#49. Do Not Interact

1.2K 137 3
                                        

▪︎▪︎▪︎

Pagi atau malam, hujan dan kemarau, panas maupun dingin. Tawa, amarah, dan kelelahan yang sudah diujung batas. Di penghujung bulan ini, rasanya segala hal bisa menjadi pemicu emosi yang meningkat. Jennie dan Rosè bahkan hampir berselisih bila mereka tak menundukan kepala masing-masing. Ketika dengan kekeuhnya Rosè meminta semua orang menyelesaikan sisa akhir, Jennie meminta untuk selesai saja. Dua kepala yang hampir bertubrukan itu untungnya bisa dileraikan.

Hari ini, sedari pukul 7 pagi, semua panitia sudah bergerak lebih sibuk. Saking sibuknya, ada sebagian yang belum sempat sarapan karena harus segera pergi ke arah desa. Dengan peralatan dan beberapa berkas yang ditenteng di tas masing-masing.

Sesampainya di sana, bahkan semua divisi sudah berpencar ke arah aktivitas masing-masing. Pemuda yang berlalu memantau jalanan dan pembuatan rak, termasuk saluran air dan kebersihan lingkungan. Sementara para pemudi berpecah pada perkebunan dan rumah produksi. Seperti biasa, Jennie melarang antek-antek Lisa memasuki ranah dapur--bahkan dia mengantipati wilayah rumah produksi agar tidak diinjak mereka. Dan seperti biasa, pada akhirnya Lisa serta antek-anteknya akan mangkal di ranah perkebunan. Duduk melihat para adik-adiknya sibuk bercengkrama dengan para penjaga di sana.

"Pengen balik ke Bandung." Lisa menopang dua tangannya untuk menyangga wajahnya sendiri.

"Sama." Wendy ikut mengerucutkan mulutnya.

"Lu kangen Bandung nggak?" Sinbi menyenggol lengan Seulgi.

"Kangen Irene."

"Alaaaaah!" Yang langsung dijitak gemas oleh Moonbyul. "Kangen apa kangen? Kemaren aja deket-deket Somi!"

"Guys, serius ya ini." Seulgi membetulkan posisi duduknya di atas kayu ini.

"Jangan dijawab guys, jangan." Wendy melambai, membuat Seulgi menghela napas.

"Wen, serius..."

"Mau serius sama gua?"

"Anying, yang bener ajalah lo berdua. Homo bener!" Celetuk Jeongyeon.

"HAHAHAHAHA ANJENG, HOMO TIMANA JUDULNA ANYING?!" Lisa tertawa puas sambil menepuki pahanya sendiri.

"Goblok lu!" Umpat Moonbyul tak habis pikir dengan rekannya itu.

"Gue mau nanya sama kalian susah amat ya. Gue nanya sama Allah aja dah." Seulgi mengusap wajahnya frustasi.

"Lu nanya sama Allah auto lu kena adzab duluan. Identitas lu terkuak Seulgi! Allah gasuka sama hambanya yang belok!" Tunjuk Sinbi sadis.

"HAHAHAHAHAHAHA!!!"

Istighfar sekali punya rekan-rekan seperti mereka. Tapi ya nggak salah juga sih. Seulgi bertanya pada Yang Maha Kuasa sudah cukup sadar diri. Sudah penuh dosa, melenceng kesana-kemari, yang ada sudah dipegat malaikat lebih dulu.

"Iya Gi iya, kenapa sayang?" Lisa mulai menengahi suasana. Kasihan juga sobatnya kena ulti melulu.

"Sebenernya alesan lo pada ceng-cengin gue sama Somi tuh apaan?"

"Jujur, lo nggak ngerasa?" Wendy merentangkan kedua tangannya. Menahan para rekannya yang lain untuk tidak menyerang lebih dulu.

"Ngerasa apaan sih? Sumpah, gue bener-bener nggak ngerti. Jujur." Seulgi mengacungkan dua jarinya ke atas dengan tampang serius.

Well, tidak aneh mengapa Irene selalu kesal dengan ketidak-pekaan satu beruang ini. Kebiasaannya yang selalu berlaku ramah pada kebanyakan orang, lantas berlandaskan pemikiran "semua adalah teman" membuat hidup Seulgi diambang masalah. Wendy saja terkadang sulit membedakan dimana letak Seulgi jatuh cinta dan biasa-biasa saja. Sebab memang kesehariannya wanita itu akan berlaku tenang dan menyenangkan. Terlalu lurus dan bodoamat, membuat Seulgi berakhir tak mengerti dengan apa yang telah ia lalui. Contohnya ya seperti saat ini.

Himpunan | Jenlisa✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang