▪︎▪︎▪︎
Jennie berbohong. Kenyataannya bukan tiga hari Lisa menemukannya masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tapi dokter bilang dia harus lebih lama sebab tubuhnya butuh cairan yang lebih menyokong.
"Jangan marah, besok gue udah sembuh." Adalah kalimat yang selalu Jennie gendong tiap kali Lisa bermalam dan mengucapnya disaat mereka hendak tidur.
Namun kenyataannya, keesokan harinya perempuan itu masih sering batuk-batuk dan bersin tiada henti. Wajahnya memang lebih baik dari sebelumnya, tapi jidatnya masih terasa hangat. Dan pucat lesu bibir, serta lekung matanya sayu sekali. Yakni tenaganya yang selalu rindukan untuk misuh-misuh, masih tak hadir.
Sampai saat ini, bulan sudah berganti dan tepat di tanggal 1 Oktober Jennie masih berbaring tak karuan. Kedatangan Lisa dari 5 menit yang lalu membuatnya berhenti melamun dan kembali menyapa gadis yang menggendong ransel dengan wajah menekuk.
Lisa selalu datang begitu. Entah dia yang ngomel-ngomel kalau anak-anak terlalu ribut, tugas kuliah menumpuk, lalu berakhir mengumpati proker yang sulit selesainya. Dan selalu diakhiri bahwa dia merindukan dan membutuhkannya, sebab hanya dirinya yang bisa mengendalikan keadaan himpunan sebaik-baiknya.
"Gue baru aja baca grup, kenapa lo kesini lagi? Bukannya siap-siap pergi pelantikan." Ungkap Jennie. Kemudian menepuk kepala Lisa yang tergolek di sisi tubuhnya.
"Males gue, sumpah."
"Kok gitu?"
"Nggak ada lo. Gak seru!"
Jennie tergelak gemas. "Gak ada gue bukan alesan lo jadi gak professional gini ya. Lagian, bukannya lo seneng kalau gaada gue? Gaada yang marah-marah lagi tuh."
"Kapan gue bilang begitu?" Lisa mendongak tak terima. Tapi Jennie menusuk pipinya dengan telunjuk sembari tertawa pelan.
"Nggak bilang, gue sendiri yang nebak."
"Overthinking lo udah keluar batas." Lisa mendengus.
"Ini udah jam 3, jam 4 kalian harus udah ada di sana. Cepet siap-siap, sayang." Gumam Jennie sambil merapikan anak poni Lisa.
"Lo mau titip siapa yang harus gue marahin?" Celetuk Lisa.
"Gue nggak kenal muka-muka maba. Jadi, marahin aja semuanya. Apalagi waktu ospek jurusan kemarin, yang macem-macem abisin aja."
"Gue nemu anak yang mukanya calon-calon ketua loh Jen." Tukas Lisa mulai serius, dia membenahi posisi duduknya.
"Siapa?"
"Minji, namanya."
"Coba lo incar dia."
Lisa langsung mengacungkan jempol dengan senyum merekah. "Gue juga mau coba test Yeji sama Karina. Rumornya mereka berdua mau naik setelah lo turun."
"Wih, gue emang yakin sih dari awal sama tuh anak berdua." Jennie manggut-manggut.
"Lo lebih suka Karina apa Yeji kalau hima nanti dipegang mereka?"
"Yeji."
"Kenapa?"
"Karina itu kayak Wendy. Dia kalaupun mau naik cocoknya jadi wakahim. Dia tuh lebih pake perasaan ketimbang logika."
"Kayak lo dong?" Yang langsung Jennie cubit lengannya.
"Kapan gue pake perasaan?!"
"Ke gue, hahahaha!"
"Bangsat!" Jennie mendelik malas.
"WHAHAHAHAHA BANGSATNYA KELUAR EIY!" Lisa makin bersemangat. "NAH, GINI DONG JEN! GUE KAN GAK KHAWATIR NINGGALINNYA KALO LO UDAH BISA NGUMPAT LAGI!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Himpunan | Jenlisa✔
Fanfiction(+) OT GEN3 "Mau nggak, membina hima bareng gue?" - Jennie. "Maunya membina rumah tangga bareng lo." - Lisa. ©️Kanayaruna, 2023 Notes: bacanya di rumah aja, bahaya kalau dibawa-bawa keluar. Bisa disangka orang gila.
