#25. Broken Love

2K 195 23
                                        

▪︎▪︎▪︎

Hujan baru reda sekitar pukul 11 malam. Pada pukul demikian, Jennie masih setia menemani Lisa yang terus-menerus uring-uringan sambil menggigiti bantal. Lagaknya benar-benar sudah seperti ditinggal kekasih selingkuh. Lisa yang biasanya terkenal ceria, sekarang tak lebih seperti seorang gembel.

"Padahal dari dulu tuh gue udah gebet dia Jen! Emang gegara beda bidang nih bikin sedikit renggang karena gaada kerja bareng!"

"Tapi ya anjir, gue kurang keras berjuang apa gimana sih? Seulgi aja bisa dapetin Kak Irene! Kak Irene loh, modelan bidadari aja bisa Si gembel dapetin!"

"Lo kurang amal bukan kurang berjuang."

"Anj---" Lisa tersenyum pasrah melihat Jennie tertawa lebar. Memang sedaritadi tuh yang dia lakukan bukannya mengupahi, tapi malah menampar Lisa berkali-kali dengan mulut sarkasnya.

"Jen jangan gitu lah, gue lagi galau ini." Lisa memukul pelan pundaknya.

"Yaudah-yaudah, lanjut lagi marah-marahnya."

"MINGYU ANYING!!!"

Jennie jelas terperangah ketika sekenanya saja Lisa berteriak di pukul 11 malam. Wanita itu lagi-lagi merengek sambil menarik-narik sebelah tangannya. Alih-alih kelihatan sedih, dia seperti anak yang meminta tunggakan pada orang tuanya.

"Ah anying, ngapa harus ada manusiaan kek dia sih! Penghalang rezeki orang aja!"

"Coba bayangin ya Jen, gue udah cinta mati tapi bertepuk sebelah tangan begini BANGSATTTTTT!!!"

"Ini kalau ketauan Si kampret pasti gue diledekin. Ah, nggak! Lo aja udah ngeledekin gue duluan!" Lisa mencebik pada Jennie.

"Cuwi pernah cerita tentang lo, dulu."

"WAH?!" Lisa langsung menegakan tubuhnya. Hanya dalam hitungan detik parasnya berubah ceria lagi. Jennie tidak tahu apakah ini tercatat sebagai dosa atau tidak, tapi sumpah, ternyata mengusili Lisa itu menyenangkan.

"Tapi boong--HAHAHAHAHA!!!"

"Bajingan." Lisa mencebik sebal. "Nggak berhati banget lo sama gue Jen! Temen lagi galau begini dihibur kek!"

"Yaelah, biasanya juga nggak kayak gini Li! Beneran galau ya lo?" Jennie sempat menyingkap air matanya sebelum meredanya tawa itu.

"Ya beneran! Lo kira gue pura-pura?!"

"Gausah marah gitu dong. Gue kan cuma bercanda..." Jennie mencolek dagunya, namun langsung ditepis oleh Lisa.

"Beneran naksir ya sama Cuwi?" Tanya Jennie dengan nada yang mulai serius.

Lisa menarik napasnya lamat-lamat. Dia semena-mena menggolek kepalanya ke atas lipatan kaki Jennie, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang. Seumpama Lisa bukan wakilnya, mungkin mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk sedekat ini. Jadi, karena mulai terbiasa dengan kebiasaan Lisa yang satu ini, Jennie justru menepuk-nepuk pucuk kepalanya.

"Nggak boleh ya, Jen?"

"Boleh. Nggak ada yang larang."

"Lo gamau larang gue?"

"Ngapain juga? Siapa gue?" Jennie menjungkirkan opini itu membuat Lisa sedikit merasakan tancapan yang lain.

"Setidaknya larang kek, bilang kek biar gue nggak berharap sama Cuwi." Lisa menarik lagi tubuhnya sambil mengerucutkan mulut.

"Keras kepala. Mau gue bilangin berapa kali juga ujung-ujungnya nggak lo denger."

Bagus. Jennie berhasil membuatnya bungkam untuk berbicara lagi. Lisa menunduk sambil memainkan kukunya dengan tampang polos. Jennie tidak tahu apakah ini memang sifatnya atau dia sedang bertingkah saja. Karena jujur, pertengkaran kemarin masih mengental di benaknya bahwa Lisa memiliki ego yang cukup kukuh.

Himpunan | Jenlisa✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang