▪︎▪︎▪︎
"Gurls, instruksi! Mendekat dulu!" Jennie melambai pada semua kelompok wanitanya agar mendekat ke arahnya.
Pagi-pagi sekali, sekitar jam 8 di hari minggu Jennie cukup kebingungan sebab yang membawa semua anggota hadir dimari adalah Sinbi dan Moonbyul. Dia yang tak tahu apa-apa sebelumnya harus dikagetkan dengan acara yang ternyata telah disiapkan oleh Moonbyul terkait perlombaan.
Entah bagaimana persiapannya, kapan pendataannya, Jennie yang terlalu sibuk mengurusi Seulgi akhir-akhir ini sampai ketinggalan berita bahwa kemarin anak-anaknya banyak bergerak sendirian tanpa perintahnya. Iya, tanpa perintahnya. Melainkan perintah Lisa.
Sekarang, berada di lapangan desa, mereka membentuk lingkaran untuk melakukan briefing sebelum kegiatan berlangsung. Dengan pimpinan Jennie, perempuan itu mengatakan berbagai kendala yang bisa saja terjadi. Seperti jika hujan datang, mereka mau tidak mau harus berhenti sejenak. Jennie tak lagi mengizinkan seperti kasusnya kemarin. Hujan-hujanan yang bisa saja menurunkan imun mereka maupun peserta.
"Kalau hujan langsung berhenti. Jangan ada yang maksain lagi. Karena sistem perlombaan ini cuma seru-seruan dengan anak-anak, gue pikir, ini bukan kesebut proker ya. Dan satu, mungkin gue sama Lisa gaakan terus diem di sini, kita ada janji sama Ibu-ibu buat pengarahan terkait produksian sesuatu yang bisa ningkatin keadaan ekonomi di sini. Jadi, gue pikir penanggung jawab acara ini tetep dari anak-anak Pengmas. Patuhin semua perintah dari Rosie." Tutur Jennie.
"Kalau Rosie suruh ujan-ujanan, patuhin jangan Jen?" Moonbyul bergurau sedikit.
"Suruh ujan-ujanan aja die sendiri." Lisa yang menjawabnya.
"Siap wakahim! Terlaksana!" Moonbyul menyimpan tangannya di dekat kepala dengan wajah tegas yang membuat Lisa tergelak.
"Yang di sini juga nggak semua kok Jen. Cuma pengurus inti, soalnya adek-adek mau pada ke kebun buat nata bunga di sana. Iya kan, Rin?" Rosè menoleh pada Karina.
"Iya Teh, betul." Karina mengangguk.
"Memangnya udah ada dapet perizinan dari pemilik kebunnya? Juga, propertinya udah pada siap?"
"Udah dong Teh. Ada ban bekas, ada botol-botol yang dicat, ada semua." Ryujin mengacungkan jempol.
"Gue nggak tahu loh tentang itu. Lo tahu?" Jennie mengadu pada Lisa.
"Tau. Yang ngawal kan gue. Aman pokoknya!" Lisa mengangguk.
"Yaudah, udah paham semuanya?" Jennie menyerahkannya saja.
"Paham." Jawab semuanya.
"Oke, silahkan dilanjutkan aktivitas masing-masingnya. Semangat!" Jennie bertepuk-tangan.
"YUHUUUUUU!!!" Jihyo ikut bertepuk tangan heboh. "DAH LAMA GAK OLAHRAGA NIH, GOYANG DOMBRET JOY!"
Mendengarnya, Jennie hanya bisa bergeleng-geleng. Jihyo bahkan tidak membutuhkan pengeras suara untuk berbicara. Dia memilik pita suara seperti sapi yang bisa mencakup seluruh kawasan ini diraup olehnya.
Kini, dia dan Lisa berjalan untuk menemui salah satu rumah warga yang menjadi tempat pertemuan rapatnya.
"Jen, menurut lo kita bakal berhasil capai indikator keberhasilannya nggak?" Tanya Lisa di perjalanan.
"Bisa lah. Menurut pendataan semalam, kita itu udah capai di 85%." Jennie mengangguk.
"Widih, kenceng bener ya." Lisa tersenyum bahagia. Jelas lah, siapa yang nggak bahagia prokernya berhasil.
"Capek nggak?" Jennie menoleh.
"Kalau ditanya itu, semua anggota pasti bakal jawab capek. Tapi semua rasa capek itu kadang selalu terbayar dengan bentuk-bentuk kebahagiaan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Himpunan | Jenlisa✔
Fanfiction(+) OT GEN3 "Mau nggak, membina hima bareng gue?" - Jennie. "Maunya membina rumah tangga bareng lo." - Lisa. ©️Kanayaruna, 2023 Notes: bacanya di rumah aja, bahaya kalau dibawa-bawa keluar. Bisa disangka orang gila.
