▪︎▪︎▪︎
Baru terasa sesaknya bukan main sesaat Seulgi merasakan dekap dari semua sahabatnya. Elusan halus di kepalanya seakan menurunkan gelombang nyeri yang jelas semakin berat. Pada kehidupan yang bukan lagi rumahnya, namun Seulgi harus berjalan tertatih-tatih meninggalkan hal yang sebenarnya tak ingin dia tinggalkan.
Kosong kata vokal yang tak bisa mereka berikan untuknya. Wendy yang biasanya punya segudang paragraf penenang bahkan tak bisa berkutik selain hanya berharap bahwa sahabatnya ini akan segera membaik.
"Sakit emang." Sinbi mengangguk paham. "Kita juga rasain itu kok, Gi. Kita ngerti apa yang lo rasa."
"Kak Egi..."
Mereka menoleh dan menemukan Somi bersama Yeri berjalan mendekat dengan raut wajah cemas bercampur sendu. Jika Somi praktis diam, Yeri maju ke depan untuk menggantikan dekapan Lisa dan balik merangkul Seulgi olehnya.
"Gue paham Gi, gue paham. Tapi dia sendiri nggak punya tenaga buat ngelawan orang tuanya. Gue tahu lo terluka. Tapi bukan lo aja, Gi. Kak Irene bahkan dari seminggu yang lalu sempet kepikiran buat batalin ini semua cuma gara-gara lo. Dia nggak mau lihat lo terluka tapi dia sendiri sehancur itu." Gumam Yeri pelan, menyamai dengan energi Seulgi saat ini.
"Dia anak sulung di keluarganya. Orang tuanya udah tua, dan mereka punya keinginan ini. Dia pergi dari lo bukan tanpa sebab. Justru, dia ingin lo lebih baik-baik aja daripada nantinya lebih tersiksa. Lo pasti ngerti tentang perbisnisan. Gue nggak bilang kalau lo kalah telak sama Kak Bogum. Tapi dia juga cowok baik-baik kok. Dia bahkan tau permasalahan kalian. Dan dia terima kalau memang Kak Rene masih simpan semua perasaannya sama lo. Nggak, gue lagi nggak menyarankan lo berdua main api di belakang ya. Sekalipun lo berdua punya perasaan yang sama, tapi sekarang takdirnya udah beda. Gue harap kalau lo terluka, lo juga nggak ganggu hati yang lain ya, Gi. Ini berat, tapi gue yakin lo pasti bisa."
"Noh, kalau mau digebet dah waktunya." Bisik Moonbyul memprovokasi pada Somi.
"Yeh si anying!" Lisa langsung menoyornya.
"Die lebih stres ketimbang Si Ugi anying!" Jeongyeon bergeleng tak percaya.
"Dah yuk, lo kalau nangis mulu ntar kondisi makin kacau. Bukannya lo lagi gaenak badan? Mending makan dulu di dalem, ada stand mie kocok Gi! Buru, kita babat!" Yeri mulai meninggikan sedikit demi sedikit kadar mulut agar semangat.
Tapi ampuh membuat Seulgi perlahan mendongak sembari menyeka hamburan air matanya. Namun, hebatnya dia masih selalu berusaha untuk mengangkat senyum, sekalipun ini mungkin pedih sekali.
"Ayok!" Seulgi mengangguk. "Makasih ya cil." Katanya sembari mengusak pucuk kepala Yeri.
"Udah ngab, lu tetep babeh gue mau Si mamih nikahnya ama sape juga!"
"Anjeng, dah punya anak aja ni Si slebew!" Lisa menutup mulutnya pura-pura kaget melihat Yeri dan Seulgi.
"Si Bogum makan ati anying kalo temu ni orang berdua." Wendy bergeleng-geleng kepala.
"Dah yok, tinggalen aje yang stress!" Sinbi melambai pada semua sahabatnya kecuali Moonbyul.
"Bi, jangan gitu dong Bi, gua makin galau ini!"
"Lebay siah setan, buruan ah!" Wendy langsung menyeretnya.
Seulgi tahu mungkin keberadaannya di sini akan menjadi atensi yang begitu ditanya-tanyakan. Apalagi Irene sempat memeluknya barusan, kemudian menangis bersama, bagaimana tidak mencurigakan? Bahkan kedua orang tuanya sampai menatap Seulgi mengerjap-ngerjap.
Tidak ada bisik-bisik yang begitu mengganggu, tapi para mata yang memandangnya terlalu intens itu membuat Seulgi risih. Sialnya, Seulgi juga lupa untuk membasuh wajah. Alhasil padam dan sembabnya masih ia bawa ke hadapan orang tua Irene.
KAMU SEDANG MEMBACA
Himpunan | Jenlisa✔
Fanfiction(+) OT GEN3 "Mau nggak, membina hima bareng gue?" - Jennie. "Maunya membina rumah tangga bareng lo." - Lisa. ©️Kanayaruna, 2023 Notes: bacanya di rumah aja, bahaya kalau dibawa-bawa keluar. Bisa disangka orang gila.
