#10. Rapat Kerja

1.6K 164 3
                                        

▪︎▪︎▪︎

"Ini udah pada dateng semua belum?" Suara Sang ketua mengelilingi telinga mereka yang terdiam acak mengerubuninya.

Tak ada basa-basi yang harus Jennie ucapkan pada atasan seperti Irene atau Jisoo sekalian. Grup chat mereka yang Jennie matikan. Bahkan ketika kakak-kakak tingkatnya itu kembali dari tugas kkn, satu-satunya pertanyaan yang takkan sampai pada telinganya hanya suara Jennie. Sumpah demi bapak khong guan, Jennie tidak pernah main-main untuk merasa sebal.

Sekarang, hari itu telah tiba. Hari dimana kabar undangan yang telah sekretaris cetak dan disebar luas oleh anak humas. Jennie malas memprediksi siapa saja yang hendak datang. Dalam benaknya, yang akan datang, ya datang saja. Masukan yang berguna Jennie telan. Selebihnya bila hanya omong kosong, Jennie bungkus dalam tong sampah.

Sudah terlalu malas untuk mendebatkan hal yang tidak penting dengan para atasan. Prinsip Jennie sekarang, yang benar dia kerjakan, yang salah dia lawan. Toh, kepengurusan himpunan saat ini sudah berada dalam genggamannya. Tidak ada urusannya lagi dengan para alumni.

"Temen gue elah! Si Jihyo lama bener berasa otw dari neraka!" Yeri mengecek berulang kali handphonenya, sesekali dia akan memastikan di samping jalan.

Titik temu pengurus inti ini berada di depan gerbang kampus. Sekitar pukul 10 lebih 20 menit yang mana menunggu para anggota ngaret. Sepertinya, mau bagaimanapun Jennie mewanti-wanti agar tegas pada jadwal waktu, hambatan dalam lapangan tak bisa dihindari begitu saja. 5 menit berikutnya, akhirnya oknum yang ditunggu-tunggu datang.

"Guys, sorry guys jalanan macet!" Teriak Jihyo kemudian menepuk pundak pengendara--alias Si Daniel--untuk memberhentikan laju motornya.

Sedangkan bola mata Lisa mengikuti kemana roda motor vixion menggelinding. Mengamati begitu teliti dari seorang pemuda membukakan helm hingga perempuannya diusak. Seandainya tak Jennie keplak kepalanya, mungkin Lisa akan terus tertarik semakin jauh.

"Sadar!" Gubrahnya seolah-olah paham bahwa jiwa Lisa hampir hilang.

"Siap, sadar." Lisa menggaruk belakang telinganya, kemudian membantu instruksi yang kedua kali.

"Oke, Cuwi sama Jihyo udah datang ya. Coba diperiksa lagi kadep-wakadepnya masing-masing. Kalau udah lengkap bisa langsung masuk kendaraan yang udah disediakan."

Ada lima mobil yang berjajar di belakang. Sementara dalam hitungan terpisah, Jennie sengaja membawanya hanya agar dia dan Lisa dalam kendaraan berbeda. Bukan apa-apa, ada suatu hal yang pastinya harus mereka bahas tanpa campur tangan anak-anak. Sekalian mengulas dan mengkritik apa yang kurang belakangan ini. Lalu sisanya, seperti Jaehyun dan Johnny membawa motor besarnya masing-masing. Bukan karena slot kursi penuh, tapi memang dua budak itu banyak gaya saja.

Di samping pintu yang telah Jennie buka, kepalanya masih berputar demi mengabsen anak-anaknya aman dalam tampungan mobil. Setelah supir dari masing-masing mengacungkan jempol, barulah Jennie mengangguk. Dia masuk ke dalam diikuti Lisa dari samping.

"Jen, sebutkan satu hal yang menarik dari diri gue." Celetuknya secara tiba-tiba.

"Gaada." Tukas Jennie sambil memutar kunci dan menekan gas.

"Jujur banget lagi. Bisa nggak nih masih pagi bikin gue seneng sesekali." Lisa tersenyum pahit sambil mengenakan seatbelt.

"Udah siang."

"Gue belum sarapan loh."

"Yaudah."

Lisa menatap setengah wajah Jennie dengan helaan napas berat. "Jen!"

"Apa?!" Jennie balik menggeram.

"Galak banget! Gue belum makan!"

"Ya terus apa hubungannya sama gue?!"

Himpunan | Jenlisa✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang