaan. Mending kita masuk sebelum pintu gerbang dikunci."
"Beneran?" Cia menyipitkan mata curiga. Sebelum pertanyaan lain keluar, Akira cepat-cepat merangkul pundak ketiganya dan memaksa mereka berjalan masuk.
Di seberang jalan, derum mesin superbike yang menderu pelan perlahan mereda. Fenzo memperhatikan seluruh kejadian itu dari balik visor helmnya yang gelap.
"Zo... bukannya itu mobil suruhan bokap lo?" tanya Abimanyu yang baru saja melepas helm di sebelahnya.
Fenzo tidak langsung menjawab. Jemarinya mencengkeram stang motor lebih erat sebelum suara beratnya terdengar samar dari dalam helm.
"Cari tahu kenapa orang-orang itu berani ngusik dia."
Niat Akira untuk menikmati pagi yang tenang bersama ketiga temannya langsung buyar lagi begitu mereka melewati koridor kelas XII IPS. Riuh tawa melengking pecah memenuhi udara.
"ANJIR! LO DAPET FOTO DIA PAS COSPLAY MUMI DARI MANA?!"
Gelak tawa Deco bergema di sepanjang koridor. Di tengah kerumunan itu, Satria memegangi ponsel milik Daren tinggi-tinggi dengan wajah menang.
"Gue cuma niat minjem HP si Daren buat stalking, eh malah nemu harta karun!" seru Satria heboh. "Lihat nih! Foto kelas 5 SD, muka masih kek bakpao, poni miring, badannya dililit tisu toilet full dari leher sampe kaki!"
Raden menggeleng prihatin. "Gue kira dia lahir langsung judes, ternyata pernah melewati fase mumifikasi tisu toilet juga."
Daren nyengir bangga sambil menepuk dadanya. "Gue bilang juga apa, isi HP gue tuh aset berharga semua—"
"SIAPA YANG MUMIFIKASI?"
Suara dingin dari arah belakang seketika menghentikan tawa mereka.
Daren dan Satria perlahan memutar tubuh. Akira berdiri di sana dengan kedua tangan terbenam di saku rok, matanya mendelik tajam. Di belakangnya, Bulan, Mila, dan Cia kompak menatap Daren dengan pandangan turut berduka cita.
"Daren..." Akira menunjuk ponsel di tangan Satria, lalu menatap Daren dengan nada suara yang terlalu manis. "Bisa tolong jelasin, kenapa ngeretas postingan lama gue?"
"R-Ra! Demi Tuhan, ini kemaren ulah Satria!" Daren panik setengah mati, jarinya menunjuk Satria sampai gemetar. "Gue cuma penyedia sarana dan prasarana!"
Satria langsung mengambil tiga langkah mundur dengan wajah tanpa dosa. "Gue cuma penonton, Ra. Yang punya file memori kelamnya si Daren!"
"SATRIA BANGSAT LO!" jerit Daren histeris.
"SINI LO, DAREN! GUE BIKIN JADI MUMI BENERAN!"
Akira melompat maju.Daren yang panik refleks mendorong Satria ke depan sebagai tameng, lalu balik badan dan melesat kabur sekuat tenaga. Aksi kejar-kejaran rusuh pun pecah, memicu kehebohan di sepanjang koridor XII IPS.
tepat saat Akira hampir berhasil menarik kerah baju Daren di ujung persimpangan koridor, suara bentakan nada tinggi memotong pergerakannya.
"KALIAN BERDUA! BERHENTI! MAU JADI APA KALIAN LARI-LARIAN DI KORIDOR?!" Pak Gunawan, guru piket pagi itu, berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan bersedekap.
Langkah Akira terhenti seketika, meringis kesal saat Pak Gunawan langsung menghadangnya. Kesempatan emas itu dimanfaatkan Daren untuk makin mengencangkan larinya, belok patah ke arah tangga dan menghilang sepenuhnya dari jangkauannya.
"Awas lo ya, Ren! Nggak bakal selamat lo nanti!" teriak Akira geram, sebelum akhirnya terpaksa mendengarkan omelan panjang Pak Gunawan.
Sepuluh menit kemudian, Daren terengah-engah di belakang gedung sekolah—area sepi di bawah naungan pohon mangga yang rindang. Deco, Satria, dan Raden menyusul sambil tertawa puas.
Di sudut bangku semen, Fenzo dan Abimanyu sudah duduk santai. Fenzo menyalakan sebatang rokok, menyesapnya perlahan dengan wajah stoik seperti biasa.
Daren terduduk di tanah sambil memegangi dadanya. "Gue... nyaris mati... Gara-gara lo, Sat! Kenapa HP gue yang lo tumbalin?!"
"Lagian lo polos banget ngasih pinjam HP pas galeri lo lagi buka foto lama Akira," cibir Satria menggeleng.
"Sialan lo! Ya mana gue tahu bakal kegeper sama Akira-nya langsung!" semprot Daren, mukanya makin merah menahan kesal.
Raden terkekeh sambil menyulut rokoknya. "Tapi lumayan, Ren. Setidaknya lo berhasil lari ketimbang digebukin rombongannya."
"Buset, emang muka gue keliatan kayak bahan samsak?" sungut Daren, lalu melirik Fenzo yang cuma diam mengamati. "Zo, liat tuh kelakuan anggota lo, nggak ada empatinya banget!"
Pemuda itu hanya menghembuskan asap rokoknya tipis, tidak berniat membela siapa pun.
Deco yang menyandar di batang pohon ikut menyalakan rokoknya, lalu mengalihkan pembicaraan. "Udah, lagian urusan dedek gemes lo udah kelar. Yang penting Sabtu malam ini dulu."
Deco memandang Fenzo. "Eh bro, taruhan balapan antarklub Sabtu malam nanti tetap di sirkuit lama?"
"Nah, iya tuh!" sahut Raden. "Tapi anak-anak nanya, lo turun nggak, Zo? Kalau lo absen, hadiahnya dipotong separuh."
Fenzo tidak langsung menjawab. Ia mengisap rokoknya kembali, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara.
Tepat saat Daren hendak menyahut, langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari balik pohon bambu. Suara gesekan kertas clipboard membuat suasana mendadak beku.
Alestra muncul dengan pandangan dingin.
"Kalau kalian pikir ngerokok di sekolah itu keren," suara Alestra tenang namun penuh ancaman, "silakan pikir ulang sambil lari lima puluh putaran. Sekarang."
••••••••••••°🌟°••••••••••••
.
.
.
💙 T-B-C 💙
.
.
.
.
.
.
Vote+Spam komen
.
.
.
.
.
See you next chap!😍
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Teen FictionTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
