#28. Remedial

1.3K 155 2
                                        

▪︎▪︎▪︎

"WANJEERRR!!!"

"APAAN SIH BAJING NGAGETIN!!" Wendy mengumpat tak habis pikir melihat Lisa dan Seulgi memekik bersamaan.

Di hari berikutnya, pukul 10 pagi mereka sudah berada di area kampus lebih tepatnya di dalam ruang sekretariat. Masih belum diinvasi banyak orang, lebih pasnya hanya mereka bertiga sebab entah pada kemana anggota himpunan. Mendadak di-blip thanos.

"ANJENG AING REMED!!!" Jerit Lisa gemetar melihat transkip nilai di handphonenya.

"GUE JUGA!!!" Balas Seulgi sambil menoleh pada Lisa.

"LAH IYA GI?!"

"IYA ANJER! JAWABAN KITA KAN SAMA KEMAREN!"

"OH IYA ANJEEEER!!"

"ANJERRRR!!!"

"BUSET BAJING GAUSAH TERIAK-TERIAK!!" Wendy menutup dua pusat telinganya kemudian menendang kedua manusia yang sedang beringsut di atas kursi.

"Aih, sakit atuh Wen!" Seulgi memberengut.

"Lo anjeng, bisa-bisanya remed! Gue aduin ke Kak Irene tau rasa!" Tunjuk Wendy murka.

"EH JANGAN! NGAPAIN DIADUIN SIH?!" Pekik Seulgi panik.

"YA LO BELAJAR KAGAK KEMAREN?!"

"INIMAH GARA-GARA BUCIN MULU WEN, MARAHIN AJA!" Lisa malah ikut-ikutan menunjuk Seulgi.

"KALAU GEGARA BUCIN BERARTI IRENE JUGA SALAH DONG?!" Seulgi berusaha mencari pembelaan.

"KAGAK ADA! MANA ADA SALAH DOI LU! UDAH GUE KASIH CARANYA BUAT NYELESAIIN SOAL-SOAL JUGA MASIH AJA BELET YA LO PADA! MAU JADI APAAN LO NGITUNG AJA MASIH SALAH?!"

"BUKAN NGITUNGNYA!! TAPI BELIBET AKUNNYA KALAU AKUNTANSI TUH NYET!" Dasar Si labil, Lisa malah ikut-ikutan mengumpat.

"Lu diem!" Wendy menunjuk mulut Lisa yang langsung mengatup. "Nilai lo mungkin bakal ketutup sama tugas dan quiz-quiz sebelumnya. Tapi, ayolah bro, kenapa harus remed sih? Kagak malu udah gede masih remed?"

"Ya namanya juga---"

"Namanya-namanya! Kagak usah ngeles dah lu beruang! Sekarang gue masih berbaik hati, kalau uas ntar masih jelek gue nggak peduli!" Potong Wendy sambil merampas ponsel Seulgi.

Bagai ibu dari dua anak, Seulgi dan Lisa tak berani berkutik lagi disaat Wendy menatap serius hasil nilai kemudian bergeleng-geleng dengan tatapan datar.

Apa Lisa bilang? Spesies macam Wendy itu tidak ada duanya. Segi akademik oke, apalagi di luar itu. Dia tipikal orang yang bisa membagi rata pekerjaannya, hingga menghasilkan akhir yang sempurna. Maka tidak aneh deret ranking tertinggi selalu dicekal olehnya. Bahkan Jennie sendiri masih kesulitan untuk membalapnya.

Lantas memang seharusnya kemarin itu dia duduk di dekatnya saja, bukan mengajak Seulgi kerja-sama. Sebab membagi pekerjaan dengan Seulgi itu seperti ia menggali kuburannya sendiri.

"Udah dapet pengumuman deadlinenya kapan?" Wendy melempar ponsel Seulgi pada pemiliknya.

"Hari ini sampai satu minggu ke depan." Jawab Seulgi sambil menangkap ponselnya, kemudian menghembuskan napasnya.

"Oke, langsung kerjain lo pada. Buruan!" Tekan Wendy yang membuat keduanya langsung turun.

"Iya anying, iya! Galak bener buset, udah kayak penjaga ujian aja!" Lisa mendengus.

"Gue panggilin Jennie juga!"

"Woy! Apa-apaan?!" Lisa mendongak tak percaya.

"Yaiya biar dia yang ngajarin lo, gue ngajarin ni beruang satu!" Wendy menunjuk Seulgi.

Himpunan | Jenlisa✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang