#62. Antara Logika

1.4K 157 3
                                        

▪︎▪︎▪︎

Converse merah dari kaki putih Jennie terlepaskan bersamaan dengan hembusan napas jengah Jennie memasuki apartemen. Wadah ice cream mini yang Jennie cekal di tangannya masih tersisa dengan cairan setengah yang dingin. Sama dinginnya dengan keadaan sesaat ia pulang dan mengatakan "terimakasih" pada Taehyung di bawah lobby.

Sore sudah berganti menjadi malam. Matahari sudah berjalan ke arah barat dan corak lembayung menghalau separuh wajah Jennie ketika ia berjalan ke sudut jendela untuk menutupnya. Dan begitu ia menggeser gorden, ia kembali membuang napas kasarnya.

Tring~

Tepat begitu ia membalik suara ponselnya berdenging kencang. Jennie praktis melempar kap ice cream tersebut ke dalam tong sampah.

Kak Jichu is calling...

"Halo?" Jennie merebahkan dirinya ke atas kasur dengan luruh.

"Test pulsa doang sih." Celetuk Jisoo di seberang dengan suara gerusukan tak jelas, entah sedang apa.

"Gak jelas!" Decak Jennie.

"Sensi amat. Dimana lo?"

"Dimana-mana hatiku sakit!"

"LAH? CURHAT?!"

Memang pilihan yang salah menjawab panggilan Jisoo kali ini. Manusia tidak jelas dipertemukan dengan suasana hati yang tak jelas. Makin tak jelas lah.

"Canda Jen canda. Kayaknya capek banget? Mau cerita?" Jisoo mengubah tone suaranya menjadi lebih tenang dan serius.

Sedangkan Jennie masih sibuk mengumpulkan tenaga untuk bersuara lagi. Dia memilih diam untuk sejumlah menit dan meratapi langit-langit kamarnya yang masih gelap. Di depan ruang tengah, bahkan dia lupa tidak menyalakan saklar. Namun, karena terlalu malas untuk bergerak lagi, Jennie biarkan saja dirinya disekap kondisi yang berantakan.

"Woy? Tidur lo?"

"Lemes gue. Haaaah..." kedua mata Jennie mengerjap-ngerjap.

"Jangan terlalu capek makanya. Udah, lo tuh diem aja, tinggal minta LPJ kalau mereka abis event. Apalagi sekarang lagi ujian, iya gak?"

"Hmmm... capek kak..."

"Sama, gue juga capek. Tidur gih."

"Lo mau tidur ya?"

"Enggak, gue ada file yang harus dicheck dari atasan. Monyet emang, udah pulang aja masih nyuruh kerja. Pengen marah gue!"

Tanpa sengaja kekehan Jennie keluar. Menanggapi lucunya Jisoo bila sudah mengomel. Tapi yang dikatakan Jisoo sepertinya ada benarnya. Tidak dalam pekerjaan, pendidikan, semuanya sama saja menuntut tenaga hingga tepar.

"Kalau mau cerita gue dengerin, ini gue sambil revisi berkas."

"Nggak ah, ntar gue diketawain. Mana mulutnya bocor banget kalau ke Rosie, ntar dari Rosie disebar ke Joy, ntar dari Joy---ah, dah lah, gabisa bayangin gue!" Jennie bergeleng-geleng sendiri.

Membayangkan bagaimana unek-unek yang dia simpan dalam tenggorokannya membudal, kemudian semakin meledak melebihi bom Nagasaki yang melanglang seluruh forum pemberitaan kampus. Tahu-tahu nyawa Jennie sekarat saja. Tidak, tidak, tidak bisa!

"Gue nggak bawa-bawa Rosie, ya. Ini kita telfonan juga cuma berdua, ngapain gue sebar-sebar juga."

"Tapi kak, gue juga kangen sama lo..." melenceng topik, Jennie menghembuskan napas gusarnya.

Himpunan | Jenlisa✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang