▪︎▪︎▪︎
"Lo boleh marah, lo boleh nangis, lo boleh misuh-misuh dengan apa yang lo rasain capeknya ngurus himpunan termasuk permasalahan pribadi lo. Tapi Li, ketika kita memutuskan untuk menjadi ketua, itu tandanya kita harus siap menjadi wajah yang menyenangkan dan menenangkan untuk setiap anggota. Tanpa terkecuali. Karena, ke siapa lagi mereka kalau bukan ke kita? Ke siapa lagi mahasiswa kalau bukan sama himpunan? Ke siapa lagi mereka mengadunya kalau bukan sama kita? Gue tahu lo juga manusia. Lo bisa capek. Tapi catatannya satu, ke gue bilangnya. Jangan sama yang lain. Kenapa gue larang akan hal itu? Karena kita yang harus ngerangkul mereka. Cuma kita..."
Itu adalah paragraf pertama yang Jennie utarakan ketika sampai di penginapan dan menarik Lisa ke belakang teras. Kemudian mereka saling bertepuk pundak barang hanya mengirim semangat untuk satu sama lain. Mereka bukan orang yang saling mengobati. Mereka adalah dua pundak yang saling berjuang untuk mengangkat beban bersama. Sebab jika sudah terluka, hanya mereka dan dirinya sendiri yang benar-benar bisa mengobati.
Bukan orang lain.
Tapi diri sendiri.
Sekarang, malam-malam ini dihiasi oleh aktivitas yang lebih santai. Pintu rumah sebelah dibuka lebar-lebar oleh Haechan, kemudian para lelakinya berkumpul di teras depan. Begitu pula pengurus inti di sini, mengisi teras dengan kepulan asap dan kopi sambil bertukar pendapat akan pemecahan masalah. Sementara para wanita heboh di dalam.
Ada yang bermain monopoli. Yang satunya kembali memasak camilan. Atau adik-adik yang bolak-balik mengadu pada Jennie kalau mereka ingin jajan. Lagaknya di sini Jennie benar-benar seperti seorang Ibu. Harus meladeni puluhan orang yang meminta bantuan padanya.
"Teh Jennieeeeee..."
"Iyaaaaa..." sahut Jennie sambil melongokan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Lantas kali ini ada Yeji.
"Lagi ngapain?" Budaknya datang ke samping Jennie sambil melihat sesuatu yang lagi dimasak Jennie.
"Bikin sostel."
"MAU!" Yeji langsung jingkrak. "Alatnya siapa yang bawa?"
"Kang Jackson." Jennie menjawab. Memang betul anak operasi ini bukan hanya menyediakan akomodasi, tapi sampai ke perabotan rumah yang segala dibawa.
"Masa aku digangguin terus sama Ryujin. Males di sana ah, pengen di sini aja." Yeji mengadu.
"Ryujin apain kamu?" Jennie terkekeh sambil meliriknya sekilas.
"Aku lagi diem aja ditarik-tarik. Rusuh banget di sana! Pokonya nyebelin! Apalagi kalau udah gabung sama Haechan Jihoon, aku pusing!"
"Di sini juga sama. Teh Yeri sama Teh Joy selalu bikin ulah." Ungkap Jennie.
"Ih tapi mereka lagi main monopoli loh. Aku mau liat ah!" Budak itu kembali pergi meninggalkan Jennie. Dasar bocah, pikirnya.
Benar. Di ruang tengah, perhatian Yeri dan Joy sudah teralihkan karena permainan monopoli. Andai saja tidak ada kartu-kartu tersebut, mungkin dia akan bergerak lebih brutal dan merecoki semua ketenangan para anggota. Ada Lisa, Yeri, Joy, Moonbyul, Dahyun, dan Tzuyu sebagai pemain pertama. Di belakang pundak mereka ada rekan-rekan yang saling menyokong untuk kemenangannya sebagai yang paling kaya.
"Awas-awas, dana umum nih gue! Siap-siap dapet bebas penjara gue benghar!" Joy merentangkan tangan pemain lain ketika bidaknya diam di atas tulisan dana umum.
"Halah, palingan itu masuk penjara!" Yeri mencebik malas.
"Masuk penjara siah Joy!" Nayeon membela Yeri.
"Maju sampe Afrika Joy, biar mantap." Lisa menaik-turunkan alisnya.
"Hahahaha! Sini Joy, welcome to Wakanda." Tzuyu mempersilahkan pada letak hotelnya di Afrika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Himpunan | Jenlisa✔
Fanfiction(+) OT GEN3 "Mau nggak, membina hima bareng gue?" - Jennie. "Maunya membina rumah tangga bareng lo." - Lisa. ©️Kanayaruna, 2023 Notes: bacanya di rumah aja, bahaya kalau dibawa-bawa keluar. Bisa disangka orang gila.
