▪︎▪︎▪︎
Tepat di penghujung pekan yang telah ditetapkan, akhirnya jadwal debat itu mendekati bakal calon-calon pemimpin himpunan yang telah dipercayakan. Di dalam ruangan sudah mulai diinvasi para demisioner dan anggota himpunan yang mengisi bangku masing-masing.
Dari malam-malam sebelumnya, Lisa sudah berancang-ancang untuk tidak gugup dan berusaha watados dengan apa yang dia simpan di kepalanya. Tapi sayangnya, sekuat-kuat dia menyokong hatinya, dia akui bahwa dia bergetar cemas.
Melihat banyaknya para mata berpusat pada tubuhnya memang bukan hal yang asing. Tapi, Lisa tidak biasa untuk mengikuti acara besar seperti ini. Rasanya tangan dia sudah basah akan keringat. Segala spekulasi yang menyerang tekadnya menjadi lemah, Lisa mulai takut. Takut jika ia terpilih dan ia tak becus mengimbangi tenaga Jennie. Takut mengecewakan Jennie. Takut mengecewakan para kakak tingkatnya. Takut mengecewakan para rekan-rekannya. Dan takut bahwa himpunan dalam keruntuhan.
"Gausah takut." Tangan Jennie mendarat di atas tumpuan tangan Lisa yang sedang saling remas. "Gue milih lo karena gue tahu siapa lo."
"Gue takut ngecewain, Jen."
"Ngecewain siapa?"
"Lo."
"Nggak akan. Gue nggak bakal kecewa apapun nanti hasilnya." Jennie tersenyum tipis.
"Serius?"
"Iya Lisa." Dia mengangguk tenang. Lebih waras ketimbang Jennie yang sering ngamuk-ngamuk sebelumnya.
Di detik-detik moderator mulai menepuk-nepuk mikrofon, Jennie menyempatkan menepuk pundak lusuh itu agar kembali tegak. Dan ketika Karina--selaku ketua moderator hari ini membuka acara, serobotan pertanyaan dari para demisioner langsung berbondong-bondong bagai peluru yang dihujankan.
"Ya, Kak Irene silahkan." Karina menunjuk kakak tingkat paling cantik di ruangan ini sebagai pelontar pertama.
Irene beranjak sembari membenahi pakaiannya. Sejenak, sebelum dia menatap pasangan nomor urut 1, dia melihat Jennie dan melempar senyum tipis penuh makna.
"Pasangan nomor urut 1, menurut kalian apa yang masih kurang dari kepengurusan sebelumnya?" Irene mengulurkan sebelah tangannya tanda pertanyaan sudah boleh terjawab dan ia kembali duduk.
"Baik, izin menjawab. Menurut kami, kepengurusan sebelumnya sudah menjalankan tugas dengan baik. Hanya saja, ada beberapa proker yang terlalu boros dan berakibat kurang efektif pada suatu bidang. Kami pikir, dalam kepengurusan kami nantinya, kami bisa membuat proker dengan lebih baik dan lebih efisien."
Banyak tangan sudah mengacung emosi yang membuat Joy sedikit kalut melihatnya. Tapi entah mengapa Irene bisa menengahi dengan cara menutup sesi tanya jawab tersebut.
"Moderator, dilanjut pada pasangan nomor urut 2." Perintahnya dingin. Praktis para demisioner yang lain melongo tak terima.
"Rene, gue belum komen anjir!" Jisoo menyikut lengannya. "Enak aja Si Uwen bilang proker kita nggak bermutu!"
"Diem."
"Baik, kepada pasangan nomor urut 2---"
"Moderator!" Irene mengacungkan lagi tangannya. "Masih dengan pertanyaan yang sama!"
"Baik, menurut saya---"
"Menurut kami!" Potong Irene. "Kamu egois banget menurut saya, yang di samping kamu itu patung?!"
Karina sulit berkutik lagi melihat sahut-sahutan Jennie dan Irene. Sementara di balik itu, Jennie mati-matian menahan amarahnya agar tak meledak. Dia yakin sedari awal Irene pasti mengincarnya. Entah apa tujuannya, entah karena Wendy anak kesayangannya atau bagaimana, tapi cara tatap demis satu itu seolah menusuk Jennie sebagai tahap kematian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Himpunan | Jenlisa✔
Fanfiction(+) OT GEN3 "Mau nggak, membina hima bareng gue?" - Jennie. "Maunya membina rumah tangga bareng lo." - Lisa. ©️Kanayaruna, 2023 Notes: bacanya di rumah aja, bahaya kalau dibawa-bawa keluar. Bisa disangka orang gila.
